LombokPost - Tahun 2021, masker dobel, handsanitizer di saku, dan aturan jaga jarak di mana-mana. Bepergian saat itu bukan soal nyaman, tapi soal berani atau tidak. Itulah yang dirasakan Irma Dian Sari, ibu muda dengan dua anak.
Di waktu itu, ada satu momen yang tak terlupakan olehnya, harus bepergian dengan dua balita, membawa tas besar perlengkapan bayi, hingga bak mandi plastik. Bisa dibayangkan repotnya Irma kala itu.
Satu tangan menggendong anak yang paling kecil, Kenzie Rafasya namanya. Satu tangan lainnya memapah Arva Arroya, anak sulung yang kala itu masih berusia empat tahun. Belum lagi dia harus membawa tas yang berisi pakaian anak-anaknya dan bak mandi, juga kereta dorong anak, sambil memastikan si kecil tetap pakai masker dan face shield. “Kalau ingat momen itu rasanya mau nangis,” katanya.
Baca Juga: Keputusan AC Milan, Biarkan Fikayo Tomori dan Ruben Loftus-Cheek Pergi Bebas di 2027
Waktu itu, Irma hendak pergi dari rumahnya di Kabupaten Lombok Barat, ke rumah mertua di Kota Mataram. Sedangkan di rumah hanya ada sepeda motor, dan sang suami belum pulang bekerja.
Di tengah kepanikan itu, diputuskan menghubungi Blue Bird, dan yang datang bukan sekadar mobil biru. Yang datang adalah seorang pengemudi yang tanpa diminta, ia turun. Membukakan bagasi lebar-lebar. Menata bak mandi plastik, kereta dorong anak, dan semua bawaan yang ada satu per satu, seolah sedang menata barangnya sendiri. Ia tidak mengeluh. Tidak buru-buru. Ia justru tersenyum di balik masker dan berkata, "Ibu tenang saja, kita pelan-pelan," kata sang pengemudi Bluebird.
Bukan tanpa alasan Irma menuju rumah mertua. Dia merasa ada yang tak biasa dengan kondisinya. Badannya sedikit meriang, kepalanya pusing, dan yang paling membuatnya khawatir adalah penciuman dan perasa cenderung berkurang. “Waktu itu firasat saya, saya positif. Makanya saya mau titipkan anak di rumah mertua, terus mau periksa ke rumah sakit,” kenangnya.
Baca Juga: 800 Pramuka di Lombok Timur Dapat Edukasi Keamanan Obat dan Makanan
Di dalam mobil, AC dinyalakan tidak terlalu dingin karena ada bayi. Musik dimatikan oleh sopir Bluebird agar anak-anaknya tidak kaget. Setiap polisi tidur di komplek rumahnya sebelum bertemu jalan besar dilewati pelan. “Dan yang paling saya ingat, pengemudi itu beberapa kali menengok lewat spion. Rasanya bukan untuk mengawasi, tapi memastikan si kecil baik-baik saja,” ceritanya lagi.
Bagi ibu dua anak itu, hal tersebut bukan sekadar mengantar dari titik A ke titik B. Itu melayani dengan empati. Standar yang tidak tertulis di argometer kendaraan. Banyak yang mengira keunggulan Bluebird hanya pada armada yang bersih dan argo yang jujur.
Padahal, DNA perusahaan taksi berusia 50 tahun lebih itu ada pada satu hal, pengemudi adalah pelayanan. Mereka dilatih bukan hanya mengemudi defensif, tapi juga defensive empathy. Cara membantu penumpang difabel, cara menenangkan penumpang yang panik, cara menjaga privasi pelanggan.
Baca Juga: Jejak Karier Komjen Suyudi Ario Seto, dari Reserse hingga Calon Kapolri
Di masa pandemi 2021, standar itu diuji. Bluebird menerapkan protokol ketat. Penyemprotan disinfektan setiap selesai trip, sekat pemisah, cek suhu pengemudi setiap pagi. Tapi yang paling diingat pelanggan seperti Irma justru hal kecil, pengemudi yang mau menunggu lebih lama karena penumpang harus menenangkan balita yang menangis. Yang tidak membunyikan klakson terus-menerus.
Itulah yang membedakan transportasi sebagai jasa, dan transportasi sebagai rasa aman. Dalam konteks Pulau Lombok, Provinsi NTB saat ini, daerah sedang bangkit. Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid ramai lagi, Mandalika mendunia, Gili Tramena kembali dipenuhi turis. Wisatawan yang datang ke NTB bukan hanya butuh diantar, tapi butuh merasa dijaga.
Bukan hal baru, cerita wisatawan asing di Senggigi atau turis domestik di Pelabuhan Lembar yang kerepotan bawa koper besar, bawa papan selancar, bawa anak kecil kerap terdengar di Lombok. Di titik itu, standar pelayanan seperti yang ditunjukkan pengemudi Bluebird menjadi cerminan pariwisata NTB. Lombok Post beberapa kali menulis tentang keluhan wisatawan soal transportasi yang tidak jelas tarifnya. Di tengah itu, kehadiran transportasi yang mengedepankan empati, profesionalisme, dan standar yang konsisten seperti yang Irma Dian Sari rasakanadalah pelajaran penting.
Baca Juga: BNPB dan GIZ Rintis Skema Pembiayaan Risiko Bencana Terukur dari NTB untuk Nasional
Wisatawan mungkin lupa berapa Rupiah argo mereka. Tapi mereka tidak akan lupa siapa yang membantu mengangkat bak mandi plastik bayinya saat dunia sedang penuh ketakutan. Lebih dari sekadar logo burung biru, kini bak mandi plastik itu sudah tidak terpakai. Anak-anak sudah lebih besar, Arva sudah berusia sembilan tahun dan Kenzie menuju tujuh tahun. Tapi cerita tentang bapak pengemudi Bluebird di tahun 2021 itu masih layak diceritakan sampai sekarang.
Karena pada akhirnya, orang tidak hanya membayar untuk perjalanan. Orang membayar untuk ketenangan. Dan di masa pandemi yang penuh ketidakpastian itu, Bluebird mengajarkan satu hal. Melayani lebih dari sekadar mengantar, berarti hadir sebagai manusia untuk manusia lain. Saat semua orang menjaga jarak, ada yang tetap memilih untuk peduli dari balik kemudi.
Editor : Prihadi ZoldicSumber : Lombok Post