Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

SD Gwangju Jungang Hanya Terima 1 Murid Baru di Tengah Krisis Populasi Korea Selatan

Sanchia Vaneka • Minggu, 23 Maret 2025 | 20:52 WIB

Photo
Photo

Lombok Post-Sekolah Dasar (SD) Gwangju Jungang di Korea Selatan mengalami situasi yang memprihatinkan pada tahun ajaran baru ini.

Sekolah yang terletak di kota Gwangju tersebut hanya menerima satu murid baru, yaitu Shim Eui-jun.

Hal ini terjadi akibat penurunan angka kelahiran yang drastis di Korea Selatan dalam beberapa tahun terakhir.

Meskipun hanya memiliki satu murid baru, SD Gwangju Jungang tetap mengadakan upacara penerimaan siswa baru pada tanggal 4 Maret 2025.

Upacara tersebut dihadiri oleh pejabat sekolah, orang tua Shim Eui-jun, dan para guru.

Sekolah juga tetap menyambut Shim Eui-jun dengan hangat dan penuh perhatian, meskipun jumlah muridnya sangat sedikit.

Fenomena yang dialami oleh SD Gwangju Jungang ini merupakan salah satu dampak dari krisis populasi yang sedang dihadapi oleh Korea Selatan.

Angka kelahiran di negara tersebut terus menurun dalam beberapa tahun terakhir, dan saat ini menjadi salah satu yang terendah di dunia.

Pemerintah Korea Selatan telah mengambil berbagai langkah untuk mengatasi krisis populasi ini, seperti memberikan insentif kepada pasangan yang memiliki anak dan meningkatkan fasilitas penitipan anak.

Namun, upaya-upaya tersebut belum membuahkan hasil yang signifikan.

Krisis populasi ini memiliki dampak yang luas bagi Korea Selatan, termasuk penurunan jumlah angkatan kerja.

Hal ini dapat menghambat pertumbuhan ekonomi negara.

Peningkatan jumlah lansia.

Hal ini dapat membebani sistem jaminan sosial negara. 

Penurunan jumlah siswa yang dapat menyebabkan penutupan sekolah-sekolah di daerah pedesaan.

SD Gwangju Jungang sendiri telah berupaya untuk menarik siswa baru dengan berbagai cara, seperti menyediakan perlengkapan belajar secara mandiri dan menggalang dana beasiswa dengan dukungan dari asosiasi alumni.

Namun, upaya-upaya tersebut belum membuahkan hasil yang signifikan.

Sekolah yang pertama kali dibuka pada tahun 1907 ini terus berjuang untuk mempertahankan eksistensinya di tengah krisis populasi yang melanda Korea Selatan. (chi/r6) 

Editor : Prihadi Zoldic
#Korea Selatan