"Bisa jadi di tempat pengisian stoknya kurang. Karena mereka harus menunggu suplai bahan baku pembuatan oksigen dari daerah Jawa," kata Direktur RSUD Kota Bima, dr Agus Dwi Pitono, (28/7/2021).
Kekurangan oksigen bukan hanya di Kota Bima, tapi juga dialami sejumlah daerah lain. Untuk mendapat oksigen, daerah-daerah harus mengantri, sehingga berdampak pada lambannya proses distribusi.
"Tapi kita bersyukur dapat 25 tabung dari provinsi tadi malam (Selasa), meski sebelum diusulkan 50 tabung. Jadi, stok oksigen sekarang sebanyak 30 tabung, ditambah 5 persediaan awal," jelas Agus.
Penggunaan oksigen sebanyak itu paling lama satu hingga dua hari ke depan. Karena pasien Covid-19 sebagian besar membutuhkan 10 hingga 15 Liter Per Menit (LPM) oksigen. Sehingga satu pasien bisa menghabiskan satu tabung besar dalam waktu satu jam.
"Kita sekarang punya 16 pasien Covid-19. Pasien yang membutuhkan oksigen 15 LPM, sembilan orang. Sisanya ada yang butuh 10 LPM, 9, 7 dan 3 LPM," jelasnya.
Jika tingkat kebutuhan pasien hanya 3 LPM, dia mengaku tidak khawatir dengan kekurangan stok. Karena tidak membutuhkan banyak oksigen. "Tapi masalahnya saat ini kebanyakan pasien dengan kebutuhan oksigen 15 LPM. Kita juga khawatir dengan kondisi ini, banyak pasien yang tidak tertolong karena tidak ada oksigen," akunya.
Kendati begitu, pihaknya akan tetap bekerja maksimal untuk pemenuhan kebutuhan oksigen di RSUD. Baik di distributor yang ada di Kota dan Kabupaten Bima, juga termasuk menyisir ke para pengecer.
Selain mengeluhkan kekurangan oksigen, Agus juga membeberkan jika di RSUD tidak lagi menerima pasien rawat inap. Kecuali rawat jalan.
"Di sini hanya melayani pasien Covid-19 dan rawat jalan," terangnya.
Sementara pasien yang non Covid-19 yang hendak merujuk, akan diarahkan ke Puskesmas Paruga. Kebijakan tersebut, telah berjalan sekitar satu bulan lalu. (jul/r8) Editor : Redaksi