Maklum saja, beberapa hari kemarin tumpukan sampah di beberapa Tempat Pembungan Sementara (TPS) tak dapat diangkut karena problem gagalnya Pemkot Mataram membuat sampah ke TPA Kebon Kongok Lombok Barat.
Walaupun Gubernur NTB H Lalu Muhamad Iqbal telah memanggil Bupati Lombok Barat dan telah dicapai kesepakatan jika Pemkot dapat membuang sampah di lahan sewa yang ada di Lombok Barat, namun persoalan sampah di Kota Mataram belum tuntas sepenuhnya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram Nizar Denny Cahyadi sempat mengatakan, gagalnya Pemkot membuang sampah di TPA Kebon Kongok Lombok Barat membuat sampah-sampah di pembuangan sampah (TPS) mengendap.
Bahkan Kota Mataram sempat mengalami darurat sampah karena sampah terus berdatangan membuat TPS over loud, salah satunya di TPS Sanubaya.
"Kondisi TPS Sanubaya saat ini sudah hampir penuh, bahkan sudah mulai keluar dari areal TPS karena volumenya sudah mencapai 1.500 ton," ungkap Denny Senin (5/5) lalu.
Celakanya, sampah bahkan meluap hingga ke lahan perusahaan lainnya milik PT Pade Angen, yang berada tepat disamping TPS.
Tak hanya meluap, karena mengendap berhari-hari, sampah-sampah warga Mataram yang ada disejumlah TPS pun mulai mengeluarkan aroma busuk. Sehingga siapa pun yang melewatinya, akan merasakan bau yang menyengat.
Hal ini pun terjadi TPS Lewata Gomong. Seperti diketahui Lewata merupakan wilayah yang padat pemukiman, bahkan wilayah ini dikelilingi sejumlah sekolah dan PLK yang menjual makanan dan minuman.
Yang menarik adalah, TPS ini juga berdampingan dengan Lapangan Atletik, lapangan olahraga yang dibangun oleh Pemkot Mataram.
Jadi TPS Lewata aktif digunakan oleh warga sekitar, namun aroma yang ditimbulkan sangat mengganggu kegiatan olahraga di lapangan atletik dan juga belajar mengajar di lingkup sekolah yang berada dekat dengan TPS.
Tak heran jika keberadaan TPS Lewata juga sempat menjadi isu kurang sedap karena dianggap kurang strategis dan menyebabkan masalah lingkungan.
Pasalnya, selain menimbulkan aroma busuk, tumpukan sampah dapat menjadi tempat berkembang biak bagi berbagai mikroorganisme patogen seperti bakteri, virus, dan jamur.
Hal itu pun mulai dikeluhkan masyarakat Lewata. Seorang tokoh masyarakat Lingkungan Lawata, H Abdurrahman HIS mengaku, masyarakat sekitar TPS sudah tidak tahan dengan aroma busuk yang menyengat.
"Warga Lingkungan Lawata bertahun-tahun diliputi pemandangan tumpukan sampah yang sepanjang hari selalu menebar aroma bau busuk," ungkap Abdurrahman.
Belum lagi warga yang melintasi jalur itu kerap disuguhi aroma tak sedap akibat tumpukan sampah yang berhari-hari meski petugas melakukan pengangkutan sesuai jadwal yang ditentukan.
Kekhawatiran lain yang dialami warga lingkungan Lawata saat ini, tambah Abdurrahkan, adalah wabah demam berdarah yang mengancam kesehatan warga sekitar.
Karena tumpukan sampah menjadi tempat berkembang biak berbagai hama seperti tikus, kecoa, nyamuk.dan lalat yang dapat menyebarkan penyakit berbahaya seperti demam berdarah, malaria dan penyakit lain.
Belum lagi kekhawatiran warga jika sampah menumpuk itu akan menimbulkan pencemaran air dan tanah ketika hujan turun.
Dan juga pencemaran udara yang ditimbulkannya karena sampah organik yang terurai menghasilkan gas metana dan belerang dioksida yang bisa menyebabkan masalah kesehatan seperti gangguan pernapasan.
Sedangkan dampak psikologis bagi warga masyarakat adalah lingkungan yang kotor dan tidak sehat akibat tumpukan sampah dapat menyebabkan stres, kecemasan, dan depresi pada penduduk di sekitarnya, yang dapat mempengaruhi kesejahteraan mental warga sekitar.
"Itu sebabnya kami telah sampaikan kepada Kepala Lingkungan agar sampah-sampah di TPS Lewata tidak terlalu lama dibiarkan menumpuk," harap Abdurrahman.
Bicara persoalan sampah di Kota Mataram, Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal pum turun tangan.
Baca Juga: Sampah di TPA Kebon Kengok Overload, Pemprov NTB Segera Sulap Jadi Energi Terbarukan
Sebelumnya Gubernur telah mengupayakan menyiapkan TPS sementara buntut over kapasitas yang terjadi di TPA Kebon Kongok, sehingga Pemkot Mataram tak bisa membuang sampah ke tempat tersebut.
Dalam rapat yang digelar bersama Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini dan Asisten I Kota Mataram Lalu Martawang, Gubernur NTB mengatakan kapasitas pembuangan sampah di TPA Kebon Kongok sudah habis
"Makanya kami perlu solusi jangka pendek, menengah dan jangka panjang. Kami sepakat solusi jangka pendek bahwa kami sudah dapatkan lokasi baru untuk tempat pembuangan sementara (TPS) 3-4 bulan ke depan," kata Gubernur NTB Senin (5/5/2025).
Gubernur NTB mengaku penyiapan lokasi TPS sementara itu berada di dekat TPA Kebon Kongok. Sembari menyelesaikan landfill 2B di TPA Kebon Kongok, nanti tempat yang baru akan dihentikan.
Yang menarik adalah ide Gubernur NTB yang akan membangun pabrik pengolahan sampah jadi listrik di TPA Kebon Kongok. Pabrik ini nantinya mampu mengolah sampah 30 ton per hari. Sampah yang diolah akan diubah menjadi listrik yang disimpan di PLTU Jeranjang.
Guna merealisasikan rencana ini, Pemprov NTB akan bekerja sama dengan PT Energi Vertikal Indonesia (EVI). Bahkan Gubernur NTB bertindak gerak cepat agar pabrik untuk mengolah sampah jadi energi listrik di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kebon Kongok segera terwujud.
Mewakili Pemprov NTB, Asisten I, Lalu Moh Faozal mengatakan kontrak kerjasama dengan PT EVI dengan Pemprov hampir final, karena lontrak kerjasama itu masih tahap revisi.
"Sudah hampir final. Ada surat perubahan tarif listrik yang awal 450 per KWH. Karena perda berubah ada kenaikan tarif," kata Faozal, Jumat (9/5/2025).
Kontrak kerja sama antara Pemprov NTB dengan PT EVI dalam pengelolaan sampah jadi listrik di TPA Kebon Kongok masih dalam pembahasan dengan kantor pusat. Pemprov berharap kontrak itu sampung minggu depan agar bisa segera beroperasi.
Rencananya pabrik pengolahan sampah jadi listrik di TPA Kebon Kongok mampu mengolah sampah 30 ton per hari. Sampah yang diolah akan diubah menjadi listrik yang disimpan di PLTU Jeranjang
Sebelum pabrik beroperasi, Pemprov NTB akan menyiapkan lokasi tempat pembuangan sementara (TPS) seluas 5 are di dekat TPA Kebon Kongok.
"Sementara nanti sampah dibuang ke sana. Sambil menunggu pengoperasian pabrik ini," ungkap Faozal.
Editor : Siti Aeny Maryam