Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Harga Jual Anjlok, Petani Jagung di Bima Menjerit

Baiq Farida • Rabu, 10 Juni 2020 | 10:10 WIB
HARGA STABIL: Warga Desa Doridungga, Kecamatan Donggo, Kabupaten Bima menjemur jagung hasil panen tahun 2021 lalu.(ISLAMUDDIN/LOMBOK POST)
HARGA STABIL: Warga Desa Doridungga, Kecamatan Donggo, Kabupaten Bima menjemur jagung hasil panen tahun 2021 lalu.(ISLAMUDDIN/LOMBOK POST)
BIMA-Harga jual jagung di Kabupaten Bima anjlok. Ketimbang rugi, para petani pun memilih menampungnya sambil menunggu harganya membaik.

Ahmad, warga Desa Kala Kecamatan Donggo mengaku petani rata-rata belum mau menjual jagung  karena harganya turun. Masalahnya kata dia, dengan harga jual Rp 2.800 hingga Rp. 2.900 per kilogram, petani rugi. Tidak bisa menutup biaya produksi.

Untuk biaya produksi jagung pada lahan seluas  satu hektare berkisar Rp 13 juta hingga Rp 17 juta. Sementara hasil produksinya sekitar 5 hingga 6 ton, untuk ukuran lahan di Donggo.

‘’Kalau petani murni, biaya produksi untuk lahan satu hektare atau dengan bibit 20 kilogram itu, sekitar Rp 12 juta hingga Rp 13 juta. Sementara bagi petani yang menggunakan tenaga orang lain, biaya produksinya lebih tinggi, sekitar Rp 15 hingga Rp 16 juta,’’ bebernya.

Dengan harga jagung sekarang, sebutnya, bisa dihitung biaya produksi dengan hasil yang diperoleh.  Hasil 5 ton dikalikan harga jual Rp 2.900 per kilogram, hanya dapat Rp 14,5 juta.

 

‘’Angkanya jauh. Padahal rata-rata petani meminjam uang bank. Belum lagi untuk kelanjutan hidup mereka satu tahun ke depan, kemudian modal untuk musim tanam berikutnya,’’ beber bapak tiga anak ini.

Hal itu yang mendasari kenapa para petani memilih menyimpan jagung mereka dan menunggu harga membaik. Sehingga ketika ada aksi demo dilakukan Laskar Tani beberapa waktu lalu di Kantor Pemkab Bima, petani di Donggo dan Soromandi sangat mendukung. Berharap ada perhatian pemerintah dengan anjloknya harga jagung saat ini.

‘’Kita berharap harga jual jagung itu sekitar Rp 3.400 hingga Rp 3.500 per kilogram. Supaya ada keuntungan bagi petani dan mereka bisa melanjutkan hidup hingga musim hujan berikut,’’ harapnya.

Saat ini kata dia, petani memilih menjual jagung mereka langsung ke perusahaan. Karena harga belinya agak tinggi, Rp 3.100 per kilogram. Meski tidak ada untung, paling tidak mereka tidak rugi banyak.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (KUPT) Pertanian Kecamatan Donggo, Abdul Rauf juga mengaku, banyak petani yang belum menjual jagung mereka. Sebagian lain juga masih ada yang sedang panen.

Alasannya kata dia, selain menunggu bulan Ramadan berakhir, juga berharap ada kenaikan harga jagung. Karena harga jual jagung ditingkat petani berkisar  Rp 2.800 hingga 2.900 perkilogram. Praktis, harga itu tidak sebanding dengan biaya produksi yang dikeluarkan.

Anjloknya harga jual jagung diakui sebagai dampak dari pandemi korona. Perusahaan yang biasa menampung jagung petani, sementara membatasi pembelian.

‘’Kita berharap, harga jagung segera membaik supaya kesejahteraan petani juga meningkat,’’ harapnya.

Menyinggung tingkat produksi jagung tahun ini dibanding tahun lalu, diakui  untuk wilayah Kecamatan Donggo meningkat. Perbandingan hasil produksi itu katanya dilihat dari hasil panen petani dengan jumlah bibit yang sama. Misalnya, dengan bibit 20 kilogram, petani bisa panen 5 hingga 6  ton.

‘’Untuk hasil produksi jagung di Kecamatan Donggo tahun ini meningkat. Meski peningkatan itu tidak besar,’’ bandingnya.

Jauh dibandingkan  hasil produksi jagung di wilayah Kecamatan Soromandi. Penurunanya sekitar 50 persen. Perbandingan itu dilihat dari bibit 20 kilogram yang ditanam. Petani di Soromandi hanya dapat hasil sekitar 2 hingga 3 ton.

Menurunnya produksi jagung di Soromandi, selain karena faktor alam. Tanaman jagung sempat diserang penyakit antraks. (gun/r8)

 

  Editor : Baiq Farida
#Jagung #Harga Jual #Bima