LombokPost-Wali Kota Bima HA Rahman H Abidin menyoroti kondisi hutan di kawasan Lampe, Dodu, hingga wilayah Asakota yang kini sangat mengkhawatirkan.
Kerusakan kawasan hulu di perbatasan antara Kabupaten dan Kota Bima itu dinilai bisa memicu bencana hidrometeorologi, terutama menjelang musim hujan.
“Kalau melihat dari siklus 10 tahunan, kita perlu meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan. Saya sudah sampaikan dan koordinasi dengan Gubernur serta Wakil Gubernur NTB untuk segera mengambil sikap tegas terkait persoalan ini,” kata Aji Man sapaan akrab wali kota, Selasa (4/11).
Baca Juga: Anggota DPRD NTB Janji Bangun Rumah Singgah dan Siapkan Ambulans untuk Warga Bima-Dompu di Mataram
Dia mengatakan, meski pemerintah kota tengah menata infrastruktur pengendalian banjir melalui program NUFReP dan kerja sama dengan JICA, kondisi di lapangan belum sepenuhnya aman. Sejumlah proyek pengerjaan sungai dan drainase primer masih berjalan, namun upaya fisik semata dianggap tidak cukup.
“Kita butuh peran semua pihak untuk mengedukasi masyarakat agar waspada terhadap ancaman bencana yang bisa datang sewaktu-waktu,” jelasnya.
Aji Man mengingatkan, banjir besar Desember 2016 yang merendam sebagian besar wilayah Kota Bima menjadi pelajaran penting. Menurutnya, siklus serupa bisa terulang pada 2026, jika kerusakan hutan di hulu tak segera ditangani.
Baca Juga: Pembahasan KUA-PPAS 2026 Molor, Pemkab Bima Beralasan Review Ulang Akibat Pengurangan TKD
“Kita tentu tidak ingin peristiwa 2016 terulang lagi. Tapi melihat kondisi di hulu yang sudah rusak, kewaspadaan harus ditingkatkan,” ujarnya.
Dia juga menyinggung lemahnya peran Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Maria Donggomasa dalam mengawasi aktivitas pembukaan lahan.
Karena itu, Aji Man meminta para camat dan lurah untuk berkoordinasi dengan Babinsa dan Bhabinkamtibmas, terutama selama musim hujan.
“Pantau aktivitas masyarakat yang membuka lahan baru. Jangan sampai kita kecolongan dan dampaknya dirasakan oleh seluruh warga kota,” tandasnya.
Editor : Jelo Sangaji