LombokPost - "Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan Orang- Orang yang bodoh.” (QS. Al A’raf: 199)
Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kita kesempatan untuk kembali merasakan indahnya bulan Syawal setelah kita merayakan Idulfitri dalam keadaan penuh harap akan ampunan-Nya.
Salawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Baca Juga: Ini Keutamaan Puasa Enam Hari di Bulan Syawal
Pembaca Hikmah Jumat yang dirahmati Allah, setelah melewati kita melewati liburan panjang bakda Ramadan, kini Hikmah Jumat kembali menyapa para pembaca. Semoga apa yang kai sajikan bersama tim redaksi Lombok Post ini mendapatkan rahmat dan berkah-Nya.
Setelah berpuasa satu bulan penuh, umat Islam di berbagai tempat memiliki tradisi yang sangat mulia, yaitu halalbihalal. Tradisi ini bukan sekadar budaya atau kebiasaan turun-temurun, melainkan memiliki makna yang sangat dalam dalam kehidupan sosial dan spiritual kita.
Secara bahasa, halalbihalal bermakna saling menghalalkan. Dalam konteks kehidupan, ini berarti saling memaafkan kesalahan, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja.
Baca Juga: Momen Tokoh Nonis Ramaikan Maaf-Maafan di Bulan Syawal
Idulfitri sendiri adalah momentum kembali kepada fitrah, yaitu keadaan suci seperti bayi yang baru dilahirkan. Namun, kesucian itu tidak akan sempurna tanpa membersihkan hubungan kita dengan sesama manusia.
Pembaca yang berbahagia, ada beberapa hikmah besar dari halalbihalal setelah Idulfitri.
Pertama, membersihkan hati dari penyakit batin. Permusuhan, dendam, iri hati, dan prasangka buruk adalah penyakit hati yang dapat merusak amal kebaikan. Dengan saling memaafkan, kita membersihkan hati dan membuka lembaran baru yang lebih bersih dan damai.
Baca Juga: Berburu Berkah Menikah di Bulan Syawal
Kedua, mempererat tali silaturahmi. Halalbihalal menjadi sarana untuk menyambung kembali hubungan yang mungkin sempat renggang. Dalam Islam, menjaga silaturahmi memiliki keutamaan besar, di antaranya dilapangkan rezeki dan dipanjangkan umur dalam keberkahan.
Ketiga, menumbuhkan rasa persaudaraan dan persatuan. Dengan saling memaafkan, sekat-sekat perbedaan dapat dilebur. Kita diingatkan bahwa sesama Muslim adalah saudara, dan persaudaraan itu harus dijaga dengan penuh kasih sayang.
Keempat, wujud nyata dari akhlak mulia. Meminta maaf dan memberi maaf bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan kerendahan hati dan keikhlasan. Halalbihalal melatih kita untuk menjadi pribadi yang tawadhu dan berakhlak mulia.
Pembaca Hikmah Jumat yang dirahmati Allah SWT, mari kita jadikan momen halalbihalal ini bukan hanya sekadar formalitas atau tradisi tahunan, tetapi sebagai langkah nyata untuk saling memaafkan atau saling memberikan maaf.
Dalam Alquran disebutkan, "Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.” (QS. Al A’raf: 199). Ayat ini, menjelaskan kepada kita ikhtiar setiap orang untuk selalu memperbaiki diri. Jangan sampai kita hanya mengucapkan “mohon maaf lahir dan batin” di lisan, namun hati masih menyimpan kebencian.
Akhirnya, semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah kita di bulan Ramadan, mengampuni dosa-dosa kita, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang kembali suci serta mampu menjaga hubungan baik dengan sesama. Wallohu’lam bisshawab. (*)
Editor : RedaksiSumber : Lombok Post