BIMA-Limbah berupa buih berwarna coklat mencemari teluk Bima, April lalu. Diduga, limbah itu muncul akibat pencemaran lingkungan.
Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB) telah mengambil sampel pada lima titik pada untuk diteliti. Pengambilan sampel ini berkoordinasi dengan Pusat Studi Lingkungan Hidup (PSLH) ITB dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Tim juga dibantu Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bima.
“Hasil foto satelit diambil tim ITB menunjukkan fenomena terjadi dalam kurun waktu pendek. Tidak terlihat satu minggu dari puncak kejadian,” kata Pakar Rekayasa Air dan Limbah Cair Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB Prof Prayatni Soewondo, belum lama ini.
Menurut dia, fenomena ini terjadi saat komponen air laut yang diganggu angin dan ombak. Sehingga muncul buih. Buih dapat berwarna kecoklatan karena fitoplankton. “Untuk memastikan kandungan buih ini perlu diuji lebih lanjut,” akunya.
Sedangkan pengujian air laut pada lima titik (tiga garis pantai dan dua sungai, red) menunjukkan hasil yang relatif konsisten. Pengujian laboratorium memperlihatkan beberapa komponen yang melebihi baku mutu dan ditemukan alga golongan diatom.
“Ditemukan juga kandungan toksisitas (kandungan bahan aktif, red) lebih besar pada air laut dibandingkan dengan air sungai,” jelasnya.
Indikasi sumber pencemaran dapat dikelompokkan menjadi tiga. Limbah domestik (N, P, organik dan coliform). Pertanian dan perikanan (N dan P) serta logistik oil (TPH, toluene, serta oil and grease).
Selain sumber pencemaran tersebut, fenomena ini bisa dipengaruhi juga geografis Teluk Bima dan global warming. Riset skala global mengenai pencemaran algae blooming di berbagai negara juga menunjukkan sekitar 76 persen.
Kejadian algae blooming/seasnot terjadi di area semi enclosed sea (Laut yang setengah tertutup, red). Sehingga Teluk Bima memang rentan berpotensi mengalami fenomena tersebut. “Dari data yang ada saat ini, fenomena Teluk Bima disebabkan oleh kegiatan multi sektoral. Sebab kondisi ini pernah terjadi di berbagai belahan dunia lain. Di antaranya di Washington, Belanda maupun Turki,” pungkasnya. (gun/r8)
Editor : Galih Mps