Tak Lagi Terabaikan, Sargassum Kini Dikembangkan BRIN Menjadi Eco-Enzyme Ramah Lingkungan

Rury Anjas Andita • Dipublikasikan Minggu, 26 Juli 2026 | 19:07 WIB
BRIN mengembangkan eco-enzyme dari Sargassum, rumput laut cokelat bernilai tambah untuk pupuk, pembersih ramah lingkungan, dan ekonomi pesisir. (brin.go.id)
BRIN mengembangkan eco-enzyme dari Sargassum, rumput laut cokelat bernilai tambah untuk pupuk, pembersih ramah lingkungan, dan ekonomi pesisir. (brin.go.id)

LombokPost – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus mendorong hilirisasi rumput laut cokelat Sargassum agar tidak lagi sekadar menjadi sumber daya pesisir yang belum dimanfaatkan secara optimal. Melalui kolaborasi riset bersama The University of Queensland, Australia, BRIN mengembangkan teknologi eco-enzyme berbahan Sargassum yang berpotensi memberi nilai tambah ekonomi sekaligus manfaat lingkungan bagi masyarakat pesisir.

Riset tersebut didukung pendanaan joint research BRIN-KONEKSI Australia dan melibatkan berbagai pusat riset lintas Organisasi Riset BRIN serta mitra dari Australia. Salah satu fokusnya adalah mengolah Sargassum menjadi produk yang mudah diterapkan masyarakat, seperti eco-enzyme, sekaligus mengeksplorasinya sebagai biomaterial berkelanjutan untuk pengembangan teknologi masa depan.

Peneliti Pusat Riset Elektronika BRIN, Athanasia Amanda Septevani, mengatakan Sargassum memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi beragam produk bernilai tambah.

Baca Juga: Sinergi BRIDA NTB, PLN, dan BRIN: Pilot Project PLTAL Selat Alas Ditargetkan Mulai 2028

"Workshop ini berfokus pada teknologi yang sederhana, mudah diterapkan, dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat melalui pemanfaatan Sargassum menjadi eco-enzyme. Ke depan, potensi Sargassum juga akan terus kami kembangkan sebagai biomaterial untuk mendukung inovasi elektronika hijau yang lebih berkelanjutan," jelas Amanda dalam workshop bertajuk Peningkatan Nilai Tambah Sargassum sp. melalui Teknologi Produksi Eco-Enzyme di Kalurahan Duwet, Gunungkidul, Selasa (21/7).

Menurut Amanda, diversifikasi pemanfaatan Sargassum diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.

Peneliti Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN, Novi Fitria, menjelaskan Sargassum merupakan rumput laut yang memiliki nilai ekonomi tinggi karena dapat dimanfaatkan untuk sektor pangan, kesehatan, kosmetik, hingga biomaterial.

Baca Juga: Bukan Lagi Jago Kandang! Mataram Tembus 10 Besar Kota Paling Maju di Indonesia Versi BRIN

Sargassum diketahui mengandung sejumlah senyawa penting, seperti alginat yang berfungsi sebagai pengental alami, fucoidan yang berpotensi sebagai antikanker dan imunomodulator, polifenol sebagai antioksidan dan antimikroba, manitol sebagai sumber energi alami, serta karotenoid sebagai pewarna alami sekaligus antioksidan.

Kandungan tersebut membuka peluang besar bagi pengembangan produk berbasis Sargassum yang memiliki nilai jual lebih tinggi dibanding pemanfaatan rumput laut secara konvensional.

Peneliti Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk BRIN, Rossy Choerun Nissa, menambahkan Sargassum juga kaya hormon pertumbuhan alami seperti auksin, sitokinin, dan giberelin yang bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman.

Baca Juga: BRIN: Bola Api di Lampung Sisa Roket Tiongkok, Terlihat Menyala karena Terbakar setelah Menyentuh Atmosfir Bumi

Dalam riset eco-enzyme yang dikembangkannya, Rossy menyebut produk tersebut menunjukkan potensi antibakteri. Berdasarkan pengujian, eco-enzyme berbahan Sargassum mampu menghambat pertumbuhan bakteri patogen seperti Escherichia coli dan Staphylococcus aureus.

Kemampuan tersebut didukung kandungan senyawa bioaktif hasil analisis fitokimia, seperti tanin, saponin, flavonoid, dan alkaloid, yang dikenal memiliki aktivitas antimikroba.

"Inovasi eco-enzyme ini juga berpotensi dikembangkan menjadi berbagai produk turunan, seperti sabun cair yang ramah lingkungan," ujar Rossy.

Selain memiliki potensi antibakteri, eco-enzyme berbahan Sargassum juga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair, membantu menghilangkan residu pestisida dan bakteri, mengurangi bau sampah, memperbaiki kualitas air limbah domestik, hingga digunakan sebagai cairan pembersih lantai, dapur, dan kamar mandi.

Baca Juga: BRIN Warning Kemunculan ‘Godzilla El Nino’, Jawa hingga Nusa Tenggara Terancam Kekeringan Ekstrem!

Proses pembuatannya merupakan modifikasi dari metode eco-enzyme konvensional. Sargassum terlebih dahulu dicacah, diblender, dan disaring untuk memperoleh ekstraknya. Setelah itu, ekstrak dicampur dengan molase, air bersih, dan larutan EM4, lalu difermentasi selama sekitar enam minggu hingga menghasilkan eco-enzyme siap pakai.

BRIN menilai pengembangan teknologi ini menjadi bukti bahwa sumber daya lokal pesisir dapat diolah menjadi inovasi yang memberi manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan secara berkelanjutan.

Melalui riset kolaboratif ini, BRIN berharap Sargassum tidak lagi dipandang sebagai rumput laut yang kurang bernilai, melainkan sebagai bahan baku potensial untuk industri hijau, produk rumah tangga ramah lingkungan, pertanian organik, hingga biomaterial untuk teknologi masa depan.

Editor : Rury Anjas Andita
Sumber : brin.go.id
Sargassum Eco-Enzyme BRIN rumput laut ramah lingkungan