Festival Sangiang Api Kembali Digelar Akhir Agustus, Angkat Sejarah Letusan, Budaya Maritim, dan Jejak Islam di Bima

Akbar Sirinawa • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 07:04 WIB
Festival Sangiang Api.
Festival Sangiang Api.

 

LombokPost-Pemerintah Desa Sangiang, Kecamatan Wera, Kabupaten Bima, kembali menggelar Festival Sangiang Api (FSA) 2026. Agenda tahunan itu direncanakan berlangsung pada akhir Agustus 2026.

Festival diharapkan menjadi momentum mengenalkan sejarah, budaya, dan potensi wisata Pulau Sangiang. Pemerintah desa ingin memperluas promosi hingga tingkat nasional dan mancanegara.

Kepala Desa Sangiang Arasid H Imran mengatakan, FSA 2026 akan memadukan budaya, wisata, sejarah, dan edukasi. Berbagai atraksi khas masyarakat pesisir disiapkan sebagai daya tarik utama.

Rangkaian kegiatan mencakup lomba sampan layar tradisional dan lomba dayung sampan. Festival juga menghadirkan pertunjukan seni dan budaya, pameran tenun khas Sangiang, serta demonstrasi pembuatan kapal tradisional.

Baca Juga: Nelayan Asal Sangiang Bima Selamat Setelah Dua Hari Melawan Maut di Tengah Laut

Selain itu, panitia menyiapkan bazar usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), festival kuliner lokal, serta pertunjukan musik tradisional. Sejumlah kegiatan edukatif juga akan melibatkan pelajar, mahasiswa, pemuda, dan masyarakat.

“Seluruh rangkaian kegiatan tersebut tidak hanya kami hadirkan sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media edukasi untuk memperkenalkan identitas Pulau Sangiang sebagai kawasan yang memiliki kekayaan sejarah, budaya, dan peradaban maritim yang telah tumbuh selama berabad-abad,” ujar Arasid.

Menurutnya, Festival Sangiang Api tidak sekadar menjadi agenda seremonial tahunan. Festival itu menjadi ruang bersama untuk merawat memori kolektif masyarakat dan menghidupkan kembali warisan leluhur.

FSA juga diarahkan untuk memperkenalkan Pulau Sangiang sebagai kawasan dengan nilai sejarah dan kebudayaan penting di Nusa Tenggara Barat.

Baca Juga: Sangiang Api 2025, Festival Bahari Paling Panas dari Timur NTB Siap Meledak Lagi

“Kami mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menyukseskan Festival Sangiang Api 2026. Dukungan kami harapkan dari Pemerintah Provinsi NTB, Pemerintah Kabupaten Bima, seluruh pemangku kebijakan, dunia usaha, akademisi, komunitas, media, hingga masyarakat luas. Festival ini adalah milik kita bersama,” katanya.

Arasid turut mengajak putra-putri Sangiang yang berada di berbagai daerah untuk berpartisipasi. Mereka tersebar di Jakarta, Mataram, Makassar, Kalimantan, dan sejumlah wilayah lainnya.

Partisipasi dapat diberikan melalui koordinasi, promosi, dukungan moril, maupun doa untuk menyukseskan festival.

FSA 2026 tidak hanya menyajikan atraksi budaya. Masyarakat juga diajak menelusuri perjalanan panjang Pulau Sangiang.

Narasi yang diangkat mencakup sejarah letusan Gunung Sangiang Api, budaya maritim, dan perpindahan masyarakat pascaerupsi. Festival juga mengenalkan jejak masuk dan berkembangnya Islam di kawasan itu.

Arasid menjelaskan, Gunung Sangiang Api menjadi bagian penting dari sejarah masyarakat setempat. Letusan pada masa lalu membentuk bentang alam vulkanik yang unik sekaligus mengubah kehidupan warga.

Baca Juga: Perahu Tenggelam, Enam Warga Sangiang Bima Selamat

Sebagian masyarakat harus meninggalkan kampung halaman. Mereka kemudian menyebar ke sejumlah wilayah di Pulau Sumbawa dan daerah lain di Indonesia.

