Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Geothermal Mataloko Disorot, Ahli Tegaskan Lumpur Panas Merupakan Fenomena Alamiah

Marthadi • Selasa, 31 Maret 2026 | 17:14 WIB

Ahli geothermal Pri Utami.
Ahli geothermal Pri Utami.
LombokPost - Pengembangan panas bumi di wilayah Mataloko, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali mendapat penegasan dari kalangan akademisi. Ahli geothermal Pri Utami memastikan bahwa manifestasi panas bumi seperti mata air panas, kepulan uap, hingga lumpur panas merupakan fenomena alamiah.

“Manifestasi panas bumi adalah wujud atau ekspresi adanya potensi panas bumi di bawah permukaan. Di permukaan, ia muncul dalam bentuk mata air panas, tanah beruap, atau kolam lumpur panas yang meletup-letup. Itu terbentuk secara alamiah,” jelas Pri.

Ia menerangkan, lumpur panas terbentuk akibat fluida geothermal di dalam reservoir yang mendidih dan bergerak ke arah permukaan. Proses kondensasi di bawah batuan penudung membuat batuan melemah dan terlarut, sehingga tampak seperti lumpur.

Fenomena tersebut, kata dia, bersifat alami dan hanya terjadi di area tertentu dengan kedalaman relatif dangkal.

Pri juga menegaskan bahwa kondisi di Mataloko tidak bisa disamakan dengan kasus lumpur Lapindo.

“Manifestasi geothermal terbatas di area tertentu dan kedalamannya dangkal. Ini juga bukan lumpur pemboran atau limbah pengeboran,” tegasnya.

Panas bumi di wilayah Mataloko, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Panas bumi di wilayah Mataloko, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Penjelasan ini sekaligus meluruskan berbagai persepsi yang berkembang di masyarakat. Lumpur yang muncul di permukaan bukan berasal dari aktivitas pengeboran, melainkan proses geologi yang telah berlangsung jauh sebelum proyek berjalan.

Sementara itu, warga setempat turut membantah berbagai isu yang beredar. Katharian Fono, warga Daratei, Desa Ulubelu, menilai informasi tentang lumpur yang muncul di banyak titik tidak sesuai fakta di lapangan.

“Kalau ada yang mengatakan di sini tidak bisa menghasilkan dan lumpur muncul di mana-mana, itu tidak benar. Kami yang tinggal di sini mengetahui kondisi sebenarnya,” ujarnya.

Ia mengaku merasakan dampak positif dari pengembangan geothermal, terutama dalam peningkatan taraf hidup.

“Dulu saya hidup dalam keterbatasan. Sekarang anak saya bekerja karena adanya geothermal ini. Saya bisa memiliki rumah yang lebih layak,” tuturnya.

General Manager PT PLN (Persero) UIP Nusra Rizki Aftarianto menegaskan komitmen perusahaan dalam menjalankan proyek sesuai standar keselamatan dan lingkungan.

“Kami memastikan seluruh proses dilakukan berbasis kajian ilmiah dan pengawasan berlapis,” ujarnya.

PLN, lanjutnya, juga membuka ruang dialog dengan masyarakat serta mengedepankan transparansi dalam setiap tahapan proyek.

“Pengembangan geothermal merupakan bagian dari upaya menghadirkan energi bersih yang andal bagi NTT, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan,” tutupnya.

Editor : Marthadi
#proyek PLN geothermal #lumpur panas alami #panas bumi NTT #geothermal Mataloko #isu lumpur Mataloko