Pulau Kenawa Terbakar, Cantiknya Kebangetan, Rapuhnya Juga Sama

Prihadi Zoldic • Dipublikasikan Minggu, 4 Oktober 2026 | 15:12 WIB
API MENJALAN: Situasi kebakaran di Pulau Kenawa, Sumbawa Barat. (Ist/LombokPost)
API MENJALAN: Situasi kebakaran di Pulau Kenawa, Sumbawa Barat. (Ist/LombokPost)

 

LombokPost - Kalau ditanya pulau kecil paling fotogenik di Sumbawa Barat, jawabannya hampir pasti satu, Pulau Kenawa.

Pulau kecil tak berpenghuni yang luasnya hanya sekitar 15 hektare ini terlihat sepele dari kejauhan.

Hanya bukit savana, pasir putih, dan satu dermaga kayu yang sudah miring.

Baca Juga: Ruben Amorim Temukan Pakem Baru AC Milan yang Lebih Fleksibel

Tapi begitu kaki menginjak di sana, semua orang langsung paham kenapa 400 sampai 500 wisatawan rela antre tiap akhir pekan untuk menyeberang ke Pulau Kenawa. 

Kenawa itu bukan pulau biasa. Dia adalah padang Teletubbies yang mengapung di tengah laut.

Di musim hujan, seluruh bukitnya berubah hijau menyala seperti karpet beludru.

Baca Juga: Blak-Blakan Mario Gila, Tolak Inter Milan dan Napoli demi AC Milan

Di musim kemarau, ia menguning keemasan, cokelat eksotis yang jika diterpa angin terlihat seperti ombak di darat.

API MENJALAN: Situasi kebakaran di Pulau Kenawa, Sumbawa Barat. (Ist/LombokPost)
API MENJALAN: Situasi kebakaran di Pulau Kenawa, Sumbawa Barat. (Ist/LombokPost)

 

Dari puncak bukitnya yang tingginya hanya 10 menitan jalan kaki, terlihat jelas Gunung Rinjani di barat dan Gunung Tambora di timur.

Di malam hari, tanpa polusi cahaya sama sekali, langitnya adalah planetarium alami.

Baca Juga: KPK Sita Rp 1 Miliar Lebih dan USD 49 Ribu dari Dua ASN Pajak di Kasus KPP Banjarmasin

Bima Sakti terlihat jelas dengan mata telanjang, karena itu, camping adalah aktivitas paling sakral di sini.

Tidak ada hotel, tidak ada listrik, tidak ada warung.

Hanya suara ombak dan bintang, di sisi timurnya, ada hutan mangrove seluas 2,4 hektar yang menjadi benteng alami pulau.

Baca Juga: Komisi III DPR Dorong Kapolri Suyudi Perkuat Polri Humanis dan Pelayanan Publik

Tapi justru karena kealamiannya itulah, Kenawa sangat rapuh.

Savana itu adalah bahan bakar alami, dan benar saja, kini jagad maya dihebohkan kabar kebakaran di sana. 

Pulau ini sudah beberapa kali terbakar dan hampir selalu karena ulah manusia.

Baca Juga: Irjen Victor Lateka Jadi Wakil Komandan Korps Brimob, Pernah Bertugas di Densus 88 dan BIN

Dirangkum dari berbagai sumber, yang paling parah terjadi pada 20 Oktober 2021, sekitar pukul 09.30 Wita, warga Poto Tano melihat kepulan asap hitam dari tengah laut.

EKSOTIS: Hamparan savana hijau di Pulau Kenawa, surga kecil di Sumbawa Barat. (ISTIMEWA)
EKSOTIS: Hamparan savana hijau di Pulau Kenawa, surga kecil di Sumbawa Barat. (ISTIMEWA)

 

Ilalang kering yang terbakar, sekitar 15 orang warga langsung menyeberang dengan perahu kecil berusaha memadamkan api.

Angin kencang di Selat Alas membuat api semakin menjadi, suhu saat itu mencapai 35 derajat, baru sekitar pukul 12.00 Wita api bisa dipadamkan.

Baca Juga: Pengamat Soroti Kompetensi Kepala Bakom usai Qodari Diganti Syahganda

Beruntung tidak ada wisatawan saat itu. Polisi menyebut dugaan sementara kebakaran berasal dari kelalaian pemancing yang beristirahat di pulau dan meninggalkan bara api.

Kejadian serupa pernah terjadi lebih parah pada Juni 2018, dan penyebabnya lebih miris.

Seorang pengunjung yang tidak dikenal menyalakan kembang api pada malam hari saat camping.

Baca Juga: Bahlil Rangkap Menko Hilirisasi dan Menteri ESDM, Ekonom Nilai Koordinasi Bisa Lebih Terpadu

Api menyambar savana kering di bukit, spot foto paling ikonik di Kenawa, butuh waktu dari pukul 20.00 Wita hingga 23.30 Wita untuk memadamkannya dengan alat seadanya.

Padang ilalang yang cokelat itu berubah menjadi arang hitam dalam semalam, butuh satu musim hujan penuh agar hijau kembali.

Kini aturannya semakin ketat, dilarang keras membuat api unggun di savana, juga dilarang membawa kembang api dan petasan.

Baca Juga: Kementan Perkuat Mitigasi Karhutla, 2.000 Lebih Perusahaan Perkebunan Wajib Penuhi Standar

Masak hanya boleh pakai kompor gas portabel di area pasir dekat dermaga, dan sampah wajib dibawa pulang.

Kini kasus serupa kembali terjadi, belum pasti penyebabnya, entah akibat tangan manusia atau faktor alam karena musim kemarau panjang. 

Editor : Prihadi Zoldic
Sumber : Lombok Post
Pulau Kenawa Sumbawa Barat