Mamalia Laut Bukan Sekadar Predator, BRIN Sebut Jadi Kunci Membaca Kesehatan Laut Indonesia

Rury Anjas Andita • Dipublikasikan Minggu, 26 Juli 2026 | 19:37 WIB
BRIN mengungkap mamalia laut menjadi indikator kesehatan laut dalam. Temuan ini memperkuat dasar ilmiah konservasi ekosistem laut Indonesia. (Radar Bojonegoro)
BRIN mengungkap mamalia laut menjadi indikator kesehatan laut dalam. Temuan ini memperkuat dasar ilmiah konservasi ekosistem laut Indonesia. (Radar Bojonegoro)

LombokPost – Mamalia laut tidak hanya berperan sebagai predator puncak di lautan, tetapi juga menjadi indikator penting dalam mengukur kesehatan ekosistem laut. Temuan ini diungkap Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui penelitian yang menunjukkan bahwa keberadaan, perilaku, hingga pola sebaran paus dan lumba-lumba mampu memberikan gambaran kondisi lingkungan laut, ketersediaan pakan, serta produktivitas suatu wilayah perairan.

Peneliti Pusat Riset Sistem Biota (PRSB) BRIN, Achmad Sahri, mengatakan mamalia laut memiliki posisi strategis dalam rantai makanan sehingga sangat dipengaruhi kondisi ekosistem di bawahnya. Karena itu, perubahan populasi maupun distribusi mamalia laut dapat menjadi indikator awal perubahan kualitas lingkungan laut.

"Mamalia laut merupakan indikator penting kesehatan ekosistem laut karena keberadaannya sangat bergantung pada kualitas habitat dan ketersediaan sumber daya pakan," ujar Sahri dalam Simposium Marine Futures Unlocked 2: From Insight to Impact di Jakarta, Kamis (23/7).

Baca Juga: Kemas Penelitian Ilmiah Jadi Cerita Ringan yang Menarik, DPR RI Gandeng BRIN Populerkan Jurnalisme Sains 

Sahri menjelaskan, hasil Ekspedisi Indonesia Mission 2024–2026 menghasilkan berbagai informasi baru mengenai distribusi mamalia laut di kawasan laut dalam Indonesia. Menurutnya, Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat keanekaragaman mamalia laut tertinggi di dunia. Berbagai spesies paus dan lumba-lumba memanfaatkan perairan Indonesia sebagai jalur migrasi, lokasi mencari makan, hingga habitat penting dalam siklus hidupnya.

Namun demikian, data ilmiah mengenai pemanfaatan habitat mamalia laut di kawasan laut dalam masih relatif terbatas. Melalui kolaborasi antara BRIN dan OceanX, para peneliti melakukan pengamatan langsung di sejumlah kawasan laut dalam yang memiliki karakteristik oseanografi unik, termasuk wilayah gunung laut (seamount) yang selama ini dikenal memiliki produktivitas biologis tinggi.

Hasil penelitian menunjukkan kawasan gunung laut memiliki peran ekologis yang sangat besar dalam menopang kehidupan mamalia laut. Fenomena oseanografi di sekitar gunung laut mampu meningkatkan produktivitas perairan sehingga menyediakan sumber makanan melimpah bagi berbagai organisme, mulai dari plankton hingga predator puncak seperti paus dan lumba-lumba.

Baca Juga: Sinergi BRIDA NTB, PLN, dan BRIN: Pilot Project PLTAL Selat Alas Ditargetkan Mulai 2028

"Gunung laut menjadi salah satu area penting karena mampu meningkatkan produktivitas perairan dan menyediakan habitat yang mendukung berbagai spesies laut, termasuk mamalia laut," jelas Sahri.

Temuan tersebut memperkuat berbagai penelitian sebelumnya yang menyebut kawasan gunung laut berfungsi sebagai feeding ground, jalur migrasi, hingga lokasi berkumpul berbagai spesies laut berukuran besar.

Karena itu, kawasan tersebut dinilai menjadi salah satu prioritas dalam upaya konservasi laut Indonesia.

Baca Juga: Bukan Lagi Jago Kandang! Mataram Tembus 10 Besar Kota Paling Maju di Indonesia Versi BRIN

Menurut Sahri, penelitian mamalia laut tidak sekadar mendokumentasikan keberadaan spesies, tetapi juga menghasilkan data ilmiah yang sangat penting dalam penyusunan kebijakan konservasi.

Informasi mengenai distribusi, pola migrasi, hingga habitat utama mamalia laut dapat digunakan untuk menentukan kawasan yang layak mendapatkan perlindungan.

Dalam beberapa tahun terakhir, isu konservasi laut semakin menjadi perhatian dunia, termasuk melalui pengembangan Large Scale Marine Protected Areas (LSMPA) dan implementasi perjanjian internasional Biodiversity Beyond National Jurisdiction (BBNJ).

Data ilmiah mengenai mamalia laut menjadi salah satu komponen penting dalam mendukung penyusunan kebijakan tersebut.

Baca Juga: BRIN: Bola Api di Lampung Sisa Roket Tiongkok, Terlihat Menyala karena Terbakar setelah Menyentuh Atmosfir Bumi

BRIN berharap hasil penelitian dari Ekspedisi Indonesia Mission mampu menjadi landasan ilmiah dalam penyusunan kebijakan konservasi laut yang lebih efektif dan berbasis bukti.

Sahri menekankan bahwa pengelolaan ekosistem laut memerlukan kolaborasi berbagai disiplin ilmu, mulai dari biodiversitas, geologi, hingga oseanografi agar menghasilkan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai kondisi laut Indonesia.

"Pengelolaan dan konservasi laut memerlukan dukungan data ilmiah yang kuat serta kolaborasi berbagai pihak agar kebijakan yang dihasilkan benar-benar berbasis bukti," pungkasnya.

Editor : Rury Anjas Andita
Sumber : brin.go.id
mamalia laut Predator Lumba-Lumba BRIN PAUS