Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

36 Warga Kota Bima Terjangkit Kusta

Administrator • Selasa, 20 September 2022 | 11:14 WIB
DIVONIS: Terdakwa Ahmad mendengarkan pembacaan vonis dari majelis hakim di PN Tipikor Mataram, Selasa (29/12). (harli/lombok post)
DIVONIS: Terdakwa Ahmad mendengarkan pembacaan vonis dari majelis hakim di PN Tipikor Mataram, Selasa (29/12). (harli/lombok post)
KOTA BIMA-Penderita penyakit kusta di Kota Bima dari tahun ke tahun terus bertambah. Sejak 2021 hingga Agustus 2022 lalu, tercatat 36 orang terjangkit. Rinciannya 19 orang ditemukan pada tahun 2021 lalu. Sementara Agustus lalu 17 orang.

Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) Kota Bima Ahmad mengatakan, sebanyak 36 temuan kasus penderita kusta ini, 30 orang di antaranya menderita kusta basah. Itu ditandai dengan permukaan kulit yang basah dan mengkilat.

Sedangkan jenis kusta kering hanya ditemukan pada enam orang pasien. Kusta jenis ini tergolong infeksi ringan dengan jumlah bakteri lebih sedikit dibandingkan yang basah. "Penderita hingga sampai pada kusta basah begini, karena lambat temuan kasusnya. Potensi penularannya cukup tinggi dibandingkan yang kering," ungkap dia.

Dari puluhan kasus ini, delapan orang diantaranya diderita oleh anak-anak usia berusia 5 tahun. Mereka tertular dari orang tua dan masyarakat penderita kusta di sekitar kediamannya masing-masing. "Kemudian satu orang Lansia (Lanjut Usia) berusia 65 tahun alami cacat fisik. Kalau kasus yang sampai meninggal dunia gak ada," ungkapnya.

Pasien yang alami cacat fisik ini lamban ditemukan kasusnya, sehingga gejala kusta cepat menyerang saraf. "Kalau lambat ditangani dan diberikan obat, pasien kusta itu akan berakibat fatal hingga alami cacat fisik," tuturnya.

Pelacakan dan penanganan kasus ini, Ahmad mengaku, sedikit lebih sulit dibandingkan penyakit jenis lain. Karena tidak sedikit pasien, menganggap jika penyakit kusta adalah kutukan, bawaan lahir bahkan dianggap aib. Sehingga saat pelacakan kasus di lapangan, mereka tidak jarang menolak jika disampaikan hasil pemeriksaan bahwa mereka pengidap kusta. Jika label penyakit itu dialamatkan, mereka khawatir akan dijauhi masyarakat sekitar.

"Pemikiran mereka begitu. Mereka banyak yang gak mau menerima jika diputuskan mengidap kusta. Bahkan terkadang kami juga diusir di lapangan," terangnya.

Tidak hanya itu, pasien kusta juga kadang kala tidak intens datang mengambil obat di puskesmas. Sehingga mengharuskan tim puskesmas turun mencari mereka ke kelurahan masing-masing.

"Iya itu tadi, mereka merasa malu menderita penyakit itu hingga mengurung diri. Makanya ada yang enggan datang ambil obat di puskesmas,’’ ujarnya.

Terlebih obat penyembuhan kusta ini reaksinya cukup keras, sehingga membuat mereka malas untuk rutin komsumsi. Karena jika obat itu diminum, banyak efek yang muncul seperti air kencing berwarna merah, permukaan kulit menghitam, panas dingin dan gejala lainnya. "Memang efeknya begitu, karena itu bagian dari proses penyembuhan. Yang namanya dosis yang masuk ke tubuh kan, pasti ada efeknya," jelasnya.

Di samping reaksi obatnya keras, Ahmad mengatakan, di sisi lain mereka tidak mau minum obat, karena tidak mampu membeli makanan pendukung yang bergizi. Sementara selama obat itu diminum, dianjurkan komsumsi makanan yang bergizi dan bervitamin. "Rata-rata penderita kusta ini ekonominya menengah kebawa. Sehingga, mungkin mereka gak mampu beli makanan yang bergizi itu," pungkas Ahmad. (gun/r8) Editor : Administrator
#kusta #Kota Bima