LombokPost – PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra) memastikan pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ulumbu di Kabupaten Manggarai terus dilakukan dengan memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan kehidupan masyarakat sekitar.
Sejumlah warga Desa Wewo dan Desa Lungar, Kecamatan Satarmese, mengaku aktivitas pertanian serta ketersediaan sumber air tetap terjaga sejak PLTP Ulumbu mulai beroperasi pada 2011.
Warga Desa Wewo, Margaretha Dinut mengatakan lahan pertanian miliknya masih produktif. Menurutnya, sumber air yang digunakan masyarakat juga tidak mengalami perubahan sejak pembangkit panas bumi beroperasi.
“Sejak PLTP Ulumbu beroperasi, lahan pertanian kami tetap subur dan sumber air tidak tercemar. Kami masih bisa panen dua kali setahun dengan hasil yang baik,” kata Margaretha.
Baca Juga: Di Balik Tragedi KM Mutiara Sentosa 2: Pelukan yang Tertunda, Perpisahan yang Abadi
Pengakuan serupa disampaikan warga Desa Lungar, Kanisius Patut. Ia mengaku telah tinggal di sekitar kawasan manifestasi panas bumi sejak kecil dan tidak merasakan dampak negatif terhadap aktivitas pertanian maupun ketersediaan air.
“Sejak lahir saya tinggal di sekitar kawasan ini. Sampai sekarang air tetap tersedia dan lahan pertanian tetap menghasilkan dengan baik,” ujarnya.
Tokoh adat Tua Gendang Wewo, Hendrikus Ampak mengatakan berbagai kajian mengenai dampak lingkungan telah dilakukan sebelum PLTP Ulumbu dibangun.
Setelah pembangkit beroperasi, penelitian dan pemantauan lingkungan juga terus dilakukan oleh pemerintah maupun perguruan tinggi.
“Banyak pihak datang melakukan penelitian sejak sebelum pembangkit beroperasi hingga sekarang. Kami selalu terbuka memberikan informasi,” katanya.
Kepala Desa Wewo, Laurensius Langgut, mengatakan masyarakat tidak pernah mengalami kesulitan mendapatkan air bersih sejak PLTP Ulumbu beroperasi.
Menurutnya, kawasan pertanian di sekitar pembangkit masih produktif dan menghasilkan beragam komoditas, seperti padi, cengkeh, kemiri, kakao, serta durian.
Selain menjaga produktivitas pertanian, keberadaan PLTP Ulumbu juga membuka peluang kerja bagi masyarakat setempat dan memberikan manfaat ekonomi bagi warga Desa Wewo.
General Manager PT PLN (Persero) UIP Nusra RDW Manurung mengatakan pengalaman operasional PLTP Ulumbu selama lebih dari satu dekade menunjukkan pemanfaatan energi panas bumi dapat berjalan berdampingan dengan aktivitas masyarakat apabila dikelola sesuai kaidah teknis, lingkungan, dan regulasi yang berlaku.
“PLTP Ulumbu menjadi bukti bahwa pengembangan energi panas bumi dapat dilakukan secara bertanggung jawab dengan tetap memperhatikan aspek lingkungan dan sosial. Kami terus melakukan pemantauan serta memastikan setiap tahapan operasional maupun pengembangan mengedepankan prinsip keberlanjutan,” ujar Manurung.
Ia menegaskan, pengalaman PLTP Ulumbu menjadi salah satu referensi penting dalam pengembangan proyek panas bumi lainnya di wilayah Nusa Tenggara.
“PLN berkomitmen mengembangkan energi panas bumi dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian, keterbukaan, dan pelibatan masyarakat,” katanya.
Menurut Manurung, pengembangan energi panas bumi merupakan bagian dari upaya mendukung transisi energi nasional sekaligus meningkatkan keandalan pasokan listrik di Nusa Tenggara melalui pemanfaatan energi baru terbarukan yang bersih dan berkelanjutan.
Editor : Marthadi