LombokPost-- Praktik poliandri, di mana seorang wanita menikahi beberapa pria (biasanya bersaudara), memang pernah menjadi tradisi di pedesaan Tibet.
Namun, klaim bahwa wanita Tibet "melayani" suami secara bergiliran setiap malam dinilai berlebihan.
Faktanya, praktik ini lebih berkaitan dengan kelangsungan ekonomi keluarga daripada kepercayaan mistis.
Baca Juga: Viral Pernikahan Anak di Lombok Tengah, Menkes Budi Imbau Tunda Kehamilan
Akar Tradisi Poliandri di Tibet
Poliandri di Tibet terlebih dahulu dipraktikkan untuk:
- Menjaga sumber daya keluarga – Dengan menghindari pembagian lahan warisan.
- Mendukung kebutuhan tenaga kerja – Beberapa suami bekerja bersama untuk mempertahankan perekonomian rumah tangga.
Meski demikian, tidak ada bukti bahwa poliandri diyakini membawa "rezeki lebih", seperti yang beredar di beberapa klaim.
Baca Juga: Tak Disangka, Ini Pernyataan TGB soal Merarik Kodeq Pernikahan Anak
Kesetaraan dalam Pernikahan Poliandri
Sumber lokal menyebutkan bahwa istri memperlakukan semua suami secara setara, tanpa jadwal tetap. Namun praktik ini juga menuai kritik karena:
-
Keterbatasan pilihan bagi wanita – Beberapa poliandri pernikahan diatur keluarga tanpa persetujuan penuh perempuan.
-
Perubahan sosial modern – Generasi muda Tibet mulai meninggalkan tradisi ini seiring globalisasi dan pembaruan hukum.
Poliandri di Tibet Saat Ini
Seiring perkembangan zaman, praktik poliandri semakin berkurang.
Pemerintah Tiongkok juga menerapkan hukum perkawinan monogami, meskipun di beberapa daerah terpencil masih mempertahankan tradisi ini.
Meski poliandri pernah menjadi solusi ekonomi di Tibet, narasi yang menyebut sebagai "sumber rezeki" atau memiliki aturan ketat dalam hubungan suami-istri perlu diklarifikasi.
Baca Juga: Viral Pernikahan Anak, Tidak Hanya Ancam Kesehatan tapi Picu Masalah Kemiskinan Baru
Faktanya, tradisi ini lebih tentang bertahan hidup di lingkungan keras pegunungan Tibet. ***
Editor : Kimda Farida