LombokPost - Di era digital, membawa mushaf Al-Qur’an kini semudah mengantongi ponsel. Namun, kemudahan ini membawa tantangan tersendiri: bagaimana menjaga kekhusyukan di tengah gempuran notifikasi?
Pengasuh Kajian Tahsin Quran Online Muhammadiyah, Drs. H. Nurbini, MSI, membagikan tiga etika praktis untuk menjaga hurmah (kehormatan) Al-Qur’an saat menggunakan mushaf digital.
Menurut Nurbini, ponsel hanyalah alat yang harus dioptimalkan untuk meningkatkan spiritualitas. Berikut adalah panduan etika agar interaksi kita dengan kalamullah tetap terjaga kualitasnya.
- Aktifkan Mode Pesawat: "Wudu Mental" di Dunia Digital
Etika paling krusial adalah memutus koneksi internet sementara. Mengaktifkan flight mode bukan sekadar teknis, melainkan bentuk "wudu mental" sebuah langkah hijrah dari kebisingan dunia online menuju hadirat Ilahi.
"Dengan memutus koneksi, kita menunjukkan bahwa waktu ini adalah milik Allah sepenuhnya, bebas dari gangguan pesan atau media sosial," jelas Nurbini.
- Menjaga Sikap Tubuh (Tajdid Sikap)
Meskipun tidak ada kewajiban mutlak untuk berwudu saat memegang ponsel (berbeda dengan mushaf fisik), menjaga kesucian tetap sangat dianjurkan. Nurbini menekankan pentingnya:
Berpakaian sopan dan memilih tempat yang layak. Menghindari membaca di tempat yang tidak patut seperti kamar mandi.
Tidak meletakkan ponsel di tempat yang terlalu rendah saat aplikasi Al-Qur’an masih terbuka. Perlakuan kita terhadap perangkat harus mencerminkan penghormatan terhadap firman suci yang sedang ditampilkan di layarnya.
- Membuat "Zona Waktu Khusus"
Fokus adalah kunci. Nurbini menyarankan alokasi waktu khusus, meskipun hanya 15 menit, di tempat yang tenang. Ini adalah bentuk manajemen risiko spiritual untuk memastikan kita benar-benar hadir secara utuh (khusyuk) saat berinteraksi dengan ayat-ayat Allah.
Menerapkan Islam Berkemajuan lewat Teknologi
Bagi masyarakat Muslim, khususnya dalam semangat Islam Berkemajuan, kemampuan mengelola distraksi adalah cerminan kemajuan spiritualitas. Ponsel seharusnya tidak hanya menjadi jendela untuk melihat dunia, tetapi juga gerbang yang tenang untuk menghayati kalamullah.
"Kita beribadah dengan berkemajuan dalam etika, tajdid (pembaruan) dalam metode, dan kuat dalam spiritualitas," pungkas Nurbini.
Dengan menerapkan langkah sederhana seperti mengatur mode pesawat hari ini, kita diajak untuk merasakan kehadiran hati yang lebih utuh. Mari jadikan gadget kita sebagai sarana menuju takwa, bukan sekadar sumber distraksi harian.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin