Bosa menunggu pemkab turun tangan, para PKL akhirnya membersihkan sendiri sisa material yang menumpuk. Mereka mengumpulkan iuran sebesar Rp 5 juta per orang.
"Kami keluarkan iuran, untuk menyewa pemborong yang mengangkut material agar kami bisa segera berjualan di sini," kata anggota PKL Pasar Seni Saparudin, Sabtu lalu (17/8).
Ia mengaku, sejak gempa Agustus tahun lalu, pihaknya belum bisa maksimal berjualan. Tumpukan sisa meterial membuat kondisi pasar seni menjadi kotor. Sehingga tidak banyak wisawatan yang mau datang ke lokasi tersebut.
Di pasar seni, terdapat sekitar 14 PKL yang berjualan. Akibat pasar seni yang tidak terurus, ada PKL yang memaksa berjualan di trotoar jalan dekat dengan roi pantai. Setelah dilarang oleh pemkab, PKL kembali ke area pasar seni.
Sayangnya para PKL ini diganggu oleh kabar perihal pemanfaatan pasar seni sebagai ruang tunggu penumpang. Menurut Saparudin, jika langkah itu dilakukan, maka pihaknya akan kehilangan pekerjaan, karena tidak ada lokasi lain untuk berjualan.
Untuk diketahui, area pasar seni sudah lama digunakan para PKL ini. Mereka tidak hanya berasal dari KLU, tapi juga dari Kota Mataram dan Lombok Tengah. Mereka umumnya berjualan dari jam 5 sore hingga tengah malam.
Di pagi hari, area pasar seni sudah kembali bersih seperti sedia kala. Para PKL ini menyewa tukang sapu yang bertugas membersihkan pasar seni.
Dari aktivitas berjualan di pasar seni ini, para PKL meraup keuntungan beragam. Ada yang memperoleh keuntungan Rp 10 juta sebulan dari berjualan jus saja.
"Kita berharap difasilitasi berjualan, tidak masalah kalau kami harus memberi kontribusi, asal aman dan jelas" imbuhnya.
Anggota PKL lainnya Ketut Merta menegaskan, para PKL mengumpulkan iuran untuk membersihkan material bangunan merupakan keputusan bersama. Dalam rapat diputuskan per orang dibebankan Rp 5 juta.
Merta menyebut, material tersebut diangkut ke belakang Hotel Sunset menggunakan pikup. Lokasi buangan ini sudah mendapat persetujuan manajemen hotel. Begitu pula penggunaan pikup di Gili Trawangan sudah dikomunikasikan dengan pemdes setempat.
"Selain iuran dari kami, ada juga sumbangan dari wisatawan, dan pemilik toko dekat pasar seni," pungkasnya. (fer/r4) Editor : Administrator