Menangis Sendirian di Jerman pada Usia 15 Tahun, Son Heung-Min Kini Menjelma Jadi Legenda Sepak Bola

Ivan.Mardiansyah • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 01:14 WIB
Dulu menangis sendirian di Jerman saat umur 15 tahun, Son Heung-Min kini mengukir sejarah manis sebagai pesepak bola tersukses Asia.
Dulu menangis sendirian di Jerman saat umur 15 tahun, Son Heung-Min kini mengukir sejarah manis sebagai pesepak bola tersukses Asia.

 

LombokPost- Perjalanan karier bintang sepak bola asal Korea Selatan, Son Heung-Min, untuk mencapai puncak popularitas di panggung dunia tidak diraih dengan cara instan. Di balik gemerlap prestasi dan nama besarnya hari ini, tersimpan kisah perjuangan emosional serta pengorbanan luar biasa yang dimulai sejak usia yang sangat muda.

Keberanian luar biasa ditunjukkan oleh Son Heung-Min tatkala ia memutuskan untuk keluar dari zona nyaman dan meninggalkan tanah airnya saat baru menginjak usia 15 tahun. Langkah berani tersebut diambil demi mengejar mimpi besarnya menjadi pesepak bola profesional di Jerman, negara dengan atmosfer sepak bola yang sangat kompetitif dan keras.

Berada jauh dari orang tua serta keluarga terdekat membuat hari-hari awal perjalanan Son Heung-Min terasa amat berat. Menjalani kehidupan di negara asing dengan culture shock, perbedaan bahasa, hingga lingkungan yang sama sekali baru kerap membuat mental pemain muda ini terguncang dalam kesepian.

Baca Juga: Tottenham Ukir Rekor Buruk Tanpa Gol, Roberto De Zerbi Malah Sebut Dirinya Pelatih Terbaik di Italia

Hari-hari awal Son Heung-Min di Eropa diwarnai dengan derai air mata dan rasa lelah yang amat sangat. Meski menangis hampir setiap hari akibat rasa rindu rumah dan beratnya porsi latihan, tekad baja Son Heung-Min tidak pernah surut sedikit pun untuk mewujudkan impian masa kecilnya.

Ujian karier Son Heung-Min tidak berhenti sampai di situ, sebab gelombang kegagalan dan ketidakpastian terus menemani perjalanannya. Momen paling emosional kembali hadir pada Piala Dunia 2018 di Rusia, tatkala ia tertangkap kamera menangis tersedu-sedu usai Korea Selatan dipastikan tersingkir lebih awal dari turnamen tersebut.

Baca Juga: Pochettino Siap Pulang ke Tottenham 

Saat itu, bayang-bayang kegagalan meraih prestasi internasional juga mengancam masa depan karier profesional Son Heung-Min akibat kewajiban mengikuti program wajib militer di negaranya. Namun, mentalitas baja yang dimiliki Son Heung-Min membuktikan bahwa masa-masa sulit bukanlah alasan untuk menyerah pada keadaan.

Hanya selang beberapa bulan dari kegagalan di Rusia, nasib dan garis tangan Son Heung-Min berubah secara drastis lewat kerja kerasnya. Ia sukses memimpin skuad Korea Selatan meraih medali emas di Asian Games 2018, sebuah pencapaian manis yang memberinya hak pengecualian dari dinas militer penuh.

Kini, sosok anak laki-laki yang dulu menangis kesepian di Jerman telah menjelma menjadi salah satu pesepak bola Asia paling ikonik dalam sejarah. Deretan tinta emas seperti gelar pencetak gol terbanyak, trofi Liga Europa, hingga menjadi ikon utama Tottenham Hotspur menjadi bukti nyata bahwa kerja keras Son Heung-Min tidak pernah mengkhianati hasil.

Editor : Redaksi Lombok Post
Sumber : Sky Sports
Kisah Son Heung-Min Pemain Asia Terbaik Karir Son Heung-Min Tottenham Hotspur Son Heung-Min