Senjata Pamungkas Iran yang Paling Ditakuti Israel, Negeri Zionis Dalam Bahaya!
Lalu Mohammad Zaenudin• Jumat, 13 Juni 2025 | 19:15 WIB
Ini 5 Aset Iran Paling Ditakuti Israel: Fattah, Shahed, hingga Proxy Quds Force
Ini 5 Aset Iran Paling Ditakuti Israel: Fattah, Shahed, hingga Proxy Quds Force
LombokPost - "Secara logika, dan saya tekankan 'logis,' Israel tidak seharusnya menyerang Iran,” kata Yossi Mekelberg, seorang konsultan senior di Chatham House seperti dikutip dari Al Jazeera. “Bahkan dengan dukungan AS, itu mungkin bukan ide yang bagus.”
Beberapa analis militer terkemuka yang kerap menjadi rujukan media internasional telah mengungkapkan kekhawatiran mereka terhadap portofolio senjata Iran—yang bukan hanya banyak, tapi juga semakin canggih dan strategis.
Nicholas Heras, Direktur Senior di New Lines Institute Washington DC, menyebut Iran menggunakan rudal balistik sebagai pengganti angkatan udara.
“Iran menggunakan rudal balistik sebagai pengganti pesawat tempur, dan kini mereka semakin canggih dalam memandu rudal ke target jauh,” katanya. Pernyataan ini menegaskan bahwa Iran tidak bermain di jalur konvensional. Mereka tidak bertarung di langit, tapi dari kejauhan—dan itulah yang membuatnya sulit ditebak.
Sementara itu, Jeffrey Lewis, Direktur Program Non-Proliferasi di Middlebury Institute, menyoroti soal kecepatan peluncuran.
“Waktu persiapan yang lebih singkat berarti rudal-rudal itu datang serempak, dan itu semakin menekan sistem pertahanan lawan,” katanya. Ia merujuk pada uji tembak Fattah-1 dan Kheybarshekan pada Oktober 2024 yang disebut mampu meluncur dalam waktu nyaris bersamaan dan menembus pertahanan Arrow 3 maupun David’s Sling.
Analis dari IISS London, Fabian Hinz, menambahkan bahwa rudal seperti Fattah dan Kheybarshekan bukan hanya cepat, tapi juga akurat.
“Ini adalah rudal-rudal paling canggih milik Iran yang mampu mencapai Israel. Akurasinya hanya meleset sekitar 20 meter. Itu sudah cukup untuk menghantam pangkalan militer,” tegasnya. Dengan jangkauan 1.400 km, rudal-rudal ini dapat menghantam Tel Aviv atau Dimona tanpa harus memindahkan pangkalan peluncuran.
Namun kekhawatiran paling tajam datang dari skenario serangan multi-domain.
Malcolm Davis, analis senior dari Australian Strategic Policy Institute, memperkirakan bahwa Iran belum mengeluarkan serangan maksimalnya.
“Jika Iran meluncurkan serangan yang jauh lebih besar lagi… saya kira kita belum melihat skala serangan maksimalnya,” ucapnya.
Ia menyebut kemungkinan kombinasi antara rudal balistik, rudal jelajah, dan drone kamikaze dalam satu waktu—sebuah skenario “saturasi” yang hampir mustahil dihadang sepenuhnya.
Hal senada diungkapkan Ohad Hamo, komentator militer Channel 12 Israel. Ia fokus pada kemampuan Fattah, rudal hipersonik kebanggaan Iran yang disebut-sebut terbang dengan kecepatan Mach 13.
“Tidak ada sistem pertahanan rudal yang bisa menghantamnya,” katanya tegas. Dengan manuver sudut tajam di fase terminal, Fattah dianggap mampu mengecoh radar dan kill-vehicle Israel yang sudah canggih sekalipun.
Semua kutipan ini, jika dirajut, memperlihatkan benang merah yang jelas.
Para analis sepakat bahwa ancaman Iran tidak terletak pada satu senjata saja, tapi pada kemampuan menggabungkan berbagai sistem senjata—rudal hipersonik, drone kamikaze, rudal jelajah, dan jaringan milisi proxy—dalam satu koordinasi strategis.
Rudal berbahan bakar padat seperti Fattah dan Kheybarshekan bisa diluncurkan cepat dan dalam jumlah besar.
Kombinasi dengan drone Shahed dan Mohajer membuat sistem Iron Dome kewalahan. Tambahkan lagi roket Hizbullah dari utara, serangan Houthi dari Yaman selatan, dan sabotase diam-diam oleh pasukan elit seperti Saberin Brigade, maka yang dihadapi Israel bukan lagi perang satu front, melainkan “perang 360 derajat”.
Nicholas Heras bahkan menyebut paradigma ini sebagai “angkatan udara sekali pakai”—rudal dan drone yang bukan hanya bisa menggantikan jet, tapi bahkan membuat jet tidak relevan dalam fase pertama konflik.
