Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Makin Meresahkan, Presiden Prancis Sampai Larang Medsos untuk Anak di Bawah 15 Tahun Dan Siap Perangi Konten Berbahaya

Alfian Yusni • Kamis, 12 Juni 2025 | 05:54 WIB
Langkah ini juga menegaskan komitmen Prancis dalam melindungi anak-anak dari konten berbahaya di media sosial. (Foto-foto: istimewa)
Langkah ini juga menegaskan komitmen Prancis dalam melindungi anak-anak dari konten berbahaya di media sosial. (Foto-foto: istimewa)

LombokPost - Presiden Prancis Emmanuel Macron bikin gebrakan! Ia menyatakan bakal melarang media sosial untuk anak di bawah 15 tahun dan memperketat akses pembelian pisau secara daring.

Langkah tegas ini diambil usai peristiwa tragis penusukan guru oleh pelajar 14 tahun di Nogent, Prancis timur.

Dalam unggahan di X (dulu Twitter), Macron menegaskan: “Saya melarang media sosial untuk anak-anak di bawah 15 tahun. Platform harus bisa verifikasi usia. Saatnya bertindak.” Pernyataan itu langsung bikin geger Eropa.

Langkah ini juga menegaskan komitmen Prancis dalam melindungi anak-anak dari konten berbahaya di media sosial.

Presiden Prancis bahkan menyebut negaranya tidak akan menunggu Uni Eropa terlalu lama untuk mengatur soal batasan waktu dan akses anak di dunia digital.

“Kalau Eropa lambat, Prancis akan bergerak sendiri beberapa bulan ke depan,” tegas Macron saat wawancara dengan France 2.

Presiden Prancis bahkan menyebut negaranya tidak akan menunggu Uni Eropa terlalu lama untuk mengatur soal batasan waktu dan akses anak di dunia digital.
Presiden Prancis bahkan menyebut negaranya tidak akan menunggu Uni Eropa terlalu lama untuk mengatur soal batasan waktu dan akses anak di dunia digital.

Selain larangan media sosial, Macron juga mengumumkan rencana verifikasi usia untuk situs yang menjual pisau, mirip dengan sistem yang sudah diberlakukan untuk situs dewasa.

“Anak 15 tahun tidak boleh lagi bisa beli pisau online. Kami siapkan sanksi dan larangan besar-besaran,” kata Macron.

Pemerintah Prancis makin serius menyikapi tren kekerasan di kalangan pelajar. Sejak Maret, polisi mulai razia acak di sekolah-sekolah untuk menyita senjata tajam yang disembunyikan dalam tas.

 

Langkah pelarangan media sosial ini sontak memantik debat. Sebagian pihak mendukung penuh, tetapi sejumlah peneliti memperingatkan dampak buruk dari pelarangan total.

Mhairi Aitken, peneliti etika digital di Alan Turing Institute, mengatakan bahwa pelarangan bisa membuat anak-anak "membayar harga" atas kesalahan sistem.

Ia menilai, daripada melarang, sebaiknya media sosial aman untuk anak dikembangkan lewat sistem moderasi dan desain algoritma yang bertanggung jawab.

Senada, ilmuwan komputer dari University of Portsmouth, Elizabeth Clutton, justru mendukung pelarangan dengan alasan krisis kesehatan mental yang dialami anak akibat tekanan dari media sosial.

"Kalau aturan dibuat ketat, tekanan teman sebaya juga berkurang. Ini membantu orang tua,” tegas Clutton.

Saat dunia menghadapi serbuan AI dan teknologi digital, Macron ingin Prancis jadi pelopor perlindungan anak dari konten berbahaya.

Ia tidak hanya mendorong pembatasan akses digital, tetapi juga memperkuat literasi digital anak-anak dengan keterampilan berpikir kritis, etika digital, dan kesadaran risiko AI. (***)

Editor : Alfian Yusni
#konten berbahaya #media sosial #presiden prancis #Emmanuel Macron