LombokPost - Tur pra-musim klub Eropa di Indonesia dulu selalu jadi magnet besar. Tapi kini, suasananya sepi.
Klub Eropa seperti Manchester United, Chelsea, atau AC Milan tak lagi mampir ke Indonesia untuk tur pra-musim.
Mengapa? Justin Lhaksana membeberkan alasannya dalam podcast “THE PANGERAN & JUSTIN SHOW.”
Menurut Coach Justin, ada sejumlah alasan mengapa klub Eropa tidak lagi menjadikan Indonesia sebagai destinasi tur pra-musim.
Yang paling mencolok adalah biaya tur klub Eropa yang makin membengkak. Dulu sekitar 3 juta USD, kini bisa tembus 5 juta USD hanya untuk biaya penampilan. Itu belum termasuk logistik, keamanan, dan akomodasi.
“Manchester United saja sekarang bisa minta 5 juta USD. Itu belum termasuk hotel, transportasi, dan lainnya,” kata Justin Lhaksana.
Tak hanya itu, sponsor klub Eropa juga jadi batu sandungan. Banyak klub besar membawa aturan sponsor yang sangat ketat.
“Mereka tidak mau ada logo lain selain sponsor resmi mereka. Jadi penyelenggara lokal nggak bisa jual sponsor lokal buat nutupin biaya,” beber Coach Justin.
Secara bisnis, tur pra-musim di Indonesia pun kini dianggap tidak lagi menguntungkan. Penjualan tiket saja tidak cukup menutup biaya operasional. Harus ada sponsor raksasa yang bisa menopang dana besar tersebut, dan itu tidak mudah.
“Kalau cuma ngandelin tiket, nggak nutup. Harus ada sponsor besar. Kalau nggak, bisa rugi besar,” lanjutnya.
Lebih rumit lagi, minat penonton Indonesia juga mulai berubah. Klub papan tengah atau tim non-unggulan dari Eropa dinilai tidak cukup menarik.
“Kalau bukan tim besar atau tim Italia yang punya fans fanatik di sini, ya stadion kosong,” katanya tegas.
Laga persahabatan pun dinilai kurang greget. Tidak ada tensi atau taruhan besar seperti di laga kompetitif. Ini membuat banyak fans memilih menonton dari rumah atau tidak tertarik sama sekali.
“Pertandingan persahabatan ya gitu-gitu aja. Gak ada tensi, gak ada atmosfer. Fans kita pinginnya yang ‘berdarah-darah’,” ujar Justin.
Dengan segala tantangan tersebut, Indonesia kini tak lagi jadi prioritas tur pra-musim klub Eropa.
Dari biaya tur klub Eropa yang mahal, aturan sponsor yang ribet, hingga laga persahabatan yang dianggap garing, semuanya jadi pertimbangan serius.
Namun, bukan berarti peluang benar-benar hilang. Jika ada kolaborasi kuat antara penyelenggara, sponsor, dan pemerintah, mungkin euforia itu bisa dihidupkan lagi.
Untuk sekarang, penggemar sepak bola Indonesia harus puas hanya menyaksikan dari layar kaca. (***)
Editor : Alfian Yusni