Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Nanang Samodra Sosialisasi 4 Pilar MPR Tahap 5, Fokus Bahasan: Indonesia Sebelum Merdeka

Prihadi Zoldic • Minggu, 12 Juli 2026 | 07:12 WIB
SAMPAIKAN PENJELASAN: Anggota MPR RI Nanang Samodra mengadakan Sosialisasi 4 Pilar MPR tahap 5, membahas topik tentang kondisi Indonesia sebelum kemerdekaan.  (Istimewa)
SAMPAIKAN PENJELASAN: Anggota MPR RI Nanang Samodra mengadakan Sosialisasi 4 Pilar MPR tahap 5, membahas topik tentang kondisi Indonesia sebelum kemerdekaan.  (Istimewa)

 

LombokPost - Anggota MPR RI Nanang Samodra mengadakan Sosialisasi 4 Pilar MPR tahap 5, membahas topik tentang kondisi Indonesia sebelum kemerdekaan. 

Peserta kegiatan terdiri atas, dosen, mahasiswa, tokoh agama, pegiat perempuan, perangkat desa, dan masyarakat umum dalam kegiatan yang diadakan Minggu pagi (28/7) di Kampus Universitas Islam Al Azhar, Jalan Unizar 20, Kelurahan Turida, Kecamatan Sandubaya, Kota Mataram. 

Dikatakan Nanang Samodra, sejarah Indonesia sebelum kemerdekaan adalah perjalanan panjang yang membentang dari zaman prasejarah hingga proklamasi 17 Agustus 1945.

"Secara umum, periode ini dapat dibagi menjadi beberapa era besar: era prakolonial (kemunculan kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha dan Islam), era kolonial (kedatangan bangsa Eropa), serta era pergerakan nasional dan pendudukan Jepang menjelang kemerdekaan," jelas pria bergelar doktor tersebut. 

Baca Juga: Semoga AC Milan Tak Menyesal di Kemudian Hari, Lepas Rafael Leao dan Pertahankan Samuel Chukwueze

Nanang Samodra lantas menjabarkan, masa prasejarah di Indonesia dimulai dari kehidupan manusia purba hingga sekitar abad ke-5 Masehi, ditandai dengan belum adanya sistem tulisan.

Bukti tertua adalah fosil homo erectus atau "Manusia Jawa" yang diperkirakan berusia 1,7 juta tahun lalu, sedangkan kepulauan Nusantara terbentuk sekitar 10.000 tahun lalu setelah berakhirnya Zaman Es.

Bergerak cepat memasuki abad ke-4 Masehi, pengaruh Hindu-Buddha mulai masuk dan melahirkan kerajaan-kerajaan besar Nusantara.

Misalnya Kerajaan Kutai (sekitar abad ke-4 M) di Kalimantan Timur merupakan kerajaan Hindu tertua di Indonesia, kemudian Kerajaan Tarumanegara (358 M) berdiri di Jawa Barat, dan Kerajaan Sriwijaya (abad ke-7) di Sumatera menjadi kerajaan Buddha yang menguasai jalur perdagangan hingga Semenanjung Malaya.

Baca Juga: Mahasiswa FK Unizar Raih Dua Bronze Medal Lewat Inovasi Kesehatan dan Mitigasi Bencana

Berikutnya Kerajaan Mataram Kuno (732 M) di Jawa Tengah dikenal dengan dinasti Sanjaya (Hindu) dan Syailendra (Buddha), yang meninggalkan warisan agung seperti Candi Borobudur.

"Puncak kejayaan kerajaan Hindu-Buddha adalah Kerajaan Majapahit (1293-1478) di Jawa Timur, didirikan oleh Raden Wijaya, di bawah Patih Gadjah Mada, Majapahit menyatukan hampir seluruh Nusantara," kata Nanang Samodra memberi penjabaran sejarah. 

Berikutnya, Islam mulai masuk pada abad ke-7 melalui perdagangan, tetapi pengaruh politiknya menguat sejak abad ke-13. Kerajaan Samudera Pasai (1267 M) di Aceh dianggap sebagai kerajaan Islam pertama di Nusantara.

Kerajaan Islam terus berkembang, ada Kesultanan Demak (1478) di Jawa, Kesultanan Banten, Kesultanan Mataram Islam, serta Kesultanan Ternate dan Tidore di Maluku. Periode Islam berlangsung sekitar lima abad hingga bangsa Barat mulai menguasai Nusantara.

