LombokPost - Tensi tinggi menyelimuti persiapan jelang laga hidup mati di babak 32 besar Piala Dunia. Duel sengit akan tersaji di San Francisco Bay Area Stadium ketika Amerika Serikat bersiap meladeni tantangan berat dari Bosnia dan Herzegovina demi mengamankan tiket ke fase berikutnya.
Sebagai tuan rumah, Amerika Serikat memikul ekspektasi besar dari publik sendiri untuk memenangkan pertandingan fase gugur pertama mereka sejak edisi 2002 silam. Namun, pelatih kawakan Mauricio Pochettino sadar betul bahwa Bosnia dan Herzegovina bukanlah lawan yang bisa dipandang sebelah mata dalam lanjutan jadwal Piala Dunia 2026 ini.
”Bosnia dan Herzegovina adalah tim yang sangat kompetitif, agresif, dan mengandalkan fisik yang kuat. Mereka juga sangat terorganisasi dengan baik di bawah asuhan pelatih yang jempolan,” puji Mauricio Pochettino.
Mantan manajer Chelsea dan PSG itu menambahkan bahwa kekuatan Bosnia dan Herzegovina sudah terlihat jelas sejak fase grup dan saat mereka menahan imbang Italia pada laga kualifikasi Maret lalu. Menurut Mauricio Pochettino, sang lawan memiliki kualitas individu dan kolektivitas tim yang bisa menjadi batu sandungan besar bagi Amerika Serikat di ajang Piala Dunia 2026 ini.
Menariknya, Mauricio Pochettino selalu menanamkan pola pikir kepada anak asuhnya untuk menganggap setiap pertandingan seperti laga final. Pendekatan mentalitas ini bahkan sudah ia coba terapkan jauh-jauh hari sebelum turnamen dimulai, termasuk saat melakoni laga uji coba intensitas tinggi melawan Jerman, Senegal, Uruguay, hingga Paraguay demi mematangkan performa tim.
Tak main-main dalam memburu trofi Piala Dunia 2026, Mauricio Pochettino bahkan membocorkan bahwa timnya telah bekerja sama dengan perusahaan analisis data khusus untuk mempersiapkan diri menghadapi babak adu penalti. Pelatih berusia 54 tahun itu ingin memastikan skuad Amerika Serikat memiliki alat dan kesiapan mental penuh jika laga di babak 32 besar nanti harus ditentukan lewat titik putih.
Ketika disinggung mengenai status tim unggulan, Mauricio Pochettino secara tegas menolak label tersebut demi menjaga fokus para pemain Amerika Serikat. ”Kami sangat menghormati Bosnia dan Herzegovina. Saya tidak percaya bahwa kami adalah favorit. Kita semua sudah melihat sendiri betapa sulitnya persaingan di Piala Dunia 2026 ini. Lebih mudah bicara favorit setelah laga usai,” cetusnya diplomatis.
Di sisi lain, pelatih Bosnia dan Herzegovina Sergej Barbarez, justru memiliki pandangan yang bertolak belakang. Barbarez secara blak-blakan menilai bahwa Amerika Serikat tetap menjadi favorit utama di laga babak 32 besar Piala Dunia ini karena faktor peringkat FIFA yang lebih tinggi serta keuntungan bermain di hadapan pendukung sendiri.
”Menjadi tim underdog tidak pernah menjadi masalah bagi kami. Namun, begitu peluit sepak mula berbunyi, status itu tidak lagi penting di dalam lapangan Piala Dunia 2026. Kami sudah mempelajari permainan lawan, menyiapkan taktik, dan ingin membuktikan kemampuan terbaik kami,” ujar pelatih berusia 54 tahun tersebut dengan penuh percaya diri.
Barbarez menegaskan bahwa Bosnia dan Herzegovina tidak akan bermain bertahan dan siap memberikan perlawanan habis-habisan demi mencetak kejutan besar dalam Hasil Piala Dunia 2026 nanti. Ia berjanji tidak akan mengubah gaya main menyerang yang telah mereka bangun selama 18 bulan terakhir, demi mewujudkan impian melihat para pemainnya merayakan kemenangan bersejarah atas Amerika Serikat.
Editor : Pujo Nugroho