Israel nampaknya tahu bahwa skenario ini bukan sekadar teori. Dalam latihan dan uji tembak, Iran terus mensimulasikan serangan lintas domain dan lintas waktu. Karena itu, pertanyaan bukan lagi mampukah serangan itu terjadi, melainkan kapan dan bagaimana Israel akan bertahan.
Dan seperti yang dikatakan Malcolm Davis: "Kita belum melihat skala maksimum Iran—dan itu justru yang paling menakutkan.”
1. Rudal Balistik & Hipersonik
Fattah & Fattah-2 (Mach 15): Hipersonik, bisa bermanuver di ketinggian rendah. Sulit dibidik sistem antirudal. Iran mengklaim “tak terbendung”.
Sejjil-2 & Khorramshahr-4: IRBM berbahan bakar padat, jangkauan > 2.000 km. Target seperti Dimona & Tel Aviv dalam radius.
Kheibar Shekan: Daya rusak besar, manuver re-entry rumitkan intercept.
Masalah utama: Arrow-3 butuh presisi tinggi. Rudal Iran datang terlalu cepat.
2. Armada Drone Gerombolan
Shahed-136/238: Drone kamikaze murah, bisa dikerahkan ratusan. Sulit dibedakan radar.
Mohajer-10: Jangkauan 2.000 km, bawa bom luncur dan rudal. Bisa loiter lama dan pilih target secara fleksibel.
Kengerian Israel: Iron Dome bisa overload jika swarm dikombinasikan dengan serangan roket dan rudal balistik.
3. Rudal Jelajah & Anti-Kapal
Ghadr-380: Rudal jelajah bawah tanah, bisa menyasar kapal selam atau pangkalan laut Israel.
Zulfiqar Basir: Balistik anti-kapal, kecepatan Mach 6. Kapal induk pun bisa jadi target dalam hitungan detik.
Posisi rawan: Laut Merah dan Mediterania Timur kini bukan tempat aman.
4. Sistem Pertahanan Udara & A2/AD
Bavar-373: Setara S-300/S-400, jarak jangkau 300 km, radar 450 km. Melindungi situs vital seperti Natanz dan Fordow.
Tambahan seperti Khordad-15 dan Sayyad-4B menambah lapisan kompleks.
Efek langsung: Membuat serangan udara Israel lebih mahal, lambat, dan rawan gagal.
5. Pasukan Elit & Proxy Force
IRGC Quds Force: Koordinator Hizbullah, Houthi, hingga milisi Syiah Irak. Bisa aktifkan 3 front sekaligus (Lebanon–Yaman–Gaza).
Saberin Brigade: Komando elite. Ahli sabotase, infiltrasi, dan operasi kilat.
Ancaman serius: Mampu serang titik-titik lunak dalam negeri Israel seperti baterai Iron Dome di garis depan.
Kenapa Semua Ini Menakutkan?
Saturasi & kecepatan Iran mendesain serangan simultan dari segala lini untuk membanjiri pertahanan Israel dalam satu waktu.
Multi-front via proxy Quds Force bisa mendorong Hizbullah tembakkan 150.000 roket dari Lebanon, Houthi gempur Eilat, sambil sendiri kirim rudal jarak jauh.
Maritime denial Anti-ship dan cruise force bisa memaksa AL Israel menjauh dari kawasan strategis, seperti Hormuz dan Laut Merah.
Pertahanan berlapis dalam negeri Kombo Bavar-373 + radar jarak jauh bikin Israel tak mudah menjangkau target kunci Iran secara langsung.
---
Kalau semua ini digelar sekaligus, bisa nembus Iron Dome? Sangat mungkin. Terutama jika Iran menyerang dengan pola berlapis: rudal balistik + drone swarm + tembakan roket dari proxy.
Tapi kenapa belum dikerahkan maksimal? Karena Iran tahu sekali: setelah fase “buka kotak senjata”, tak ada jalan mundur. Tapi mereka juga ingin jaga kartu pamungkas sebagai deterrent, bukan konsumsi harian.
Bisa dicegah sekutu Israel? Bisa. Tapi butuh pengerahan cepat Arrow-4, Iron Beam, dan koordinasi lintas negara. Israel tak bisa menang sendirian di skema ini.
Iran tidak harus menandingi kekuatan udara Israel pesawat demi pesawat. Mereka tinggal melemparkan cukup banyak “kombinasi murah mematikan” ke udara dan laut—cukup untuk membuat Tel Aviv kehilangan waktu, arah, dan napas.
Dan ketika perang bergeser dari senjata besar ke serangan simultan berbiaya rendah namun sulit dihentikan, pertanyaannya bukan lagi siapa paling kuat. Tapi siapa yang paling siap... saat semuanya dikerahkan dalam satu malam.