Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Siapa dr Tan Shot Yen? Dokter Gizi Lulusan Filsafat yang Berani 'Semprot' Program MBG di Depan DPR

Fratama P. • Kamis, 25 September 2025 | 18:43 WIB
Sosok dr. Tan Shot Yen
Sosok dr. Tan Shot Yen

LombokPost - Nama dr. Tan Shot Yen mendadak menjadi pusat perhatian publik setelah ia dengan berani melontarkan kritik tajam terhadap program unggulan Presiden Prabowo Subianto, yakni Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kritik Tan Shot Yen tersebut disampaikan langsung di hadapan anggota Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) pada Senin, 22 September 2025, dalam sesi audiensi yang melibatkan Gerakan Kesehatan Ibu dan Anak (GKIA) dan sejumlah organisasi lainnya.

Dokter Tan Shot Yen secara lantang mempertanyakan konsep menu MBG yang dinilainya keliru secara substansi dan berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan anak-anak di Indonesia.

Keberanian dr. Tan Shot Yen menantang kebijakan strategis pemerintah ini sontak memunculkan pertanyaan publik mengenai sosok di balik kritik tersebut.

Latar Belakang Pendidikan dan Karier dr. Tan Shot Yen

Lahir di Beijing, Tiongkok, pada 17 September 1964, dr. Tan Shot Yen bukanlah pendatang baru dalam diskursus kesehatan dan gizi di Tanah Air.

dr. Tan Shot Yen dikenal sebagai sosok yang multi-talenta: seorang dokter, ahli gizi masyarakat, penulis produktif, sekaligus seorang intelektual publik yang vokal menyuarakan isu-isu kesehatan.

Jalur akademisnya dimulai di Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanegara dari tahun 1983 hingga 1990.

Setelah meraih gelar dokter, dr. Tan Shot Yen memperkuat kompetensinya dengan mengikuti program Profesi Kedokteran Negara di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) pada 1991.

Rasa ingin tahunya yang tinggi kemudian membawanya ke kancah internasional untuk mendalami ilmu, termasuk di bidang instructional physiotherapy di Perth, Australia (1992), dan meraih diploma Penyakit Menular Seksual serta HIV-AIDS di Thailand (1996).

Menariknya, di tengah kesibukan profesionalnya di bidang medis, dr. Tan Shot Yen juga mengejar studi di ranah humaniora.

dr. Tan Shot Yen berhasil menyelesaikan pendidikan pascasarjana di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta, pada tahun 2009.

Latar belakang filsafat ini memberinya perspektif yang unik dan mendalam, memungkinkan dr. Tan Shot Yen menganalisis masalah kesehatan dari sudut pandang kemanusiaan yang lebih luas.

Dalam karier profesionalnya, dr. Tan Shot Yen secara konsisten berfokus pada edukasi publik mengenai pentingnya pola makan sehat yang berbasis pada pemanfaatan kekayaan pangan lokal.

dr. Tan Shot Yen merupakan wajah yang sering terlihat di berbagai forum ilmiah, diskusi, dan media massa.

Selain aktif sebagai kolumnis kesehatan di harian Kompas, dr. Tan Shot Yen juga telah melahirkan sejumlah buku bestseller yang berfokus pada isu gizi.

Kritik Mendalam terhadap Menu Program MBG

Dalam audiensi di DPR, dr. Tan Shot Yen menyoroti dua poin utama yang menjadi fondasi kritiknya.

dr. Tan Shot Yen secara spesifik menentang wacana pengadaan menu MBG yang mencakup makanan seperti burger dan spageti.

Menurutnya, menu-menu tersebut merupakan contoh dari makanan ultra-olahan (ultra-processed food) yang justru bertentangan dengan tujuan utama program untuk meningkatkan gizi anak.

dr. Tan Shot Yen berpendapat bahwa program ini seharusnya menjadi sarana untuk memamerkan dan mempromosikan kekayaan pangan lokal Indonesia yang terbukti lebih bergizi.

"Menu MBG seharusnya mengedepankan pangan lokal yang kaya gizi, seperti kapurung di Sulawesi atau ikan kuah asam di Papua, bukan makanan berbasis tepung terigu yang bahkan tidak tumbuh di Indonesia," tegasnya.

Selain kritik terhadap pilihan menu, dr. Tan Shot Yen juga mengingatkan pemerintah akan pentingnya keamanan pangan (food safety).

dr. Tan Shot Yen menekankan bahwa dalam program penyediaan makanan massal, risiko berkembangnya bakteri berbahaya sangat tinggi, terutama pada makanan yang suhunya telah turun di bawah 60 derajat Celcius.

Peringatan dr. Tan Shot Yen ini menyoroti perlunya perhatian serius terhadap manajemen dan proses penyediaan makanan berskala besar agar program tidak justru membawa risiko kesehatan bagi anak-anak Indonesia.***

Editor : Fratama P.
#makan gratis #Mbg #tan shot yen