Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Ramadan Hampir Usai: Menjaga Konsistensi Iman, Setiap Hari adalah Ladang Amal dan Ujian

Lombok Post Online • Senin, 16 Maret 2026 | 12:10 WIB

Oleh : Dr TGH.Muharrar Iqbal,MA (Pengasuh Yayasan Insan Kamil Kediri Selatan)
Oleh : Dr TGH.Muharrar Iqbal,MA (Pengasuh Yayasan Insan Kamil Kediri Selatan)

LombokPost - “Sesungguhnya iman itu bisa bertambah dan berkurang. Maka, mintalah kepada Allah agar Dia memperbarui iman di dalam hati kalian.” (HR Imam Bukhari)

Pembaca yang dirahmati Allah SWT. Dari Masjidharam Makkah Al Mukarramah, saya mendoakan semoga para pembaca diberikan kesempatan melaksanakan ibadah haji ataupun umrah.

Tanpa terasa, hari-hari Ramadan hampir sampai di penghujungnya. Bulan yang penuh rahmat, ampunan, dan keberkahan ini sebentar lagi akan meninggalkan kita.

Pada fase akhir ini, pertanyaan penting perlu kita renungkan: mampukah iman yang terbangun selama Ramadan tetap konsisten setelahnya? Karena sejatinya, keberhasilan Ramadan tidak hanya diukur dari semarak ibadah di dalamnya, tetapi dari kesinambungan iman setelah ia berlalu.

Selama Ramadhan, ritme hidup kita cenderung lebih teratur dalam ibadah. Salat lebih terjaga, Alquran lebih sering dibaca, doa lebih khusyuk dipanjatkan, dan kepedulian sosial meningkat.

Suasana Ramadan seakan menjadi “penguat eksternal” bagi iman. Tantangan sesungguhnya justru muncul ketika Ramadan usai dan suasana itu mulai mereda.

Menjaga konsistensi iman berarti menjadikan nilai-nilai Ramadan sebagai kebiasaan, bukan sekadar aktivitas musiman. Tidak harus sama dalam kuantitas, tetapi konsisten dalam kualitas.

Jika selama Ramadan kita mampu membaca Alquran setiap hari, maka setelahnya tetaplah menjaga interaksi meski dengan porsi yang lebih sederhana. Jika selama Ramadan kita terbiasa menahan diri dan menjaga akhlak, maka sikap itu harus terus hidup dalam keseharian.

Konsistensi iman juga erat kaitannya dengan keikhlasan. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya iman itu bisa bertambah dan berkurang. Maka, mintalah kepada Allah SWT agar Dia memperbarui iman di dalam hati kalian.” (HR. Imam Bukhari)

Ibadah yang dilakukan karena dorongan lingkungan atau suasana tertentu akan mudah pudar. Namun ibadah yang lahir dari kesadaran dan kebutuhan ruhani akan bertahan lebih lama.

Ramadan melatih keikhlasan ini, agar iman tidak bergantung pada momentum, tetapi berakar kuat dalam hati. Selain itu, menjaga iman pasca-Ramadan membutuhkan komitmen dan muhasabah berkelanjutan.

Setiap hari adalah ladang amal dan ujian. Dengan evaluasi diri yang rutin, kita dapat menjaga agar iman tidak melemah oleh rutinitas duniawi. Lingkungan yang baik, majelis ilmu, dan pergaulan yang saleh juga menjadi faktor penting dalam menjaga kestabilan iman.

Ramadan hampir usai, tetapi Allah yang kita sembah tidak pernah berganti. Ibadah tidak berhenti bersama berakhirnya bulan suci.

Justru di sinilah kualitas keimanan diuji: apakah kita hanya menjadi hamba Ramadan, atau hamba Allah sepanjang waktu.

Semoga Ramadan ini benar-benar meninggalkan bekas yang mendalam dalam diri kita. Semoga iman yang telah tumbuh dapat kita jaga dengan istiqamah, dan amal-amal kebaikan terus berlanjut hingga Ramadan berikutnya.

Karena tujuan akhir Ramadan bukan sekadar selesai berpuasa, tetapi lahirnya pribadi yang beriman, bertakwa, dan konsisten dalam kebaikan. Wallohu’alam bisshawab.

Editor : Kimda Farida
#ramadan #keimanan #muhasabah #alquran #Ibadah