BIMA-Forum Mahasiswa Langgudu (Formal) Bima-Mataram dan menggelar aksi di Jalan Lintas Karumbu-Langgudu, akhir pekan lalu. Mereka menuntut perbaikan jalan yang kondisinya rusak parah.
Aksi damai ini dimulai di depan kantor Kapolsek Langgudu dan berakhir di Desa Waworada. Aksi long march dihiasi atribut bertuliskan kata-kata menarik tentang keberadaan jalan lintas Karumbu-Langgudu. Di antaranya, ”Jalan ini dibangun dari iuran/pajak yang anda bayar, Jadi!!! Kemana uangnya? kok jalan jadi rusak !!!. Ada juga tulisan ”Jalan ini tak semulus pipimu”. Ditambah dengan tulisan ”Jalan rusak parah, bukti pemerintah tidak memperhatikan masyarakat Langgudu.”
Selain itu, massa aksi juga menggelar aksi menanam pohon pisang. Di tengah jalan tak beraspal dan genangan air itu, mereka menanam pohon pisang.
Ketua Formal Mataram Khairul Rizky mengatakan, bahwa aksi damai ini bertujuan untuk mengkampanyekan jalan lintas Karumbu-Langgudu yang dinilai layak. Karena banyak titik kerusakan yang memicu terjadinya kecelakaan.
“Kami ingin supaya pemerintah tidak hanya mendapatkan data secara visual tentang kerusakan jalan ini. Tapi, kami ingin memberitahukan inilah kondisi riil yang sebenarnya," kata Ziki sapaan akrabnya.
Aksi ini menjadi bagian dari penggalang dukungan ke masyarakat dan semua pihak agar sama-sama mengawal serta menagih janji Gubernur NTB dan Menteri PUPR RI. "Kami sudah berdiskusi dan meminta sikap camat, kepala desa, politisi, akademisi dan masyarakat secara luas dan semuanya mendukung penuh perjuangan kami, aku dia.
Sebelumnya Formal Bima-Mataram telah melaksanakan aksi demonstrasi di depan kantor Gubernur NTB sebanyak dua kali. Respon dari aksi ini, diadakan pertemuan Gubernur NTB dengan mahasiswa Langgudu di Pendopo Gubernur.
Usai pertemuan tersebut gubernur mengajak perwakilan mahasiswa untuk sama-sama menemui Menteri PUPR M Basuki Hadimuljono di Jakarta. Pada pertemuan tersebut didapatkan kabar baik bahwa ruas jalan lintas Karumbu-Langgudu akan dikerjakan 2023 sepanjang 8 kilometer dengan total anggaran Rp 40 miliar.
Ziki menegaskan, meski aksi sebelumnya telah mencapai kesepakatan dengan pihak pemerintah, namun dia tetap terus mengawal sampai terlaksananya perbaikan jalan ini. "Kami akan terus bergerak, hingga benar-benar dikerjakan hingga tuntas," pungkasnya.
Tokoh muda Langgudu Fuaduddin membeberkan sejumlah fakta terkait kerusakan jalan tersebut. "Jalan ini sebenarnya telah masuk dalam perencanaan Roadmap perbaikan jalan nasional sejak tahun 2022 lalu. Namun, disalip oleh wilayah lain," tudingnya.
Parahnya lagi, kata dia, kalau saja tidak di demonstrasi berhari-hari oleh mahasiswa di Mataram, mungkin saja jalan ini benar-benar hilang dari perencanaan Gubernur NTB. "Ini pun dibantu dengan anggaran nasional lewat Inpres (Instruksi Presiden)," terangnya.
Fakta lainnya, sambung Fuad, sejak Kecamatan ini berpisah dengan Kecamatan Wawo tahun 2000-an, tidak pernah tersentuh bantuan dan pengerjaan proyek yang berasal dari anggaran provinsi, terutama perbaikan jalan. "Kali terakhir jalan di wilayah ini dikerjakan oleh anggaran Kabupaten yakni pada masa pemerintahan Bupati Bima Dae Ferry, "jelasnya.
Karena itu, dia bersama masyarakat Langgudu secara umum sangat merespon positif perjuangan mahasiswa saat ini yang meminta agar perbaikan jalan ini segera dikerjakan. "Kami bersama mahasiswa dan seluruh lapisan masyarakat Langgudu bersatu padu mengawal pengerjaannya. Kami ingin bukti bukan janji manis dan politik media saja," sindirnya. (jlo/r8)
Editor : Galih Mps