LombokPost - Di ujung bulan Syakban, Lombok seperti berjalan dalam dua suasana sekaligus: hening doa di pusara dan riuh tawa di tepi pantai. Tradisi ini dikenal dengan bersin puasa dalam menyambut bulan Ramadan.
Menjelang Ramadan, ribuan warga memadati kompleks pemakaman keluarga untuk berziarah, menabur bunga, dan memanjatkan doa bagi leluhur.
Di saat yang sama, destinasi wisata seperti Pantai Senggigi, Loang Baloq dan lainnya dipenuhi keluarga yang ingin menikmati kebersamaan sebelum memasuki bulan puasa. Dua tradisi bersin puasa ini bertemu dalam satu momentum: menyambut Ramadan.
Pengunjung Melonjak
Kawasan Wisata Religi Makam Loang Baloq dan Taman Hiburan Rakyat (THR) Pantai Loang Baloq di Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram menjadi salah satu tujuan masyarakat untuk bersin puasa. Kunjungan menjelang Ramadan bisa mencapai ribuan orang.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pantai Loang Baloq Tamrin mengungkapkan, peningkatan kunjungan sudah mulai terasa signifikan pada pekan terakhir sebelum Ramadan. Menurutnya, keramaian ini didorong oleh tradisi lokal yang dikenal dengan istilah Minggu Akhir dan Rabu Akhir.
“Kondisi pra-Ramadan tahun ini kunjungan cukup tinggi. Hal ini tidak lepas dari kebiasaan masyarakat kita yang memanfaatkan momen hari-hari terakhir sebelum puasa untuk berkumpul dan berwisata,” kata Tamrin.
Berdasarkan pantauan di lapangan, arus pengunjung tidak hanya terpusat pada satu titik. Tamrin menjelaskan terdapat korelasi kuat antara kunjungan ke Makam Keramat Loang Baloq dengan area Taman Wisata atau Pantai. Rata-rata pengunjung datang dari berbagai kabupaten/kota di NTB.
Data tiket masuk menunjukkan angka yang fantastis. Dalam satu hari, jumlah pengunjung yang datang sejak pagi hingga menjelang matahari terbenam (sunset) bisa mencapai angka ratusan hingga ribuan orang.
“Kalau dilihat dari tiket yang terjual, bisa sampai ratusan bahkan ribuan orang per hari, terutama saat puncak kunjungan jelang puasa,” tambahnya.
Meski tidak ada penambahan fasilitas atau wahana hiburan baru di tahun ini, daya tarik Loang Baloq tetap magnetis karena nilai tradisinya. Masyarakat setempat merasa belum lengkap menyambut Ramadhan tanpa melakukan ritual ziarah ke makam para ulama, yang kemudian dilanjutkan dengan makan bersama atau sekadar menikmati angin laut di pinggir pantai.
Sisi religius kawasan ini berpusat pada Makam Loang Baloq. Di tempat ini, bersemayam jasad ulama besar, salah satunya adalah Syekh Gaus Abdul Razak. Beliau merupakan tokoh agama yang diyakini sebagai penyebar agama Islam di Pulau Lombok pada masa lampau.
Para peziarah biasanya datang untuk memanjatkan doa, melakukan tradisi ngalap berkah, hingga ritual memotong rambut bayi atau menebus nazar (janji) di sekitar area makam yang teduh oleh pohon-pohon besar.
Bukan Sekadar Ritual Tahunan
Di antara para peziarah, tampak Masmuah, warga Kota Mataram yang datang bersama anggota keluarganya. Ia mengaku nyekar menjelang Ramadan sudah menjadi tradisi turun-temurun dalam keluarganya.
Mereka terlihat kompak membersihkan area makam, dengan membawa sapu lidi dan peralatan kebersihan lainnya. Rumput liar disingkirkan, sampah dikumpulkan, dan batu nisan dibersihkan dengan air. “Kalau jelang puasa begini memang tradisinya nyekar ke makam orang tua. Sekalian bersih-bersih juga,” ujarnya.
Menurutnya, tradisi nyekar menjelang Ramadan bagi masyarakat Mataram bukan sekadar ritual tahunan, melainkan momentum refleksi dan pengingat akan kematian. Tak hanya saat menjelang Ramadan, tradisi nyekar juga dilakukan saat hari lebaran Idul Fitri.
Hal itu pula yang dilakukan Farah Ghinan, seorang wiraswasta yang menjadikan liburan jelang Ramadan sebagai agenda rutin setiap tahun. Farah menuturkan, ia biasanya bepergian bersama teman-teman dekatnya. Liburan dilakukan dalam kelompok kecil, bukan rombongan besar, agar suasana tetap nyaman dan lebih intim.
“Biasanya bersama teman-teman, private saja, tidak rombongan besar. Paling sekitar tiga orang,” ujar wanita 31 tahun tersebut.
Menurutnya, memilih waktu jelang Ramadan untuk berlibur bukan tanpa alasan. Ada suasana berbeda yang dirasakan, ketika bepergian sebelum memasuki bulan puasa.
Bahkan, kegiatan tersebut sudah menjadi agenda tahunan yang selalu dinantikan. “Karena biar lebih berasa vibes-nya. Sebelum Ramadan memang sudah menjadi agenda untuk pergi berlibur sebelum menunaikan ibadah sebulan penuh,” jelasnya.
Bagi Farah, liburan jelang Ramadan memiliki makna lebih dari sekadar bersenang-senang. Ada nilai refleksi dan persiapan diri yang ingin ia capai.
“Lebih kepada pembersihan dan closing saja sebelum Ramadan. Jadi semacam penutup sebelum masuk ke bulan yang lebih khusyuk,” katanya.
Tak hanya itu, momen ini juga menjadi ajang quality time bersama orang terdekat sebelum aktivitas ibadah menjadi lebih padat. (rur/chi/yun/r3)
Editor : Kimda Farida