“Di balik peristiwa itu tersimpan kisah tentang ketangguhan masyarakat Sangiang. Mereka mampu bangkit, membangun kehidupan baru, namun tetap menjaga identitas budaya, adat istiadat, serta ikatan kekeluargaan. Sejarah inilah yang ingin kami ceritakan dan kenalkan kepada generasi muda maupun masyarakat luas melalui Festival Sangiang Api,” ungkapnya.

Festival juga akan mengenalkan sejarah masuk dan berkembangnya Islam di Pulau Sangiang. Sejak dahulu, pulau itu dikenal sebagai salah satu titik persinggahan penting dalam jalur pelayaran Nusantara.

Posisi geografisnya membuat Pulau Sangiang banyak disinggahi pelaut dan saudagar. Mereka datang dari Jawa, Sulawesi, Maluku, Bali, Arab, serta kawasan Asia lainnya.

Aktivitas perdagangan dan pelayaran membuka pertukaran budaya, ilmu pengetahuan, serta nilai keagamaan. Jalur itu kemudian ikut mendorong perkembangan syiar Islam di Pulau Sangiang.

Nilai Islam tumbuh berdampingan dengan budaya lokal. Perpaduan itu membentuk masyarakat Sangiang yang religius, terbuka, serta menjunjung gotong royong dan persaudaraan.

“Seluruh narasi sejarah dan budaya tersebut juga akan kami dokumentasikan melalui buku referensi dan novel karya putra-putri Sangiang yang sudah terbit. Kami berharap karya-karya tersebut menjadi media edukasi sekaligus dokumentasi sejarah yang dapat diwariskan kepada generasi mendatang,” ujar Arasid.

Festival turut mengenalkan berbagai warisan budaya yang masih hidup. Salah satunya tradisi pembuatan kapal kayu yang diwariskan secara turun-temurun.

Warisan lainnya mencakup tenun khas Sangiang, cerita rakyat, dan kearifan lokal masyarakat pesisir. Panitia juga mengangkat keberadaan Nakara Makalamu.

Baca Juga: Perahu Motor Bermuatan Garam Tenggelam di Perairan Sangiang Bima

Artefak perunggu itu dinilai menjadi salah satu jejak penting peradaban awal di Pulau Sangiang. Nakara Makalamu juga memiliki nilai historis yang tinggi.

“Melalui Festival Sangiang Api kami ingin menyampaikan kepada Indonesia bahkan dunia bahwa Sangiang bukan hanya memiliki panorama alam yang indah. Pulau ini menyimpan kisah besar tentang letusan gunung api, perpindahan masyarakat, budaya maritim, perkembangan Islam, serta berbagai warisan budaya yang masih hidup hingga sekarang. Semua itu merupakan kekayaan sejarah yang harus dijaga, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi mendatang,” jelas Arasid.

FSA 2026 juga diharapkan menjadi ruang kolaborasi bagi peneliti, budayawan, sejarawan, pegiat pariwisata, akademisi, dan masyarakat. Mereka dapat bersama-sama mendokumentasikan, mengkaji, serta mempromosikan sejarah dan budaya Pulau Sangiang.

Festival Sangiang Api sebelumnya telah masuk Kalender Event Pariwisata Provinsi NTB. Dalam penyelenggaraan sebelumnya, festival juga diajukan sebagai bagian dari Karisma Event Nusantara Kementerian Pariwisata.

Langkah itu dilakukan untuk mendorong FSA menjadi salah satu agenda budaya unggulan tingkat nasional.

Pemerintah Desa Sangiang berharap FSA 2026 menjadi momentum kebangkitan pariwisata berbasis sejarah, budaya, dan edukasi. Festival juga diharapkan memperkuat kebanggaan masyarakat terhadap identitas Pulau Sangiang.

“Festival Sangiang Api bukan sekadar perayaan budaya. Ini adalah panggung untuk menceritakan siapa masyarakat Sangiang kepada dunia; tentang sejarah yang kami miliki, budaya yang kami jaga, dan masa depan yang ingin kami bangun bersama. Mari kita sukseskan Festival Sangiang Api 2026,” tutup Arasid H. Imran.

Editor : Akbar Sirinawa
Festival Sangiang Api wisata budaya Bima budaya maritim Karisma Event Nusantara Pulau Sangiang