Perang Iran vs Israel Pecah, Ratusan Drone Maut Dikirim ke Tel Aviv!
Lalu Mohammad Zaenudin• Jumat, 13 Juni 2025 | 13:56 WIB
PERANG PECAH: Israel gempur fasilitas nuklir Iran.
Israel Bombardir Iran, 100 Drone Dibalas ke Tel Aviv: Eskalasi Timur Tengah 2025
Perang Balasan yang Membakar Timur Tengah
“Rezim Zionis telah menetapkan nasib yang pahit dan menyakitkan bagi dirinya sendiri.” – Ayatollah Ali Khamenei
Api yang Sudah Lama Menyala, Kini Membakar
Jumat dini hari, 13 Juni 2025. Langit Natanz yang biasanya sunyi berubah mencekam. Sirene melolong, ledakan memecah keheningan. Dalam waktu kurang dari lima jam, lebih dari 200 jet tempur Israel melancarkan gelombang serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak konflik 2021.
Misi ini diberi nama “Rising Lion”—klaim Israel sebagai “serangan preventif” untuk menghentikan ancaman nuklir Iran. Tapi yang terjadi bukan sekadar penghancuran fasilitas. Serangan ini menyasar jantung kekuatan militer dan sains Iran: laboratorium nuklir, pabrik rudal, hingga asrama militer di Teheran dan Qom.
Video amatir dari warga Iran menunjukkan kepulan asap hitam dari Natanz dan Tabriz. Di Teheran, listrik padam beberapa jam. Rumah sakit darurat didirikan di sekitar lokasi. Tak butuh waktu lama, nama-nama tokoh penting pun diumumkan: Hossein Salami, Komandan IRGC. Mohammad Bagheri, Kepala Staf Angkatan Bersenjata. Gholam Ali Rashid, pemikir militer senior. Mereka tewas.
Balasan Iran: 100 Drone untuk Tel Aviv
Tak sampai 6 jam, Iran membalas. Sekitar 100 drone dan rudal jelajah diluncurkan ke arah Israel. Beberapa jatuh di Negev, sisanya dicegat oleh Iron Dome dan David’s Sling. Bandara Ben Gurion ditutup. Status darurat nasional diumumkan.
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, muncul di televisi nasional. Dengan wajah dingin dan suara berat, ia menyatakan: Israel akan menerima hukuman berat. “Tangan kuat Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran tidak akan membiarkan mereka luput dari hukuman,” ujarnya, penuh tekad.
Dunia Bergetar, Harga Minyak Meroket
Di New York, PBB langsung menjadwalkan sidang darurat Dewan Keamanan. AS mengklaim tidak terlibat langsung, meski “mengetahui operasi Israel sebelumnya.” Negara-negara Teluk—Arab Saudi, Qatar, hingga Jepang—mengecam serangan. Inggris dan Jerman menyerukan “penahanan diri”.
Tapi pasar tak menunggu diplomasi. Harga minyak melonjak lebih dari 7 persen. Brent hampir tembus US$ 100 per barel. Bursa Tel Aviv ambruk. Jalur pelayaran di Selat Hormuz dikawal ketat. Dunia sedang menahan napas.
48 Jam Penentu: Perang Total atau Mundur?
Ketegangan ini belum selesai. Kelompok pro-Iran seperti Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, dan milisi di Irak belum bergerak, tapi telah menyatakan "siaga penuh".
Negosiasi nuklir AS–Iran di Oman yang dijadwalkan 17 Juni kini berada di ujung tanduk. Banyak yang bertanya: akankah ini menjadi awal dari perang besar di Timur Tengah?
Ini operasi militer biasa atau sudah bisa disebut perang besar?
Dengan lebih dari 100 target dihantam dan tokoh senior Iran tewas, ini sudah melampaui batas 'operasi terbatas'. Ini pembukaan dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Kenapa Natanz begitu penting? Natanz adalah jantung dari program pengayaan uranium Iran. Menyerangnya berarti mengguncang seluruh fondasi ambisi nuklir mereka.
Siapa yang paling dirugikan sejauh ini? Rakyat biasa. Di Teheran, anak-anak tidur di bunker. Di Tel Aviv, warga ketakutan dengan sirene udara. Dan dunia? Dunia sedang bermain api di tengah ladang minyak.