Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

6.000 Ekor Ayam Mati Mendadak, Peternak Merugi Rp 400 Juta

Galih Mps • Selasa, 9 Mei 2023 | 22:00 WIB
RUGI BESAR: Ribuen ekor ayam milik peternak di Desa Rasabou, Kecamatan Bolo, Bima, mendadak mati. (FIRMAN/LOMBOK POST)
RUGI BESAR: Ribuen ekor ayam milik peternak di Desa Rasabou, Kecamatan Bolo, Bima, mendadak mati. (FIRMAN/LOMBOK POST)

BIMA-Sebanyak 6.000 ekor ayam broiler milik peternak warga Desa Rasabou, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima, mati mendadak. Hingga kini belum diketahui penyebab matinya ayam tersebut.


Pemilik ternak Lukman yang dihubungi membenarkan ayam ternaknya mati mendadak pada 6 Mei lalu. "Ada 6.000 ribu ekor yang mati mendadak," ucap Lukman, Senin (8/5).


Dia mengaku tidak mengetahui persis penyebab 6.000 ribu ekor ayam ternaknya mati mendadak. "Saya heran mengapa mati mendadak seperti ini. Sampai detik ini penyebabnya masih misterius," tuturnya.


Lukman mengatakan, ayam sudah diternak selama 30 bulan dan rencananya dua hari lagi akan dipanen.


’’Dini hari sebelum kejadian ayamnya masih terlihat hidup. Karena sudah tidak tahan mengantuk saya tidur di kandang," kisahnya.


Paginya, Lukman bangun tidur dan mendengar mesin blower (pemanas) dalam kondisi sudah mati. "Saya naik ke atas kandang bermaksud menghidupkan kembali mesin blower, namun setiba di atas kandang melihat ribuan ekor ayamnya sudah terkapar di lantai," terangnya.


Total ayam yang diternak sebanyak 7.000 ribu ekor. Sebanyak 6.000 ekor telah mati dan masih ada 1.000 ekor yang hidup. "Saya masih bingung mengapa ribuan ekor ayam ternak saya bisa mati mendadak," herannya.


Menurut dia, jika kematian ayamnya disebabkan oleh matinya mesin blower atau stres tidak mungkin mati mendadak dalam jumlah yang banyak. "Paling-paling yang mati 100 atau 200 ekor saja. Mau dibilang diracun atau disebabkan faktor manusia lain, saya tidak melihatnya," sebutnya.


Meski demikian, Lukman pasrah saja menerima kenyataan tersebut dan menganggap bukan bagian rejekinya. "Total modal operasional, dari biaya harian, pakan hingga bibir, yang sudah habis Rp 270 juta. Kalau dihitung dengan harga jual dari 6.000 ribu ekor yang mati total kerugian Rp 400 juta," ungkapnya. (man/r8)

Editor : Galih Mps
#Bima