LombokPost - "Dua kenikmatan yang kebanyakan manusia tertipu (lalai) karenanya adalah nikmat sehat dan waktu yang luang." (HR. Bukhari no. 6412)
Pembaca Ramadan Insight yang dirahmati Allah SWT. Dalam Hadis Nabi SAW disebutkan, bahwa "Dua kenikmatan yang kebanyakan manusia tertipu (lalai) karenanya adalah nikmat sehat dan waktu yang luang." (HR. Bukhari no. 6412 dari Ibnu 'Abbas).
Waktu adalah salah satu nikmat terbesar yang sering luput dari perhatian manusia. Dalam Islam, waktu memiliki nilai yang sangat tinggi, hingga Allah bersumpah dengannya dalam Alquran.
Bulan Ramadan hadir sebagai momentum istimewa untuk melatih kedisiplinan waktu, karena hampir seluruh rangkaian ibadah di dalamnya terikat secara ketat dengan ketentuan waktu. Misalnya sejak dini hari, puasa Ramadan sudah mengajarkan disiplin melalui makan sahur. Sahur bukan sekadar makan sebelum berpuasa, tetapi latihan bangun lebih awal dan memanfaatkan waktu fajar dengan kesadaran spiritual.
Kemudian, imsak dan terbit fajar menjadi penanda dimulainya puasa satu detik lebih awal atau lebih lambat memiliki konsekuensi hukum. Dari sini, umat Islam dilatih untuk menghargai waktu dengan presisi dan tanggung jawab.
Disiplin waktu semakin terasa saat menahan diri sepanjang siang hingga waktu berbuka. Berbuka puasa mengajarkan kepatuhan pada batas waktu yang ditetapkan Allah SWT. Tidak boleh mendahului, tidak pula menunda tanpa alasan.
Ketika azan magrib berkumandang, saat itulah seorang muslim menyempurnakan puasanya. Ketaatan ini menanamkan kesadaran bahwa waktu dalam Islam bukan sekadar hitungan jam, tetapi amanah Ilahi.
Pembaca yang berbahagia. Bulan Ramadan juga memperkuat disiplin melalui salat lima waktu, tarawih, dan ibadah malam. Salat yang dikerjakan tepat waktu menjadi tolok ukur kedisiplinan seorang hamba.
Tarawih melatih konsistensi di malam hari, sementara qiyamul lail dan tadarus Alquran mengajarkan pengelolaan waktu antara istirahat dan ibadah. Semua ini membentuk pola hidup yang teratur dan seimbang. Lebih dari sekadar rutinitas ibadah, disiplin waktu di bulan Ramadan memiliki dampak luas dalam kehidupan sosial dan profesional.
Orang yang terbiasa tepat waktu dalam beribadah akan lebih mudah menerapkannya dalam bekerja, belajar, dan bermasyarakat. Ramadan mengajarkan bahwa keberhasilan hidup tidak lepas dari kemampuan mengatur waktu dengan baik dan penuh tanggung jawab.
Dalam perspektif pendidikan akhlak, disiplin waktu adalah bagian dari sikap amanah. Menyia-nyiakan waktu berarti menyia-nyiakan kesempatan berbuat kebaikan. Karena itu, para ulama mengingatkan bahwa waktu adalah modal utama kehidupan manusia.
Ramadan hadir sebagai sekolah non formal yang melatih kita untuk memanfaatkan setiap detik dalam kebaikan dan ibadah. Namun, tantangan terbesar adalah menjaga disiplin waktu ini setelah Ramadan berakhir.
Banyak orang yang rajin salat tepat waktu dan gemar membaca Alquran selama Ramadan, tetapi kembali lalai setelahnya. Di sinilah ujian sesungguhnya: apakah Ramadan hanya menjadi ritual musiman atau benar-benar membentuk karakter disiplin yang berkelanjutan.
Akhirnya, Ramadan mengajarkan bahwa kedisiplinan waktu adalah jalan menuju ketakwaan. Dengan menghargai waktu, seseorang belajar menghargai kehidupan itu sendiri.
Semoga Ramadan tidak hanya mengisi hari-hari kita dengan ibadah, tetapi juga menanamkan kebiasaan disiplin waktu yang terus hidup dalam setiap aspek kehidupan kita. Wallohu’lam Bisshawab. (*)
Editor : Kimda Farida