LombokPost- Legenda Portugal, Luis Figo secara blak-blakan membongkar adanya faksi atau kelompok pemain di dalam skuad Portugal saat ini yang secara sengaja tidak menginginkan kehadiran Cristiano Ronaldo di tim nasional. Mantan bintang Real Madrid dan Barcelona itu mengecam sikap egois sejumlah penggawa muda yang dinilainya amnesia terhadap jasa besar luar biasa yang telah diberikan CR7 untuk negara.
Menurut Figo, penolakan terselubung terhadap Cristiano Ronaldo di internal Timnas Portugal muncul karena ego sektoral, di mana beberapa pemain merasa kehadiran sang megabintang justru menghalangi sinar mereka di lapangan. Figo mengingatkan dengan nada sengit bahwa di masa mudanya, Ronaldo tidak membutuhkan bantuan siapapun untuk mencetak gol dan memenangkan pertandingan sendirian. Selama belasan tahun, kapten ikonik tersebut telah menggendong nama baik Portugal di kancah internasional hingga disegani seperti sekarang.
Lebih lanjut, Figo menyoroti degradasi moral dan rasa hormat yang terjadi di dalam ruang ganti Timnas Portugal saat ini jika dibandingkan dengan era terdahulu. Ia menyentil keras tabiat sejumlah pemain muda sekarang yang dinilainya sangat arogan namun minim prestasi nyata untuk negara.
"Ketika Cristiano Ronaldo pertama kali dipanggil ke timnas, dia sangat menghormati semua pemain yang lebih tua darinya. Sekarang kita melihat anak-anak lelaki yang arogan di depan kita... Tapi apa yang sudah mereka menangkan? Tidak ada!" semprot Figo dengan nada geram.
Bagi Figo, satu-satunya alasan mengapa publik dunia dan skuad Selecao das Quinas bisa percaya diri dan memiliki mimpi besar untuk menjuarai Piala Dunia adalah karena keberadaan Cristiano Ronaldo. Striker legendaris itu adalah perwujudan dari negara Portugal itu sendiri di dunia sepak bola modern. Figo menegaskan bahwa kompatriotnya tersebut sangat layak mendapatkan rasa hormat yang absolut serta sebuah laga perpisahan yang megah dan terhormat, layaknya seorang legenda terbesar sepanjang masa.
Pernyataan bombastis dari Luis Figo ini bak menyiram bensin ke dalam api, mempertegas adanya keretakan pasca-tersingkirnya mereka dari Piala Dunia 2026. Isu miring ini tentu menjadi pekerjaan rumah yang sangat berat bagi pelatih baru Jorge Jesus untuk segera meredam konflik ego demi menjaga keharmonisan tim. Jika dibiarkan berlarut-larut, friksi internal antara kubu senior pendukung Cristiano Ronaldo dan kelompok pemain muda arogan ini bisa merusak persiapan mereka menatap kualifikasi Euro 2028.
Pada akhirnya, pembelaan terbuka dari Luis Figo menjadi bukti bahwa status Cristiano Ronaldo di mata para legenda sejati Portugal tetap tidak tergoyahkan oleh intrik politik ruang ganti. Publik kini menunggu bagaimana respons dari para pemain muda yang disindir, serta tindakan tegas apa yang akan diambil federasi untuk menyelamatkan internal Timnas Portugal. Bagaimanapun, menghormati jasa seorang legenda yang telah memberikan segalanya adalah fondasi utama sebelum sebuah tim bermimpi mengangkat trofi juara.
Editor : Rury Anjas Andita