LombokPost-Badan Narkotika Nasional (BNN) Sumbawa mengungkap temuan serius terkait penyalahgunaan narkoba di lingkungan pemerintahan dan dunia pendidikan sepanjang tahun 2025.
Hasil pemeriksaan menunjukkan, empat Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkup Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumbawa dinyatakan positif narkoba.
Data tersebut diperoleh dari tes urine yang dilakukan BNN Sumbawa terhadap 220 ASN yang tersebar di delapan instansi.
Baca Juga: Polres Lombok Tengah Gagalkan Motor Curian Tujuan Pulau Sumbawa
Kepala BNN Sumbawa AKBP Denny Priadi mengatakan, pemeriksaan tersebut merupakan bagian dari upaya deteksi dini untuk mencegah penyalahgunaan narkoba di lingkungan pemerintahan.
“Iya, ada empat ASN yang terindikasi positif narkoba. Sepanjang 2025, kami telah melaksanakan tes urine sebanyak 33 kali dengan total peserta mencapai 1.170 orang,” sebut Denny dalam keterangannya, Senin (22/12).
Menurutnya, peredaran narkoba masih menjadi persoalan kompleks yang terus berkembang. Karena itu, BNNK tidak hanya menyasar ASN, tetapi juga sektor pendidikan, swasta, hingga masyarakat umum. Ia menekankan pentingnya peran serta masyarakat dalam memerangi narkoba.
“Kami memohon dukungan dan partisipasi aktif masyarakat Sumbawa untuk menjadi garda terdepan dalam memerangi peredaran narkoba, termasuk melalui peningkatan kesadaran dan pelaporan informasi,” tegasnya.
Selain temuan di kalangan ASN, BNN Sumbawa juga mencatat fakta memprihatinkan di dunia pendidikan. Dari total 609 pelajar tingkat SMP/MTs hingga SMA/SMK yang menjalani tes urine sepanjang 2025, sebanyak 69 orang dinyatakan positif narkoba.
Denny menjelaskan, seluruh pelajar yang terpapar langsung diarahkan untuk menjalani program rehabilitasi dengan pendekatan non-represif. Saat ini, sebanyak 46 pelajar tengah menjalani rehabilitasi rawat jalan di Klinik Pratama BNN Sumbawa, terdiri dari 29 pelajar SMP dan 17 pelajar SMA.
“Pendekatan yang kami lakukan adalah rehabilitatif, bukan represif. Kami melibatkan pihak sekolah dan orang tua agar proses pemulihan berjalan optimal,” ujarnya.
Hasil pendalaman BNNK menunjukkan, sebagian besar pelajar terpapar narkoba akibat faktor coba-coba dan tekanan lingkungan pergaulan. Selain itu, seluruh pelajar yang terdeteksi positif diketahui merupakan perokok aktif.
Faktor keluarga juga menjadi perhatian serius. Mayoritas pelajar berasal dari keluarga yang mengalami perceraian atau kurang pengawasan karena tinggal jauh dari orang tua. Dari sisi perolehan, narkoba didapat dengan cara patungan dari uang jajan, membeli langsung dari pengedar di salah satu desa di Kecamatan Moyo Hilir, dan digunakan secara situasional.
“Kondisi ini menjadi alarm bagi semua pihak untuk memperkuat pengawasan dan edukasi sejak dini,” pungkas Denny.
Editor : Jelo Sangaji