LombokPost - Dejan Antonic adalah salah satu dari tiga pemain asing pertama yang dimiliki oleh Persebaya Surabaya di musim 1995/96.
Pemain tengah yang dilahirkan di Beograd, ibukota Yugoslavia pada tanggal 22 Januari 1969 dikontrak di Bulan Juli 1995 untuk memperkuat lini tengah Tim Bajul Ijo (julukan Persebaya-pen).
Sebelum bermain untuk Persebaya Surabaya di Indonesia, Dejan merumput bersama SC Beveren di kasta kedua Liga Belgia. Karir juniornya mentereng.
Baca Juga: Mortal Kombat 2 Siap Tayang! Johnny Cage Muncul, Turnamen Berdarah Dimulai
Karena ikut membawa Yugoslavia U-21 menjadi juara Piala Dunia U-21 yang diadakan di Santiago, Chile pada tahun 1987.
Tim Yugoslavia U-21 ketika itu dilabeli sebagai golden generations oleh publik. Bukan tanpa sebab, karena di dalam tim bercokol nama-nama potensial.
Sebut saja Robert Jarni, Davor Suker, Zvonimir Boban, Igor Stimac hingga Robert Prosinecki. Dan dikemudian hari publik global akan mengingat nama-nama ini sebagai pemain-pemain sepak bola legendaris yang mendunia.
Baca Juga: Vonis Tom Lembong Bikin Geger! Anies Baswedan: Keadilan di Negeri Ini Masih Jauh dari Selesai
Di Surabaya, Dejan Antonic menggunakan kostum bernomor punggung 10. Menegaskan bahwa dirinya adalah playmaker di Persebaya Surabaya.
Namun ternyata penampilannya masih dirasakan kurang oleh pengurus Persebaya ketika itu. Alhasil karir Dejan hanya bertahan setengah musim saja di Surabaya.
Selama setengah musim Liga Indonesia 1995/96, Dejan Antonic mencatatkan 13 kali bermain dan menghasilkan dua gol serta tiga asis.
Baca Juga: Viral! CEO dan HR Mesra di Konser Coldplay, Kini Diperiksa Perusahaan
Sebenarnya Dejan tidaak bermain buruk di putaran pertama. Namun karena Persebaya Surabaya banyak meraih hasil imbang (terutama di kandang) yang menyebabkan Persebaya hanya berada di posisi ke-enam di klasemen sementara.
Hal ini berimbas kepada penilaian performa pemain asing. Tak hanya Dejan Antonic pemain asing yang dicoret di putaran pertama.
Pengurus Persebaya juga mencoret Nadoveza Branko, striker yang juga berasal dari Yugoslavia. Kisahnya akan dimuat dirilis selanjutnya.
Usai dicoret oleh Persebaya Surabaya, Dejan Antonic melanjutkan petualangannya di Indonesia bersama Persita Tangerang dan Persema Malang di dua musim berikutnya.
Baca Juga: Suhu Udara Dingin di Juli 2025 Bukan Karena Aphelion, Ini Penjelasan BMKG
Kesempatan Kedua
Persebaya Surabaya sedang berjuang untuk promosi dari Divisi Satu Liga Indonesia 2003. Di putaran pertama Grup C Tim Bajul Ijo yang dilatih oleh Muhammad Zein Alhadad bermain loyo dan hanya meraih enam poin dari lima pertandingan.
Memasuki putaran kedua, pengurus Persebaya lantas bergerak cepat untuk menyelamatkan performa tim. Pelatih lama dicoret dan digantikan dengan Jacksen F. Tiago yang masih baru di dunia kepelatihan sepak bola profesional di Indonesia.
Kemudian dua pemain asingnya didepak. Penyerang asal Paraguay, Adelio Salinas digantikan dengan penyerang asal Argentina, Alfredo Figueroa dan Brice Fomegne, playmaker berpaspor Kamerun dicoret dan diisi posisinya dengan Dejan Antonic.
Baca Juga: Superman 2025 Tayang di Bioskop, Ini 16 Kutipan Paling Ikonik Sepanjang Masa
Pemilihan Dejan Antonic sebagai salah satu pemain asing baru tidak salah. Performa Persebaya lantas meroket.
Sosok Dejan menjadi vital di dalam tim. Selain piawai dalam membagi bola, Dejan Antonic juga ahli dalam mencetak gol. Utamanya ketika terjadi situasi tendangan bebas.
Sering kali penonton di Stadion Gelora 10 November dibuat gembira ketika tendangan bebas kaki kiri dari Dejan merobek jala lawan. Sepanjang putaran kedua Grup C Persebaya tak pernah terkalahkan.
Baca Juga: Verve Senggigi Night Market: Pasar Malam Hits yang Langsung Bikin Jatuh Hati
Sedikit banyak tentu ini ada andil dari Dejan. Memasuki babak 8 Besar Persebaya dibawanya terbang tinggi untuk menjadi pemimpin klasemen dan dinobatkan sebagai juara Divisi Satu 2003.
Servis ekselen dari Dejan turut serta membawa Persebaya Surabaya kembali tampil di Divisi Utama 2004.
Usai mengantarkan Persebaya Surabaya menjadi juara Divisi Satu 2003, Dejan Antonic melanjutkan karirnya di Hong Kong bersama Kitchee FC hingga gantung sepatu di tahun 2005.
Kini publik bisa mengingat sosok pemain berdarah Montenegro ini sebagai pemain tengah jempolan dan pelatih yang kaya akan variasi taktik. (***)