LombokPost - Masyarakat di lingkar Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Mataloko, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, kini tidak lagi dipusingkan oleh persoalan air bersih saat kemarau datang. Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra) hadir memberikan solusi nyata bagi kebutuhan dasar warga di kawasan tersebut.
Perubahan paling terasa terjadi di Desa Radabata. Selama puluhan tahun, warga hanya mengandalkan tampungan air hujan pada musim basah, lalu terpaksa merogoh kocek Rp 150.000 per tangki saat kemarau yang hanya cukup untuk kebutuhan satu keluarga selama dua pekan.
Kepala Dusun Radabata, Andreas Lawe, menuturkan bahwa pengerjaan sumur bor bantuan PLN yang memakan waktu tiga minggu tersebut menjadi angin segar bagi warganya. Fasilitas ini ditargetkan mampu menjawab keterbatasan air bersih bagi ratusan warga desa.
"Sudah puluhan tahun Desa Radabata mengalami kendala air bersih. Kalau musim hujan, kami menampung air hujan, sedangkan saat musim kemarau terpaksa membeli air tangki. Dengan adanya bantuan sumur bor ini, kami berharap kebutuhan air bersih masyarakat desa yang totalnya sekitar 300 KK dapat terpenuhi," kata Andreas.
Baca Juga: Pertamina Tambah Pasokan Pertalite, Stok BBM Bali Ditarget Capai 48 Juta Liter
Secara teknis, pembangunan sumur bor di Radabata terbilang sangat menguntungkan warga. Posisinya yang berada di dataran lebih tinggi memungkinkan air dialirkan langsung menuju rumah-rumah penduduk dengan memanfaatkan sistem gravitasi murni tanpa perlu beban biaya pompa tambahan.
Kepala Seksi Kesejahteraan Desa Radabata, Hendrikus Jawa, mengapresiasi langkah PLN yang dinilai langsung menyentuh persoalan pokok masyarakat. Ia berpesan agar sarana ini dirawat secara gotong royong agar fungsinya terjaga dalam jangka panjang.
"Kami menyampaikan terima kasih kepada PLN UIP Nusra yang sudah memberikan bantuan sumur bor untuk desa kami. Semoga bantuan ini bermanfaat dan menjangkau masyarakat secara luas sehingga kebutuhan air bersih dapat terpenuhi. Kami juga berharap masyarakat bersama-sama menjaga bantuan ini agar pelayanan bisa berjalan maksimal," tutur Hendrikus.
Selain di Radabata, akses air bersih PLN juga telah mengalir ke 75 kepala keluarga (KK) di dua wilayah terdekat. Sebanyak 45 KK di Desa Dadawea dan 30 KK di Kelurahan Mataloko kini telah terhubung ke jaringan pipa air bersih.
Baca Juga: Pantau Posyandu Cempaka di Bungkulan, Satpol PP NTB Pastikan Pelaksanaan 6 SPM Berjalan Optimal
Tata kelola jaringan air di Desa Dadawea bahkan sudah berpayung hukum melalui surat keputusan (SK) pembentukan kelompok pengurus sejak 2025. Sementara di Kelurahan Mataloko, jaringan pipa sepanjang 300 meter telah terbangun dan pemerintah setempat sedang merancang pembentukan Badan Usaha Milik Kelurahan (BUMKel) guna mengelola operasional serta retribusi air secara profesional.
Assistant Manager Komunikasi dan TJSL PLN UIP Nusra, Riyan Dharma Putra, menyampaikan bahwa monitoring rutin terus dilakukan untuk mengawal pemanfaatan fasilitas dan kesiapan lembaga pengelolanya di tingkat desa.
"Kami terus berkoordinasi dengan pemerintah setempat dan masyarakat untuk melihat perkembangan pemanfaatan jaringan, kebutuhan warga, serta kesiapan kelembagaan pengelolanya," ujar Riyan. Evaluasi ini penting agar skema operasional dan pemeliharaan fasilitas tetap berkelanjutan.
Senada dengan hal itu, General Manager PT PLN (Persero) UIP Nusra RDW. Manurung menegaskan bahwa kunci keberhasilan program TJSL bertumpu pada kolaborasi aktif antara PLN, pemerintah daerah, dan warga penerima manfaat.
Baca Juga: MotoGP Mandalika: Antara Untung-Rugi Versus Evaluasi Nilai Publik
"Program TJSL harus menghadirkan manfaat yang nyata bagi masyarakat. Untuk itu, selain memastikan infrastruktur dapat dimanfaatkan, kami juga mendorong penguatan koordinasi dan pengelolaan bersama agar fasilitas air bersih dapat dijaga dan digunakan sesuai kebutuhan warga," tegas Manurung.
Editor : Marthadi