LombokPost - Liverpool bisa saja sedang menyiapkan senjata paling menakutkan di Eropa. Bukan sekadar nama besar, tapi trio dengan chemistry maut: Mohamed Salah, Alexander Isak, dan Hugo Ekitike.
Bayangkan kombinasi ini. Salah tetap jadi magnet utama, menarik dua hingga tiga bek sekaligus di sisi kanan.
Namun, berbeda dari citra lamanya, kini Salah lebih banyak melepas umpan kunci ketimbang ego mencetak gol.
Dia adalah bintang paling tidak egois Liverpool saat ini, dan itu justru yang membuatnya makin berbahaya.
Lalu ada Isak. Striker elegan, bukan sprinter gila. Dia bukan Darwin Nunez yang sering boros peluang.
Isak hidup di ruang yang ditinggalkan Salah. Satu sentuhan, sudut cerdas, dan penyamaran yang halus membuatnya jadi mimpi buruk kiper lawan. Singkatnya, dia adalah anti Nunez sejati, efisien dan klinis.
Kemudian hadir Ekitike. Pemain tak terduga. Kadang melebar, kadang turun, kadang menusuk.
Bukan sekadar penyerang, tapi juga kreator. Dia bisa mencetak gol, tapi juga bisa membuka ruang bagi Isak dan Salah.
Fleksibilitasnya membuat lini depan Liverpool sulit ditebak. Formasi terasa cair, lawan sulit menemukan pola. Hasilnya? Kekacauan di pertahanan lawan.
Menurut Greig Hopcroft, Direktur AnfieldIndex, kombinasi tiga pemain ini bisa jadi mimpi buruk bagi bek lawan.
“Ada perpaduan antara ancaman, pergerakan, dan ancaman lagi dalam satu gagasan. Salah, Isak, dan Ekitike jika ditempatkan bersama, bisa menciptakan mimpi buruk bagi pertahanan lawan. Mereka saling melengkapi dengan gaya berbeda, tapi punya satu tujuan: mencetak gol dan menghancurkan lawan,” ujarnya.
Hopcroft menambahkan, data juga mendukung pengamatan mata. Isak bisa mengonversi peluang yang sering terbuang oleh Nunez.
Ekitike menciptakan opsi yang sebelumnya tak ada. Dan Salah, tetap jadi motor penggerak serangan dengan visi pembunuh.
“Jika Liverpool memberi waktu bagi mereka untuk menyatu sebagai trio, bukan hanya sebagai individu, maka mereka akan mencetak gol dan menciptakan ketakutan. Lawan bisa merasa kalah bahkan sebelum peluit kick-off dibunyikan,” kata Hopcroft.
Pendapat serupa juga datang dari mantan gelandang Chelsea, Florent Malouda. Ia menilai belanja besar Liverpool justru membuat Salah semakin berbahaya.
“Kalau kita lihat Mo Salah, dia selalu bisa memperbarui dirinya dan menemukan ruang di mana ia bisa lebih efektif," ujar Malouda kepada Boyle Sports.
Dengan adanya Isak, Ekitike, dan juga Florian Wirtz, tambah Malouda, dia akan semakin mematikan. Liverpool sendiri melakukan perombakan besar di lini depan.
Mereka mendatangkan Florian Wirtz dari Bayer Leverkusen dengan nilai awal £100 juta, serta melepas Darwin Numez dan Luis Díaz untuk menjaga neraca finansial.
Dari penjualan itu, klub meraup sekitar £135 juta. Malouda menekankan bahwa kini waktunya Salah membangun koneksi dengan para pemain baru.
“Yang penting adalah bagaimana pemain baru ini bisa menerima kepemimpinan Mo Salah dalam peran menyerang,” tambahnya. (***)
Editor : Alfian Yusni