LombokPost - AC Milan pernah punya Milan Lab, sebuah rahasia sains di balik dominasi Eropa klub merah hitam.
Era keemasan AC Milan 2000-an ditopang Milan Lab yang didirikan periode 2002 oleh ahli medis terbaik atas dukungan penuh Silvio Berlusconi.
Milan Lab milik AC Milan menjadi pusat riset medis dan olahraga paling revolusioner di sepak bola modern pada masanya.
Hal itu karena saat itu AC Milan menerapkan konsep revolusioner, prediksi bukan mengobati.
Data pemain dikumpulkan secara lengkap dan menyeluruh, di antaranya dengan tes fisik, neurologis dan biometrik setiap hari.
Monitoring performa berbasis angka dilakukan AC Milan, algoritma cedera juga bekerja.
Sistem komputer memprediksi risiko cedera, jika muncul “lampu merah”, pemain AC Milan langsung diistirahatkan.
Pelatih AC Milan kala itu, Carlo Ancelotti patuh pada rekomendasi data yang disajikan oleh Milan Lab.
Fokus AC Milan adalah lencegahan sebelum cedera terjadi, itu terbukti bisa memperpanjang karier para legenda.
Baca Juga: Ini 2 Pemain AC Milan yang Berpotensi Terbuang, dan 2 yang Berpotensi Bertahan
Ingat, rata-rata usia skuad juara Liga Champions AC Milan 2007 adalah 31 tahun, ini yang tertinggi dalam sejarah final modern.
Legenda menjadi awet berkat Milan Lab, tengoklah Paolo Maldini hingga Alessandro Costacurta yang bermain bagi AC Milan sampai usia 41 tahun.
Tengok pula striker AC Milan Filippo Inzaghi yang tetap tajam meski riwayat cedera di usia yang tak lagi muda.
Pemain seperti Cafu memiliki stamina luar biasa di usia lebih dari 30 tahun.
Milan Lab memberi bukti, bahwa usia hanyalah angka jika tubuh dirawat dengan baik oleh teknologi dan sains.
Kasus yang paling ikonik dan unik tentu saja gelandang AC Milan Clarence Seedorf.
Saat mengalami cedera selangkangan kronis, Milan Lab temukan penyebabnya dari gigi geraham, dan setelah perawatan gigi, cedera sang pemain hilang, dia pun tampil maksimal bersama AC Milan.
Pemain flamboyan seperti David Beckham yang datang di usia 33 tahun dari Liga Amerika yang jelas kalah kompetitif bisa terus beraksi.
Hasil tes menunjukkan kondisi fisiknya setara pemain 25 tahun, sehingga dia tetap kompetitif di Serie A bersama AC Milan.
Milan Lab yang merawat pemain dengan baik membuat banyak nama betah berseragam merah hitam AC Milan.
Loyalitas tinggi pemain karena mereka merasa dihargai dan tahu tubuh mereka dirawat oleh tim terbaik dunia.
Setelah 2010, pengaruh Milan Lab mulai memudar karena para pentolannya pergi dan klub lain semisal Real Madrid hingga Bayern Munich juga sudah meniru kreasi AC Milan.
Krisis finansial membuat investasi medis AC Milan menurun cukup besar.
Dan kini Milan Lab sebatas kenangan bagi AC Milan saat menggapai masa kejayaannya. (yuk/r6)