Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Puasa: Latihan Kejujuran dan Kendali Diri, Puasa Ramadan Diwajibkan Mulai Tahun Ke-2 Hijriah

Lombok Post Online • Selasa, 24 Februari 2026 | 08:41 WIB

Oleh : Dr TGH.Muharrar Iqbal,MA (Pengasuh Yayasan Insan Kamil Kediri Selatan)
Oleh : Dr TGH.Muharrar Iqbal,MA (Pengasuh Yayasan Insan Kamil Kediri Selatan)

LombokPost - “Manusia memiliki kebebasan bertindak untuk memilih dan memilah aktivitasnya, termasuk dalam hal ini, makan, minum, dan berhubungan seks. Puasa Ramadan merupakan ibadah yang sarat dengan nilai pendidikan moral dan spiritual” (Prof Dr H Muhammad Quraish Shihab).

Prof Dr H Muhammad Quraish Shihab salah seorang ahli tafsir indonesia kenamaan. Dalam bukunya Wawasan Alquran: Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat (2000) menyebut bahwa seseorang dapat bertanya mengapa puasa menjadi kewajiban bagi umat-umat terdahulu dan umat Islam hingga kini?

Manusia memiliki kebebasan bertindak untuk memilih dan memilah aktivitasnya, termasuk dalam hal ini, makan, minum, dan berhubungan seks. Puasa Ramadan merupakan ibadah yang sarat dengan nilai pendidikan moral dan spiritual.

Ia tidak hanya mengajarkan umat Islam untuk menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih kejujuran dan kendali diri, dua nilai utama yang menjadi fondasi akhlak seorang mukmin. Di tengah kehidupan yang penuh godaan dan tuntutan, puasa hadir sebagai sarana pembinaan diri yang efektif dan mendalam.

Kejujuran dalam puasa bersifat internal. Tidak ada manusia yang benar-benar mengetahui apakah seseorang sedang berpuasa atau tidak, kecuali dirinya sendiri dan Allah SWT.

Seseorang bisa saja makan atau minum secara sembunyi-sembunyi tanpa diketahui orang lain. Namun, ia memilih untuk tidak melakukannya karena kesadaran bahwa Allah SWT Maha Melihat.

Di sinilah puasa melatih kejujuran sejati, kejujuran yang tidak bergantung pada pengawasan manusia, tetapi tumbuh dari iman.

Pembaca yang berbahagia. Latihan kejujuran ini memiliki dampak luas dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang jujur dalam puasanya akan terdorong untuk jujur dalam perkataan, amanah dalam pekerjaan, dan adil dalam bersikap.

Puasa mengajarkan bahwa integritas sejati lahir ketika seseorang konsisten antara yang tampak dan yang tersembunyi. Inilah kejujuran yang menjadi ciri orang bertakwa.

Selain kejujuran, puasa juga merupakan latihan kendali diri. Sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, seorang muslim belajar mengendalikan dorongan paling dasar dalam dirinya: makan, minum, dan hasrat.

Sejarah kewajiban puasa Ramadhan tidak terlepas dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW ke negeri Yatsrib (Madinah). Sebab peristiwa tersebut merupakan titik pijak penyempurnaan syariat Islam di kemudian hari.

Puasa Ramadan diwajibkan kepada Nabi Muhammad dan umatnya pada bulan Syakban tahun ke-2 hijriah dengan cara dan model yang dilakukan umat Islam hingga kini. Jika hal-hal yang halal saja harus ditahan demi ketaatan kepada Allah, maka terlebih lagi perkara yang haram dan tercela.

Puasa menanamkan kesadaran bahwa manusia memiliki kemampuan untuk menguasai hawa nafsunya, bukan dikuasai olehnya.

Kendali diri dalam puasa tidak berhenti pada aspek fisik.

Puasa juga menuntut pengendalian emosi dan perilaku. Marah, berkata kasar, berbohong, dan menyakiti orang lain dapat mengurangi bahkan merusak nilai puasa.

Rasulullah SAW mengingatkan bahwa jika seseorang diajak bertengkar atau dicaci maki saat berpuasa, hendaklah ia berkata, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.” Pesan ini menegaskan bahwa puasa adalah benteng akhlak, bukan sekadar ritual jasmani.

Lebih jauh, puasa melatih kesabaran dan keteguhan hati. Dalam kondisi lapar dan lelah, seseorang diuji untuk tetap bersikap baik dan menjaga etika.

Dari sinilah lahir pribadi yang matang secara emosional—mampu menahan diri, berpikir jernih, dan bertindak bijaksana. Kendali diri yang ditempa selama Ramadan diharapkan terbawa hingga bulan-bulan setelahnya.

Pembaca yang dirahmati Allah SWT. Ibadah Puasa juga mengajarkan bahwa kebebasan sejati bukanlah mengikuti semua keinginan, melainkan mampu mengendalikan diri sesuai tuntunan Ilahi.

Dalam perspektif ini, puasa menjadi sarana pembebasan manusia dari perbudakan hawa nafsu menuju kemerdekaan spiritual. Ia membentuk karakter yang kuat, jujur, dan bertanggung jawab.

Akhirnya, hikmah puasa sebagai latihan kejujuran dan kendali diri hendaknya tidak berhenti pada Ramadan saja. Nilai-nilai yang dilatih selama sebulan penuh ini perlu dirawat dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika kejujuran menjadi kebiasaan dan kendali diri menjadi karakter, maka puasa telah mencapai tujuan utamanya: melahirkan insan yang bertakwa. Semoga Ramadan tahun ini  menjadikan kita pribadi yang lebih jujur kepada Allah SWT, kepada sesama, dan kepada diri sendiri, serta mampu mengendalikan diri dalam setiap keadaan. Wallohu’alam Bisshawab

Editor : Akbar Sirinawa
#ramadan #Penyempurnaan #manusia #Ibadah #Puasa