Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Wali Kota Bima Pamer Dua Inovasi Unggulan di IGA 2025, Klinik Koperasi dan Si Cerah Jadi Motor Perubahan

M Islamuddin • Jumat, 7 November 2025 | 09:34 WIB
Wali Kota Bima HA Rahman H Abidin mempresentasikan inovasi unggulan Pemkot Bima dalam ajang IGA 2025 di aula BSKDN Kemendagri, Jakarta, Kamis (6/11).
Wali Kota Bima HA Rahman H Abidin mempresentasikan inovasi unggulan Pemkot Bima dalam ajang IGA 2025 di aula BSKDN Kemendagri, Jakarta, Kamis (6/11).

LombokPost-Wali Kota Bima HA Rahman H Abidin mempresentasikan inovasi unggulan Pemkot Bima dalam ajang Innovative Government Award (IGA) 2025 kategori Kota di aula BSKDN Kemendagri, Jakarta, Kamis (6/11).

Dalam forum bergengsi yang diikuti kepala daerah se-Indonesia itu, Aji Man sapaan akrab wali kota memaparkan berbagai terobosan hasil karya para ASN Kota Bima yang dikoordinasikan oleh Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA).

Lembaga ini dibentuk dan diperkuat melalui Perda Nomor 7 Tahun 2022. Hingga tahun 2025, BRIDA telah menciptakan 234 inovasi pelayanan publik yang bertujuan mempermudah akses dan meningkatkan efisiensi layanan masyarakat.

Dalam presentasinya, Aji Man memamerkan dua inovasi unggulan yang disebut menjadi motor penggerak perubahan di Kota Bima, yakni “Klinik Koperasi” dan “Celengan Darah” (Si Cerah).

“Kedua inovasi ini hadir untuk menjawab isu strategis daerah dengan dua pendekatan berbeda: non-digital melalui Klinik Koperasi, dan digital melalui aplikasi Si Cerah,” kata dia.

Aji Man menegaskan, inovasi yang dibangun pemerintah tidak boleh berhenti pada ide semata. “Kedua aplikasi ini kami kelola secara berkelanjutan, agar inovasi tidak hanya berhenti pada gagasan, tetapi benar-benar memberi dampak nyata bagi masyarakat,” jelasnya.

Dia menjelaskan, lahirnya dua inovasi tersebut dilatarbelakangi dua tantangan besar yang tengah dihadapi Kota Bima.

Pertama, tantangan ekonomi dan stabilitas harga. Sebagai kota perdagangan dan jasa, fluktuasi harga cepat memengaruhi daya beli masyarakat. Karena itu, pemerintah melahirkan Klinik Koperasi sebagai wadah pendampingan koperasi secara cepat, efisien, dan terarah untuk menjaga keseimbangan pasar.

Kedua, tantangan kesehatan masyarakat. Data menunjukkan tingkat risiko stunting di Kota Bima masih 28,4 persen, sementara anemia pada ibu hamil 9,28 persen.

Kondisi ini menuntut solusi kreatif yang tak hanya bersifat edukatif, tetapi juga berorientasi pada penyediaan darah dan peningkatan kepedulian sosial. "Dari situlah lahir inovasi digital Celengan Darah atau Si Cerah," bebernya.

Wali kota menegaskan, budaya inovasi di Kota Bima terus tumbuh pesat. Jumlah inovasi meningkat dari 162 pada 2024 menjadi 234 pada tahun 2025, atau naik sekitar 44,44 persen.

“Kenaikan ini menunjukkan inovasi bukan sekadar proyek, melainkan sudah menjadi budaya kerja di setiap sektor pemerintahan,” ujarnya.

Untuk memperkuat semangat inovasi tersebut, Pemkot Bima telah menyiapkan berbagai payung hukum.

Di antaranya, Peraturan Wali Kota Nomor 26 Tahun 2021 tentang pemberian penghargaan bagi ASN berprestasi dalam inovasi pelayanan publik, serta Surat Edaran Wali Kota Tahun 2025 yang mewajibkan setiap OPD melahirkan minimal dua inovasi per tahun.

Selain itu, ada pula Perwali Tahun 2023 sebagai dasar pelaksanaan inovasi secara menyeluruh di daerah.

“Inovasi menjadi sarana ASN Kota Bima untuk berkreasi dan berkolaborasi demi pelayanan terbaik kepada masyarakat,” tegas Rahman.

Dari sisi kelembagaan, Aji Man menuturkan bahwa BRIDA Kota Bima kini berperan sebagai motor penggerak riset dan inovasi daerah. “BRIDA menjadi pusat koordinasi lintas perangkat daerah agar setiap kebijakan berbasis riset dan data,” ujarnya.

Editor : Jelo Sangaji
#Wali Kota Bima #Kota Bima #ha rahman h abidin #IGA 2025 #Pemkot Bima