LombokPost--Perjalanan Bandung–Jakarta kini punya banyak pilihan transportasi, mulai dari kereta cepat, kereta konvensional, bus, hingga shuttle.
Kereta cepat menawarkan waktu perjalanan antarstasiun sekitar 30–46 menit dengan tarif mulai Rp150.000. Namun, waktu tempuh bukan satu-satunya pertimbangan ketika bepergian antarkota.
Shuttle tetap menjadi pilihan karena menawarkan titik keberangkatan dan tujuan yang lebih dekat dengan aktivitas penumpang.
Salah satu operator yang telah lama melayani rute ini adalah baraya travel, yang hadir sejak 2006 dan menyediakan layanan travel bandung jakarta.
Lantas, mengapa shuttle masih banyak digunakan untuk perjalanan Bandung–Jakarta meski tersedia moda transportasi yang lebih cepat? Berikut tujuh alasan yang membuat shuttle tetap menjadi pilihan penumpang.
1. Tarif Paling Ringan di Antara Moda Cepat
Dari sisi tarif, shuttle berada di lapisan yang relatif terjangkau untuk perjalanan Bandung–Jakarta.
Tarif Baraya Travel, misalnya, tersedia mulai dari Rp64.999 untuk beberapa rute dan umumnya berada di kisaran Rp80.000 hingga Rp120.000 untuk rute standar.
Baca Juga: Pegadaian Praya Salurkan Bantuan Material untuk Dua Musala
Sebagai pembanding, tarif kereta cepat berkisar Rp150.000 hingga Rp250.000 pada hari kerja di luar jam sibuk.
Operator lain juga menawarkan pilihan tarif berdasarkan kelas.
Pasteur Trans, misalnya, memasang tarif shuttle standar sekitar Rp100.000–Rp150.000, sedangkan layanan premium dapat mencapai Rp200.000.
2. Titik Naik Tersebar, Bukan Terpusat di Satu Stasiun
Berbeda dengan kereta cepat yang beroperasi dari stasiun tertentu, shuttle memiliki titik keberangkatan yang tersebar di berbagai lokasi.
Baraya Travel, misalnya, mengoperasikan lebih dari 30 gerai di Jakarta, Bandung, dan sekitarnya.
Sebaran titik ini membuat penumpang dapat memilih lokasi yang lebih dekat dengan rumah atau tujuan aktivitas.
Layanannya juga menjangkau wilayah seperti Bekasi, Cibubur, dan Tangerang di Jabodetabek, serta Cimahi dan Majalengka di Jawa Barat.
Sementara itu, Pasteur Trans memiliki pool di beberapa lokasi, termasuk Jalan Pasteur Bandung, Margonda Raya Depok, dan Mega Bekasi Hypermall.
3. Tidak Butuh Moda Lanjutan di Kota Tujuan
Shuttle memiliki keunggulan lain karena titik turun umumnya berada di dalam kota.
Penumpang kereta cepat yang tiba di Padalarang masih perlu menggunakan kereta feeder selama sekitar 18 menit untuk melanjutkan perjalanan ke Stasiun Bandung.
Baca Juga: RSUD Ruslan Mataram Matangkan Akreditasi, Keselamatan Pasien Jadi Fokus
Pada shuttle, perjalanan dapat berakhir lebih dekat dengan tujuan akhir. Contohnya, rute Bandung–Jakarta dapat memiliki titik turun di kawasan seperti Sarinah dan Slipi.
Kondisi ini membuat waktu dan biaya untuk transportasi lanjutan dapat ditekan.
4. Jadwal Rapat dari Subuh sampai Malam
Pilihan jadwal menjadi salah satu pertimbangan ketika memilih shuttle.
Baraya Travel melayani keberangkatan pertama dari Jakarta sekitar pukul 05.00 dan keberangkatan terakhir sekitar pukul 21.40.
Outlet seperti Tebet juga memiliki jadwal mulai pukul 06.00 hingga 20.30 WIB.
Dalam satu hari, pilihan keberangkatan tersedia dari pagi hingga malam.
Penumpang pun dapat menyesuaikan waktu perjalanan dengan agenda kerja, kuliah, atau kegiatan lainnya tanpa terlalu bergantung pada satu jadwal keberangkatan.
5. Waktu Tempuh Kompetitif Lewat Tol
Shuttle menggunakan jaringan jalan tol untuk menghubungkan Bandung dan Jakarta. Jarak kedua kota sekitar 188 km dengan waktu tempuh normal sekitar 3 jam 40 menit.
Jadwal perjalanan menunjukkan rute Halte UKI Cawang–Buah Batu dapat ditempuh sekitar 3 jam 35 menit, sedangkan Sarinah–Buah Batu sekitar 4 jam.
Angka tersebut merupakan waktu perjalanan dari pool atau titik keberangkatan ke titik tujuan, bukan antarstasiun.
Meski demikian, waktu tempuh shuttle sangat dipengaruhi kondisi lalu lintas.
Baca Juga: Bank NTB Syariah dan Kementerian PKP Perkuat Sinergi Pembiayaan Perumahan di NTB
Kemacetan pada akhir pekan dan periode libur panjang dapat memperpanjang perjalanan secara signifikan.
6. Fleksibilitas Ubah Jadwal
Shuttle juga memberikan fleksibilitas ketika rencana perjalanan berubah. Baraya Travel, misalnya, menyediakan layanan reschedule hingga maksimal 30 menit sebelum keberangkatan dengan syarat dan ketentuan tertentu.
Fasilitas ini dapat berguna bagi penumpang yang jadwalnya sulit dipastikan sejak awal.
Pekerja dan mahasiswa yang melakukan perjalanan pulang-pergi, misalnya, dapat menyesuaikan waktu keberangkatan dengan aktivitas pada hari tersebut.
7. Kabin Kecil dengan Kursi Terpilih
Kapasitas armada shuttle yang lebih kecil memberikan pilihan konfigurasi kursi yang berbeda dari bus reguler.
Layanan kelas Executive pada koridor ini, misalnya, menggunakan armada berkapasitas 12 penumpang.
Fasilitas yang tersedia dapat mencakup pendingin udara, kursi recliner, bagasi, dan air minum.
Beberapa operator juga menyediakan captain seat dengan ruang duduk yang lebih lega. Penumpang dapat memilih kelas sesuai kebutuhan dan anggaran perjalanan.
Shuttle tetap memiliki peran dalam koridor Bandung–Jakarta karena menawarkan kombinasi tarif, titik keberangkatan yang tersebar, pilihan jadwal, dan perjalanan langsung ke berbagai kawasan.
Baca Juga: TPU Harum Belum Dibuka, Pemkot Pastikan Kawasan Tetap Terawat
Fleksibilitas reschedule serta pilihan armada dengan kapasitas kecil juga menjadi pertimbangan bagi penumpang yang rutin melakukan perjalanan.
Namun, waktu tempuh tetap bergantung pada kondisi lalu lintas sehingga faktor ini perlu diperhitungkan saat menentukan jadwal.
Banyaknya operator dan titik keberangkatan membuat perbandingan sebelum memesan menjadi penting.
Traveloka memudahkan Anda membandingkan operator, titik naik dan turun, jadwal, fasilitas, serta harga dalam satu halaman pencarian.
Bandingkan pilihan yang tersedia dan pesan tiket shuttle perjalanan Anda melalui situs atau aplikasi Traveloka.
Editor : Kimda FaridaSumber : siaran pers