Pengumuman tersebut dirilis oleh manajemen Benfica pada Jumat (27/2/2026) waktu setempat. Insiden memilukan ini terjadi saat laga leg pertama babak playoff 16 besar yang digelar awal bulan ini.
Kekalahan Benfica pada 17 Februari lalu dari Real Madrid dinodai oleh dugaan pelecehan rasial yang ditujukan kepada bintang asal Brasil, Vinicius Junior. Insiden tersebut dilaporkan melibatkan Gianluca Prestianni dari pihak Benfica.
Suasana pertandingan sempat memanas sesaat setelah Vinicius mencetak gol penentu. Akibat dugaan pelecehan tersebut, wasit terpaksa menghentikan pertandingan selama kurang lebih 10 menit guna menenangkan situasi di lapangan.
Real Madrid sendiri akhirnya memastikan langkah ke babak 16 besar setelah meraih kemenangan agregat 3-1 atas tim asal Portugal tersebut pada laga leg kedua, Rabu kemarin.
Sanksi Tegas hingga Pengusiran
Sebagai respons atas perilaku oknum suporternya, Benfica memulai proses disiplin internal yang sangat ketat. Selain penangguhan, status keanggotaan para pelaku juga telah dicabut untuk sementara waktu.
“Benfica menginformasikan bahwa mereka telah menangguhkan lima anggota dan mencabut kartu merah mereka setelah dimulainya proses disiplin yang dapat berujung pada sanksi maksimal sesuai anggaran dasar, yaitu pengusiran,” tulis pernyataan resmi klub.
Klub pemilik dua gelar juara Liga Champions ini juga menegaskan kembali posisinya dalam memerangi rasisme di dunia sepak bola.
“Benfica menegaskan bahwa mereka tidak mentolerir bentuk diskriminasi atau rasisme apa pun dan akan terus bertindak tegas setiap kali perilaku yang merusak nilai-nilai klub, olahraga, dan masyarakat terlibat,” tambah pernyataan tersebut.
Langkah berani Benfica ini mendapat apresiasi dari berbagai otoritas sepak bola internasional sebagai bentuk komitmen nyata untuk menciptakan lingkungan olahraga yang bersih dari rasisme dan kebencian.
Editor : Redaksi Lombok Post