LombokPost-Dunia modifikasi kendaraan roda dua, sering kali dinilai hanya berfokus pada estetika visual hingga mengorbankan fungsi utama kendaraan, sebagai alat transportasi.
Namun, anggapan tersebut berhasil dipatahkan oleh I Made Arthadana. Pria berusia 35 tahun asal Mataram ini sukses membuktikan, motor yang dirancang untuk bertarung di panggung kontes profesional pun tetap bisa nyaman dan aman digunakan untuk mobilitas sehari-hari.
Ia menceritakan, ketertarikannya pada dunia modifikasi motor bukanlah hal baru. Ia tercatat sudah mulai menggeluti hobi ini sejak menduduki bangku SMP. “Dari SMP, saya mulai kenal dunia modifikasi motor,” ujarnya.
Meski demikian, Arthadana mengaku baru benar-benar mendalami dunia kompetisi secara serius pada tahun 2025 lalu.
Baca Juga: Bisa Nonton Gratis dari Grand Stand A! Pertamina MRS 2026 Manjakan Pencinta Balap Motor di Lombok
Langkah serius ini diambilnya karena melihat regulasi kontes masa kini yang sudah jauh berubah dibandingkan satu dekade lalu, di mana penilaian juri saat ini menuntut detail yang jauh lebih mendalam dan spesifik.
Berbeda dengan kebanyakan peserta kontes yang rela mengubah motornya, menjadi sekadar pajangan rumah yang tidak bisa dikendarai, Arthadana justru memilih jalur yang sebaliknya.
Ia mengusung aliran yang disebut konsep Daily Use yang berorientasi, pada prioritas fungsi dan kegunaan kendaraan untuk aktivitas sehari-hari, sehingga hasil modifikasinya justru mempermudah penggunaan motor tersebut.
Bagi Arthadana, modifikasi pada motor Honda Stylo miliknya telah menjadi sebuah kebutuhan fungsional.
Pilihan ini juga didorong oleh motivasi terbesar yang datang dari sang istri yang kebetulan juga menyukai dunia otomotif.
Motor Stylo yang digunakan untuk kontes tersebut sejatinya merupakan motor milik istrinya yang sehari-hari dipakai secara aktif.
“Saya gunakan konsep Daily Use, itu lebih memprioritaskan fungsi dan kegunaan untuk sehari-harinya,” jelas dia.
Baca Juga: Adu Nyali di Aspal Mandalika: 106 Starter Siap Menggila, Kelas Junior Jadi Magnet Baru
Untuk mewujudkan motor berspesifikasi podium namun tetap fungsional, Arthadana melakukan perombakan yang terbilang masif.
Ia mengganti hampir 90 persen komponen asli pabrikan dengan part variasi. Sektor-sektor yang dirombak mencakup ban, velg, knalpot, bak CVT, shockbreaker depan dan belakang, lampu depan-belakang, spion, hingga ke detail terkecil seperti baut-baut penunjang.
“Kalau untuk yang ini punya saya yang Stylo ini itu hampir semua, itu hampir 90 persen kan keganti semua. Lampu depan belakang, sepion juga,” kata dia.
Demi mendapatkan kualitas terbaik, Arthadana memadukan komponen variasi lokal, dengan beberapa komponen premium yang diimpor langsung dari luar negeri.
Totalitas perombakan pada motor Stylo itu, diperkirakan menelan biaya yang fantastis, yakni berkisar antara puluhan hingga seratus juta rupiah.
“Saya sudah habis sekitar kurang lebih karena nggak bisa saya memastikan, itu sekitar 80 hampir 100 juta,” jelasnya.
Arthadana mengaku lebih fokus pada modifikasi motor matik. Bahkan satu unit motor miliknya secara khusus dipersiapkan untuk mengikuti berbagai ajang kontes modifikasi.
Menurutnya, kegagalan pada awal keikutsertaan dijadikan momentum untuk mengevaluasi kendaraan berdasarkan masukan dari dewan juri.
Sebelum turun ke event berikutnya, Arthadana meluangkan waktu sekitar tiga bulan untuk melakukan persiapan matang, melakukan perbaikan, merombak komponen yang dirasa kurang, serta menyiapkan anggaran perubahan agar perpaduan seluruh part terlihat sempurna.
Kerja keras tersebut terbayar lunas pada kontes-kontes berikutnya. Motor Stylo milik Arthadana perlahan mulai menaiki podium, menyabet juara satu, hingga memenangkan predikat terbaik.
Hebatnya, posisi motor tersebut kini terus bertahan di puncak klasemen tertinggi dan belum tergeser oleh motor kompetitor lainnya.
“Mulai naik podium, dapat juara satu, terus dapat the best dan penghargaan terbaik lainnya,” kata dia.
Selama posisi motornya belum tergeser, ia memilih untuk fokus merawat satu motor kontes tersebut, agar tidak memecah konsentrasinya dalam menentukan konsep motor lainnya.
Di balik konsistensinya merawat hobi, dari bangku SMP hingga kepala tiga, Made mengaku tidak mencari kebanggaan yang berlebihan dari sekadar piala atau penghargaan di atas panggung.
Baca Juga: Belajar Meracik Kopi di Loka Coffee
Baginya, kepuasan terbesar dari dunia modifikasi juga berkesempatan untuk memperluas jaringan pertemanan, dan relasi hingga ke luar wilayah NTB.
“Cuman saya memang bangganya punya motor kayak begini, banyak punya teman di luar sana gitu, nggak hanya dari NTB saja,” ujarnya.
Di samping itu, ia menilai modifikasi motor telah menjadi hobi. Arthadana pun mengakui, dari segi finansial, pengeluaran untuk hobi modifikasi sering kali jauh lebih besar daripada hasil materi yang didapatkan kembali.
Kendati demikian, proses merangkai, memilih spare part, dan mencocokkan warna tetap memberikan kesenangan tersendiri yang tidak ternilai bagi dirinya.
“Hobi kan jarang ada yang lebih besar dapetnya ketimbang keluarnya gitu loh maksud saya. Tapi senang aja,” tandasnya.
Editor : Akbar Sirinawa