Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

GBT Tak Lagi Angker! Persebaya Surabaya Tumbang di Kandang, Bonek Mulai Resah

Alfian Yusni • Minggu, 19 Oktober 2025 | 08:53 WIB
Penurunan performa ini menjadi alarm keras bagi Eduardo Perez untuk segera membenahi skema permainan. (Foto: instagram)
Penurunan performa ini menjadi alarm keras bagi Eduardo Perez untuk segera membenahi skema permainan. (Foto: instagram)

LombokPost - Gelora Bung Tomo (GBT) Surabaya yang dulu dikenal sebagai benteng kokoh Persebaya Surabaya kini mulai kehilangan wibawa.

Empat laga kandang di Super League 2025/2026 jadi sorotan tajam karena Persebaya Surabaya tak lagi tampil sekuat biasanya di depan ribuan Bonek.

Terbaru, Persebaya Surabaya harus menelan kekalahan pahit 1-3 dari tamunya Persija Jakarta pada laga pekan ke-9, Sabtu (18/10) malam.

Hasil ini menambah daftar panjang hasil minor di GBT yang kini tak lagi menakutkan bagi tim lawan.

Persebaya Surabaya Kalah di Kandang Sendiri

Dalam laga tersebut, Persebaya Surabaya tertinggal dua gol di babak pertama dan kesulitan menemukan ritme permainan terbaiknya.

Pelatih Eduardo Perez mencoba mengubah arah laga dengan memasukkan Gali Freitas menggantikan Malik Risaldi demi menambah daya serang.

Perubahan itu sempat membawa harapan ketika Mihailo Perovic menjebol gawang Persija di awal babak kedua.

Namun, sorakan ribuan Bonek mendadak terhenti setelah wasit menganulir gol tersebut karena dianggap offside.

Green Force terus berusaha bangkit. Gali Freitas menjadi motor utama serangan cepat lewat sisi sayap.

 

Beberapa kali tembakannya nyaris berbuah gol, namun kiper Carlos Eduardo tampil gemilang menepis setiap ancaman.

Justru Persija Jakarta yang menambah keunggulan melalui titik putih setelah pelanggaran Catur Pamungkas di kotak penalti menit ke-73.

Allano de Lima yang menjadi eksekutor menuntaskan tugas dengan tenang dan membawa Macan Kemayoran unggul 3-0.

Persebaya Surabaya baru bisa memperkecil ketertinggalan lewat sundulan Leo Lelis setelah memanfaatkan umpan sepak pojok Francisco Rivera di menit ke-77. Gol itu hanya menjadi penghibur karena hingga peluit akhir berbunyi, skor 1-3 tak berubah.

GBT Tak Lagi Jadi Benteng Hijau

Hasil ini membuat Persebaya Surabaya tertahan di posisi ketujuh klasemen sementara dengan 10 poin dari sembilan laga.

Dari empat laga kandang musim ini, dua di antaranya berakhir dengan kekalahan, sesuatu yang jarang terjadi di GBT selama beberapa musim terakhir.

Rinciannya: Persebaya Surabaya kalah 0-1 dari PSIM Jogjakarta, menang 5-2 atas Bali United, menang tipis 1-0 atas Semen Padang, dan kalah 1-3 dari Persija Jakarta.

Hanya saat melawan Bali United, Green Force benar-benar tampil menggigit dan mendominasi penuh jalannya pertandingan.

Sementara kemenangan atas Semen Padang disebut banyak pihak sekadar ugly win karena permainan Persebaya Surabaya tak meyakinkan. Meski meraih tiga poin, performa tim dinilai kurang konsisten dan kehilangan tempo di babak kedua.

Catatan ini membuat publik Bonek mulai resah. Mereka mempertanyakan semangat dan mental juang tim di kandang. GBT yang selama ini dikenal angker kini terasa lebih bersahabat bagi lawan.

 

“GBT bukan cuma stadion, tapi simbol kebanggaan. Kalau di rumah sendiri saja susah menang, itu bikin sakit hati,” keluh salah satu Bonek usai laga.

Penurunan performa ini menjadi alarm keras bagi Eduardo Perez untuk segera membenahi skema permainan.

Dukungan Bonek Mania di setiap laga kandang begitu luar biasa dan layak dibayar dengan penampilan agresif serta penuh determinasi.

Beberapa suporter menilai, masalah terbesar Persebaya Surabaya ada pada transisi bertahan yang sering terlambat.

Saat melawan Persija, lini belakang mudah ditembus lewat serangan balik cepat. Selain itu, efektivitas lini depan juga menurun karena banyak peluang emas terbuang sia-sia.

Harapan untuk Bangkit di Rumah Sendiri

Dengan kualitas pemain seperti Mihailo Perovic, Francisco Rivera, dan Gali Freitas, Persebaya Surabaya seharusnya bisa tampil lebih tajam. Namun, tanpa koordinasi dan konsistensi permainan, potensi besar itu sulit maksimal.

Empat laga kandang ini menjadi sinyal keras: GBT harus kembali ke identitas aslinya sebagai benteng hijau yang menakutkan.

Green Force dituntut segera bangkit agar keangkeran GBT tak benar-benar hilang dari ingatan publik sepak bola Indonesia.

Bagi Bonek, GBT bukan sekadar tempat pertandingan, tapi rumah kebanggaan dan simbol semangat pantang menyerah.

Mereka menunggu momen kebangkitan Persebaya Surabaya, agar setiap laga kandang kembali terasa seperti pesta kemenangan di rumah sendiri. (***)

 

Editor : Alfian Yusni
#gelora bung tomo #persebaya #Super League #gbt #persija