Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Nisfu Sya’ban: Malam Ampunan Terbuka Lebar, tapi Dua Golongan Ini Justru Terhalang

Marthadi • Minggu, 1 Februari 2026 | 18:56 WIB

Ilustrasi Nisfu Sya
Ilustrasi Nisfu Sya
LombokPost - Malam Nisfu Sya’ban diyakini sebagai salah satu malam penuh rahmat dan ampunan Allah SWT.

Namun, di balik terbukanya pintu ampunan seluas-luasnya, ada dua golongan yang justru terhalang. Apa sebabnya?

Malam Nisfu Sya’ban merupakan malam pertengahan bulan Sya’ban yang oleh banyak ulama dipandang sebagai momentum istimewa bagi umat Islam untuk melakukan introspeksi diri dan memperbaiki hubungan dengan Allah SWT serta sesama manusia.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Ibnu Majah, Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah SWT memperhatikan seluruh makhluk-Nya pada malam pertengahan bulan Sya’ban, lalu mengampuni semua hamba-Nya, kecuali mereka yang berbuat syirik dan mereka yang menyimpan permusuhan di dalam hati.

Hadis tersebut menegaskan bahwa pada malam Nisfu Sya’ban, pintu ampunan Allah SWT terbuka sangat luas. Namun, ampunan itu tidak diberikan kepada dua golongan, yakni orang yang menyekutukan Allah dan orang yang hatinya dipenuhi rasa dendam, iri, dan kebencian.

Menurut Dr. TGH. Muharrar Iqbal, MA, pengasuh Yayasan Insan Kamil Kediri Selatan, Lombok Barat, pesan utama dari Nisfu Sya’ban adalah pentingnya menjaga kemurnian tauhid dan kebersihan hati, bukan semata-mata banyaknya amalan ritual.

“Seseorang bisa rajin shalat dan puasa, tetapi jika masih memelihara permusuhan, maka ia sendiri yang menutup pintu rahmat Allah,” ujarnya.

Ia menambahkan, malam Nisfu Sya’ban juga menjadi waktu yang sangat tepat untuk bertaubat. Taubat sejati bukan hanya ucapan di lisan, melainkan penyesalan yang mendalam di hati serta tekad kuat untuk memperbaiki diri.

Karena Sya’ban merupakan bulan sebelum Ramadan, mereka yang mampu membersihkan hati dan memperbaiki diri sejak Sya’ban akan memasuki Ramadan dengan kesiapan iman yang lebih kuat.

Di kalangan ulama dan masyarakat pesantren, malam Nisfu Sya’ban kerap diisi dengan berbagai amalan seperti memperbanyak doa, istighfar, shalawat, membaca Alquran, serta muhasabah diri. Namun, semua amalan tersebut tidak bersifat wajib, melainkan ikhtiar personal untuk mendekatkan diri kepada Allah sesuai kemampuan masing-masing.

“Yang paling penting bukanlah ramainya amalan, tetapi perubahan sikap setelah Nisfu Sya’ban. Apakah kita menjadi lebih rajin shalat, lebih lembut kepada sesama, lebih jujur, dan lebih takut berbuat dosa,” jelasnya.

Ia mengajak umat Islam menjadikan malam Nisfu Sya’ban sebagai malam memohon ampunan, membersihkan hati dari dendam, serta menata niat menyambut bulan suci Ramadan.

Editor : Marthadi
#menyambut ramadan #Ampunan Allah SWT #keutamaan nisfu syaban #malam nisfu syaban #Hadis Nisfu Syaban