LombokPost—Kesepakatan gencatan senjata antara militer Hamas Palestina dan Israel akhirnya terwujud pada Rabu (22/11).
Kedua belah pihak dilaporkan media Israel, Kodkod News menyepakati gencatan senjata selama empat hari, terhitung sejak Kamis (23/11). Hamas juga menyetujui, gencatan senjata ini akan diikuti pembebasan 50 sandera mereka dari kalangan perempuan dan anak-anak yang merupakan warga Israel.
Media Israel lainnya, Walla memberitakan jika gencatan senjata yang disepakati masing-masing pihak juga termasuk pengosongan langit Gaza di Palestina dari pesawat udara selama enam jam setiap harinya, mulai pukul 10.00 hingga 16.00 waktu setempat.
Negoisasi langsung dilakukan Yahya Sinwar selaku ketua umum Hamas di Gaza dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang terjadi selama berhari-hari.
Sementara itu, pihak Hamas menyatakan perjanjian gencatan senjata ini dimediasi oleh Qatar dan Mesir.
“Setelah negosiasi yang sulit dan rumit, kami mengumumkan bahwa kami telah mencapai kesepakatan gencatan senjata kemanusiaan dengan upaya Qatar dan Mesir,” tulis pernyataan resmi Hamas.
Berdasarkan perjanjian, akan ada gencatan senjata oleh kedua belah pihak dan penghentian semua tindakan militer oleh tentara penjajah di seluruh wilayah Jalur Gaza. Berdasarkan perjanjian tersebut, pergerakan kendaraan militer penjajah yang memasuki Jalur Gaza juga akan dihentikan.
Ratusan truk bantuan kemanusiaan, bantuan, medis dan bahan bakar akan dibawa ke seluruh wilayah Jalur Gaza.
“50 sandera perempuan dan anak-anak dari warga Israel akan dibebaskan dengan imbalan pembebasan 150 perempuan dan anak-anak rakyat Palestina di penjara penjajah,” tulis Hamas.
Berdasarkan perjanjian, lalu lintas udara di wilayah selatan akan dihentikan selama masa gencatan senjata selama 6 jam sehari.
Disampaikan juga oleh Hamas, selama masa gencatan senjata, Israel berkomitmen tidak menyerang atau menangkap siapa pun di seluruh wilayah Jalur Gaza.
Berdasarkan perjanjian gencatan senjata, kebebasan pergerakan orang dari utara ke selatan di sepanjang Jalan Shalahuddin dijamin.
“Ketentuan perjanjian dirumuskan sesuai dengan visi perlawanan dan faktor-faktor penentunya, yang bertujuan untuk melayani rakyat kami dan memperkuat ketahanan mereka dalam menghadapi agresi,” sambung Hamas kembali dalam pernyataannya.
Hamas juga menambahkan, kelompok perlawanan akan mengatur perundingan dari posisi yang stabil dan kuat di lapangan, meskipun terdapat upaya penjajah untuk memperpanjang dan menunda perundingan.
"Meskipun kami mengumumkan tercapainya perjanjian gencatan senjata, kami menegaskan bahwa kami akan tetap bertindak dan batalion kami akan tetap waspada untuk membela rakyat kami!," tegas Hamas.(ksj)
Editor : Kimda Farida