LombokPost - Banyak orang agaknya sudah memahami, Indonesia adalah negara kepulauan dengan lebih dari 17.500 pulau di dalamnya. Tapi, hal itu baru bermakna ketika jembatan lautnya benar-benar bekerja.
Di sinilah peran PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) menjadi sangat penting, bukan sekadar operator penyeberangan, tapi juga penjaga denyut mobilitas nasional.
Dalam kasus Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang ber karakteristik kepulauan, kemajuan daerah turut diukur lewat keandalan kapal.
Baca Juga: Ruben Amorim di AC Milan Tak Sama dengan Ruben Amorim di Manchester United
Contoh paling sederhana, Lintasan Kayangan-Poto Tano yang menghubungkan Kabupaten Lombok Timur dengan Kabupaten Sumbawa Barat. Lintasan ini menghubungkan Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa yang terpisah Selat Alas.
Data ASDP Januari-Agustus 2025 mencatat lintasan ini melayani 889.682 penumpang dan 252.973 unit kendaraan.
Sepeda motor mendominasi, disusul mobil pribadi, menggambarkan ratusan ribu warga Lombok dan Sumbawa menggantungkan hidupnya pada kapal.
Baca Juga: Samara Lombok Borong Dua Penghargaan Nasional
Padi dari Lombok Tengah, jagung dari Dompu, sapi dari Bima, hingga hasil laut dari Sumbawa, semua bergerak lewat kapal ASDP, dari Sumbawa ke Lombok dan sebaliknya dari Lombok ke Sumbawa.
Saat Mandalika di Lombok menggelar MotoGP atau ketika Samota di Sumbawa menggelar MXGP, puluhan ribu penonton juga menyeberang lewat jalur ini.
Pada MXGP 2023 lalu, ASDP bahkan menyiapkan 27 unit kapal sekaligus untuk mendukung pagelaran motor cross tingkat dunia itu.
Baca Juga: IHAA Greater Asian Championship 2026: Atlet Berkuda Memanah NTB Tio Fawwaz Ananta Sabet Dua Emas
Jalur Kayangan-Poto Tano ini bukan tanpa tantangan. Awal 2026, dari 28 kapal terdaftar di lintasan itu, data memperlihatkan hanya 18 yang laik operasi.
Sisanya docking dan perawatan, menjadikannya alarm bahwa penguatan armada bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak.
Kapal-kapal di sana memberi dua fungsi sekaligus yang sama penting dan krusialnya.
Baca Juga: IHSG Diproyeksi Masih Dibayangi Tekanan Global
Pertama, untuk mobilitas penumpang semisal bagi para pemuda asal Pulau Sumbawa yang bersekolah dan kuliah di Kota Mataram, Pulau Lombok.
Juga bagi tenaga kesehatan, tenaga pendidikan, bahkan para pedagang yang bertugas, mengajar, dan berdagang lintas pulau, kapal di Pelabuhan Kayangan atau Pelabuhan Poto Tano adalah bus kota mereka.
Kedua, untuk mobilitas logistik. Di lintasan Lembar-Padang Bai yang menghubungkan Lombok, NTB dengan Provinsi Bali sama pentingnya dengan Kayangan-Poto Tano.
Baca Juga: Temukan Sawah Kekeringan 7 Bulan di Bekasi, Menteri PU Ancam Copot Pejabat Ditjen SDA
Di lintasan-lintasan itu, truk logistik yang mengangkut berbagai kebutuhan adalah tulang punggung ekonomi Lombok, tulang punggung ekonomi Sumbawa, bahkan juga tulang punggung ekonomi dia provinsi bertetangga NTB dan Bali.
Ketika kapal terhambat semisal karena cuaca buruk, atau panjangnya antrean, harga cabai di Mataram bisa naik, stok semen di Sumbawa bisa menipis.
Di tangan ASDP sungguh mereka sedang menjaga stabilitas harga di dapur-dapur warga 10 Kabupaten/kota di NTB.
Baca Juga: Indonesia vs Malaysia: Memahami Arti Derbi Nusantara dan Menjaga Fokus di GBK
Dengan pentingnya peran ASDP, ada hal-hal yang perlu terus dibenahi
Pertama, peremajaan dan penambahan armada. Sebagai contoh, usulan ASDP Cabang Kayangan untuk menambah satu kapal baru harus didukung pusat. Jalur sepadat ini idealnya punya cadangan operasi 25-30 persen agar tidak pincang saat docking.
Kedua, pelabuhan sebagai waterfront destination. Konsep yang sudah sukses di Marina Labuan Bajo, Provinsi NTT, tetangga NTB harus direplikasi di Kayangan dan Lembar.
Baca Juga: Diserbu Tim Gabungan Malam Hari! Jukir Liar Cakra, Selaparang, dan Sekarbela Tak Bisa Berkutik
Pelabuhan bukan lagi tempat kumuh untuk antre, tapi ruang publik wisata, UMKM, dan ekonomi kreatif. Ini sejalan dengan visi NTB Makmur Mendunia yang dicanangkan kepala daerah saat ini, dan ingat, Lombok dengan Mandalika-nya adalah salah satu destinasi super prioritas Indonesia.
Ketiga, keselamatan dan digitalisasi. Aturan baru kendaraan listrik yang baterainya wajib di bawah 20 persen saat menyeberang di Kayangan dan Poto Tano menunjukkan standar keselamatan ASDP makin ketat. Ini harus diimbangi kesigapan petugas di lapangan yang lebih akurat dan informasi cuaca BMKG yang real-time di pelabuhan.
Pada akhirnya, membangun NTB tidak bisa hanya dengan membangun jalan bypass di Lombok atau bendungan di Sumbawa. Kita butuh armada yang kuat untuk menyatukan keduanya.
Baca Juga: Tidak Disiplin dan SKP Tak Lengkap, SK PPPK Paro Waktu Mataram Tak Akan Diperpanjang
ASDP bukan hanya soal kapal yang berlayar, dia adalah tentang bagaimana dia saudara se-provinsi di Lombok dan Sumbawa bisa bisa terus terhubung tanpa terputus oleh selat.
Itulah makna sesungguhnya dari jalur transportasi laut yang harus terus dijaga ASDP.
Editor : Prihadi ZoldicSumber : Lombok Post