LombokPost - Plt. Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, A. Fachri Radjab, memberikan penjelasan mendalam mengenai keunikan fenomena Gerhana Bulan Total (GBT) yang akan menyapa langit Indonesia pada Selasa, 3 Maret 2026.
Hal ini tentunya menjadi unik karena terjadi pengulangan setiap belasan tahun untuk GBT 3 Maret 2026.
Meskipun gerhana bulan secara umum merupakan fenomena astronomis yang rutin terjadi hampir setiap tahun, Fachri menekankan bahwa tingkat "ketotalan" atau karakteristik setiap gerhana berbeda-beda.
Siklus 18 Tahun yang Langka
Hal yang membuat Gerhana Bulan Total besok menjadi sangat spesial adalah perhitungan periodenya.
Menurut Fachri, konfigurasi GBT yang memiliki karakteristik mirip dengan kejadian 3 Maret 2026 ini tidak terjadi dalam waktu dekat.
"Periode ulang GBT yang mirip seperti tanggal 3 Maret besok itu, kalau dalam perhitungan, akan terjadi lagi 18 tahun kemudian," ujar Fachri Radjab.
Hal ini merujuk pada Siklus Saros, sebuah siklus astronomi yang mengatur keberulangan gerhana dengan geometri yang hampir identik.
Dengan kata lain, momen besok adalah kesempatan langka bagi generasi saat ini untuk menyaksikan wajah "Bulan Darah" dalam konfigurasi yang spesifik sebelum ia "absen" dalam waktu yang cukup lama.
Mengapa Ketotalannya Berbeda?
Setiap tahun, posisi Bulan, Bumi, dan Matahari tidak selalu berada di titik pusat yang sama. Terkadang gerhana hanya terjadi di fase penumbra atau sebagian.
Keberhasilan ketiga benda langit ini berada di garis yang benar-benar sejajar sempurna (total) di waktu yang nyaman untuk diamati merupakan sebuah keberuntungan astronomis bagi pengamat di Indonesia.
Editor : Kimda Farida