LombokPost-Jagung petani di Kabupaten Dompu berpeluang mendapat pasar baru. Pemerintah berencana membangun pabrik pakan ternak sebagai bagian dari proyek hilirisasi ayam terintegrasi senilai Rp 1,7 triliun di NTB.
Pabrik tersebut direncanakan dikelola PT Berdikari, badan usaha milik negara (BUMN). Pemkab Dompu bahkan telah menyiapkan lahan di Desa Nusa Jaya untuk mendukung pembangunan fasilitas tersebut.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Dompu Ilham mengatakan, pemanfaatan lahan masih akan disesuaikan dengan mekanisme kerja sama antara pemerintah daerah dan BUMN.
"Karena pabrik pakan dikelola BUMN, kemungkinan lahannya menggunakan pola HGB atau pinjam pakai," kata Ilham, Rabu (15/10).
Menurut dia, besarnya potensi produksi jagung menjadi salah satu pertimbangan Dompu dipilih sebagai lokasi industri pakan. Keberadaan pabrik diharapkan mampu menyerap hasil panen petani sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan daerah.
Baca Juga: Ketua PMI Dompu Minta Relawan Perkuat Kolaborasi
Kendati demikian, belum ada kepastian mengenai kapasitas produksi pabrik maupun besaran kebutuhan jagung sebagai bahan baku. ”Penyerapan jagung petani nantinya akan bergantung pada kebutuhan industri setelah pabrik beroperasi,” jelas dia.
Proyek hilirisasi ayam terintegrasi tersebut mencakup empat kabupaten. Yakni Sumbawa, Bima, Dompu, dan Lombok Tengah, dengan total rencana investasi sekitar Rp 1,7 triliun.
Masing-masing daerah mendapat peran berbeda. Sumbawa dan Bima disiapkan sebagai pusat pembibitan ayam indukan atau parent stock (PS), lengkap dengan fasilitas penetasan telur atau hatchery.
Sementara Dompu menjadi lokasi pabrik pakan ternak. Adapun Lombok Tengah direncanakan sebagai lokasi fasilitas pengolahan daging dan telur dengan memanfaatkan lahan milik pemerintah daerah. Namun, usulan pembangunan fasilitas pengolahan di Lombok Tengah masih dalam tahap awal dan belum dibahas secara intensif.
Program tersebut diharapkan memperkuat industri perunggasan nasional melalui penyediaan bibit ayam, pakan, dan sarana produksi lainnya. Ilham menyebut Nilai Tukar Peternak (NTPT) saat ini berada pada angka 131, dengan target meningkat menjadi 140 hingga 150.
Kepala Disnakeswan NTB Muhamad Riady mengatakan, pembangunan proyek hilirisasi ayam dilakukan secara bertahap. Pemerintah lebih dahulu memprioritaskan pembangunan fasilitas pembibitan di Sumbawa dan Bima.
"Setelah jalan PS dan hatchery yang di Bima dan Sumbawa, baru pabrik pakannya menyusul," kata Riady.
Saat ini, pemerintah masih menyelesaikan administrasi lahan melalui Hak Pengelolaan Lahan (HPL). Proses tersebut menjadi bagian dari persiapan sebelum pembangunan fasilitas dilanjutkan.
Setelah urusan pertanahan rampung, tahapan berikutnya adalah pemenuhan kewajiban serta penandatanganan perjanjian kerja sama (PKS) antara pemerintah daerah dan PT Berdikari. Pembangunan fisik baru dapat dilaksanakan setelah seluruh tahapan tersebut selesai.
Riady menjelaskan, kebutuhan pakan akan mengikuti perkembangan produksi anak ayam umur sehari atau day old chick (DOC) dari fasilitas pembibitan serta permintaan peternak.
"Setelah ini parent stock berproduksi, memproduksi DOC, kemudian peternak memelihara. Setelah itu baru akan dibutuhkan pakan," ujarnya.
Selain membuka peluang pasar bagi jagung petani, keberadaan pabrik pakan di Dompu juga diharapkan memangkas biaya distribusi. Selama ini, pasokan pakan dari luar daerah, termasuk Jawa Timur, membutuhkan ongkos transportasi tambahan.
Dengan lokasi pabrik yang lebih dekat dengan sentra peternakan di Pulau Sumbawa, rantai pasok diharapkan menjadi lebih efisien. Meski demikian, Riady menegaskan realisasi investasi tetap bergantung pada kebutuhan pasar dan hasil studi kelayakan. PT Berdikari harus memastikan proyek tersebut layak secara bisnis sebelum memulai pembangunan.
"BUMN pasti hasil studi kelayakannya harus visible, baru dia berani bergerak. Kalau tidak visible, harus ada kompensasi yang didapatkan," kata Riady.
Editor : Jelo JSumber : Lombok Post