Baca Juga: Nanang Samodra Sosialisasi 4 Pilar MPR, Fokus Jelaskan Agresi Militer Belanda II

Masuk ke era kolonialisme barat Portugis tiba pada 1509-1595 sebagai negara Eropa pertama yang menjajah, awalnya berdagang rempah di Maluku namun kemudian menerapkan monopoli. Spanyol lantas datang pada 1521-1529 dan bersaing dengan Portugis di Ternate.

Sedangkan Belanda pertama kali mendarat di Banten pada 1596 dipimpin Cornelis de Houtman. Pada 20 Maret 1602, Belanda mendirikan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). VOC menerapkan monopoli perdagangan dan sistem tanam paksa (Cultuurstelsel) yang menyengsarakan rakyat.

Setelah VOC bangkrut (1799), pemerintah Belanda mengambil alih pada 1800 sebagai Hindia Belanda. Masa ini berlangsung hingga 1942. Meskipun narasi "350 tahun penjajahan" sering digunakan (dihitung dari 1596-1945), secara historis masa kolonial pemerintahan langsung dimulai sekitar 1800.

"Prancis menguasai secara singkat setelah mengalahkan Belanda pada abad ke-18, mengirimkan Gubernur Jenderal Willem Daendels. Inggris juga sempat menguasai Indonesia (1811-1816) di bawah Thomas Stamford Raffles," jelas politisi Partai Demokrat itu menyegarkan ingat akan peserta akan sejarah bangsa.

Baca Juga: Dorong Inovasi Kampus, Kemenkum NTB Genjot Pembentukan Sentra KI di UNIZAR

Turut dijelaskan, perlawanan terhadap Belanda pada awalnya bersifat kedaerahan, seperti Perang Diponegoro, Perang Paderi, Perang Aceh, dan Perang Banjar. Baru pada awal abad ke-20 muncul pergerakan nasional modern.

Nanang Samodra
Nanang Samodra

 

Budi Utomo (1908) merupakan organisasi nasional pertama yang dipelopori dr. Wahidin Sudirohusodo dan dr. Soetomo, menjadi cikal bakal Kebangkitan Nasional. Disusul oleh Sarekat Islam (1911), ISDV (1914) yang menjadi cikal bakal PKI, Perhimpunan Indonesia (1925) dengan tokoh Mohammad Hatta dan Cipto Mangunkusumo, serta Partai Nasional Indonesia (PNI) yang didirikan Soekarno pada 4 Juli 1927.

Puncak kesadaran nasional adalah Sumpah Pemuda (1928) yang mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa: Indonesia.

Singkat cerita, pada 1942, Jepang mengalahkan Belanda dan menduduki Indonesia. Kedatangan Jepang awalnya disambut karena menjanjikan kemerdekaan, namun rakyat kembali menderita akibat kerja paksa (romusha) dan eksploitasi sumber daya.

Baca Juga: Momen Heboh Jelang Start! Deretan Artis dan Pejabat Ramaikan Pocari Sweat Run 4,3K

Dijelaskan juga, menjelang akhir Perang Dunia II, pada 7 September 1944, Perdana Menteri Koiso menjanjikan kemerdekaan Indonesia. BPUPKI dibentuk pada 29 April 1945 untuk mempersiapkan kemerdekaan. Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu pada 14 Agustus 1945, golongan muda mendesak Soekarno-Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan.

"Semua tahapan ini membentuk fondasi bagi lahirnya Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945," jelas pria yang pernah menjabat sekda NTB itu. 

Para peserta kegiatan mengikuti pemaparan materi dengan serius, usai presentasi dari Nanang Samodra, muncul sejumlah pertanyaan yang didiskusikan bersama.

Di antaranya: Apa yang menyebabkan runtuhnya Kerajaan Majapahit, padahal di era, Raja Hayam Wuruk telah mampu mempersatukan Nusantara? Bagaimana peran Wali Songo dalam membesarkan kerajaan Islam di Jawa? Apa penyebab pecahnya kerajaan Mataram menjadi beberapa kerajaan kecil? 

Baca Juga: PLN NTB Gencarkan Edukasi Keselamatan Listrik di Bima, Cegah Gangguan Jaringan dan Kecelakaan

Turut ditanyakan bagaimana cara Belanda menaklukkan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia? Apa yang menjadi keuntungan atau kerugian saat Jepang menjajah Indonesia? 

Anggota MPR RI Dr Nanang Samodra. (Istimewa)
Anggota MPR RI Dr Nanang Samodra. (Istimewa)

 

"Kesemuanya kita diskusikan bersama dengan membuka dokumen-dokumen sejarah yang ada. Ini penting terus disampaikan agar bangsa kita tak melupakan sejarahnya sendiri," tutup Nanang Samodra. 

Editor : Prihadi Zoldic
#mpr #nanang samodra