LombokPost-Musim kemarau di NTB semakin menguat. Sejumlah wilayah bahkan telah mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) sangat panjang hingga lebih dari 60 hari.
Berdasarkan Informasi Iklim Dasarian I Agustus 2026 dari BMKG Stasiun Klimatologi NTB, HTH terpanjang tercatat di Pos Hujan Belo dan Pos Hujan Bolo, Kabupaten Bima, yang mencapai 84 hari.
Kondisi tersebut masuk kategori kekeringan ekstrem. "Curah hujan tertinggi tercatat di Pos Hujan Kokok Putih, Sembalun, dengan total 47 milimeter per dasarian," kata Forecaster on Duty BMKG NTB Suci Agustiarini, Rabu (12/8).
Pada dasarian I Agustus, curah hujan di sebagian besar wilayah NTB berada pada kategori rendah, yakni 0-10 milimeter per dasarian.
Baca Juga: 27.343 Jiwa Terancam "Kehausan", Pemkab Bima Minta Warga Hemat Air
Sifat hujan juga didominasi kategori Bawah Normal (BN). Meski demikian, masih terdapat sejumlah wilayah yang berada pada kategori Normal (N) dan Atas Normal (AN).
Pemantauan BMKG menunjukkan durasi HTH di NTB bervariasi, mulai kategori sangat pendek selama 1-5 hari hingga kategori sangat panjang selama 31-60 hari. Sejumlah wilayah bahkan telah mengalami HTH lebih dari 60 hari. Belo dan Bolo di Kabupaten Bima menjadi wilayah dengan durasi HTH terpanjang, yakni mencapai 84 hari.
"Kondisi tersebut menjadi salah satu indikator semakin kuatnya dampak musim kemarau di NTB," sebutnya.
BMKG juga mencatat dinamika atmosfer turut memengaruhi kondisi kering tersebut. Indian Ocean Dipole (IOD) saat ini berada pada kategori netral dengan indeks +0,715. Namun, fenomena tersebut diprakirakan berpeluang memasuki fase positif pada September hingga Desember 2026.
"Sementara itu, anomali suhu muka laut (SST) di wilayah Nino3.4 menunjukkan ENSO berada pada kategori El Nino sangat kuat, dengan indeks mencapai +2,45," ujar Suci.
Baca Juga: Kantor DPRD Bima Diduga Hendak Dibakar, Tiga Kain Berbau Minyak Tanah Ditemukan di Atap Aula
BMKG memprediksi fenomena El Nino 2026 dapat mencapai level sangat kuat. Kondisi tersebut berpotensi memperkuat kondisi kering di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk NTB.
Kondisi kering diperkirakan masih berlanjut dalam beberapa hari ke depan. BMKG memprakirakan peluang hujan pada dasarian II Agustus atau periode 11-20 Agustus 2026 di seluruh wilayah NTB sangat kecil, yakni kurang dari 10%.
"Untuk peringatan dini curah hujan tinggi pada periode tersebut, BMKG menyatakan nihil," jelas Suci.
Sebaliknya, BMKG telah mengeluarkan peringatan dini kekeringan meteorologis di sejumlah wilayah NTB dengan tingkat risiko Waspada, Siaga, hingga Awas.
Pada level Waspada, wilayah yang masuk pemantauan antara lain Gunung Sari di Lombok Barat, Jonggat di Lombok Tengah, Sembalun, Kayangan dan Pemenang, Seteluk di Sumbawa Barat, Alas, Alas Barat dan Rhee di Sumbawa, serta Kecamatan Dompu.
Baca Juga: SUNGGUH NEKAT! Dua Nelayan di Bima Bawa Sabu ke Markas Polisi, Hendak Diselundupkan ke Ruang Tahanan
Level Siaga mencakup sejumlah wilayah di Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur, Lombok Utara, Sumbawa Barat, Sumbawa, Dompu hingga Bima.
Sementara wilayah yang masuk level Awas meliputi Labuhan Haji dan Suela di Lombok Timur; Jereweh di Sumbawa Barat; Labuhan Badas, Moyo Utara, Sumbawa, Unter Iwes dan Lape di Kabupaten Sumbawa; Kilo dan Pajo di Dompu; serta Belo, Bolo dan Raba.
BMKG mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan seiring meluasnya wilayah yang masuk level Siaga hingga Awas.
Masyarakat diminta menggunakan air secara bijak untuk mengantisipasi potensi krisis air bersih. Selain persoalan ketersediaan air, masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan, lahan dan permukiman.
Baca Juga: Napas Keuangan Bima Kembali Lega, Pemkab Diguyur Rp 277 Miliar, Pemkot Kebagian Rp 53 Miliar
Warga diimbau tidak melakukan pembakaran sampah secara sembarangan serta tidak meninggalkan sumber api tanpa pengawasan. "Selain menjaga ketersediaan air, masyarakat juga diingatkan menjaga kesehatan dan memastikan kecukupan cairan tubuh selama periode kemarau," pungkas Suci.
Diketahui, kekeringan mulai mengancam sejumlah wilayah di Kabupaten Bima. Sebanyak 40 desa yang tersebar di 13 kecamatan dipetakan berpotensi terdampak musim kemarau 2026.
Berdasarkan pemetaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bima, wilayah terdampak tersebut diperkirakan mencakup 8.665 kepala keluarga (KK) atau 27.343 jiwa.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kabupaten Bima Agus Salim mengatakan, sejumlah langkah strategis diambil Pemkab Bima dalam mengatasi kekeringan.
Termasuk penguatan koordinasi antara pemerintah daerah, pemerintah desa, dan instansi terkait untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi.
"Kami meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau. Warga diimbau menggunakan air secara hemat dan menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran," imbaunya.
Baca Juga: Belasan Relawan Dapur MBG di Bima Reaktif Hepatitis
Sementara bagi petani, pemerintah menyarankan agar jadwal tanam disesuaikan dengan kondisi cuaca.
"Petani juga dianjurkan memilih varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi kering untuk meminimalkan risiko gagal panen akibat kekurangan air," tandasnya.
Editor : Jelo SangajiSumber : Lombok Post