LombokPost - Turnamen Piala Dunia Antarklub 2025 resmi bergulir, tapi bukannya hanya sorak-sorai, stadion-stadion di Amerika Serikat justru dibayangi suasana tegang akibat razia imigrasi dan kebijakan keras Presiden Donald Trump.
Turnamen yang dibuka di Hard Rock Stadium, Miami, Minggu (15/6), mempertemukan Inter Miami vs Al Ahly.
Namun di balik megahnya panggung sepak bola, publik dunia dihadapkan pada bayang-bayang deportasi massal.
Baca Juga: Resmi! Gattuso Gantikan Spalletti, Italia Berjudi demi Tiket Piala Dunia 2026
Petugas dari ICE (Immigration and Customs Enforcement) dan CBP (Customs and Border Protection) tampak berjaga ketat di berbagai titik stadion.
Piala Dunia Antarklub 2025 kali ini diikuti 32 klub elite dunia, termasuk Manchester City, Paris Saint-Germain, dan Al Ahly.
Namun sorotan publik lebih tertuju pada langkah pemerintahan Trump yang menurunkan aparat federal ke stadion.
Baca Juga: Digilas PSG 4-0! Atletico Madrid Hancur Lebur di Piala Dunia Antarklub, Vitinha Mengamuk
JD Vance, Wakil Presiden AS, menyatakan penonton asing tetap boleh hadir, "tapi setelah pertandingan selesai, mereka harus pulang ke negara masing-masing."
Kebijakan ini menuai gelombang protes dan aksi unjuk rasa di berbagai kota besar seperti Los Angeles dan New York.
Media seperti The Guardian, AP, dan AS USA melaporkan bahwa razia imigrasi oleh ICE disinyalir akan berlangsung sepanjang turnamen hingga 13 Juli.
Baca Juga: Musiala Gila! Bayern Munchen Bantai Auckland City 10-0 di Piala Dunia Antarklub 2025
Bahkan unggahan CBP yang menyebut petugas akan "diberi pakaian taktis" sempat viral dan memicu ketakutan, sebelum akhirnya dihapus.
Tak hanya suporter, aktivis pro-imigran, mahasiswa asing, hingga pekerja stadion turut waswas.
Sejumlah fan zone dibatalkan karena ancaman intimidasi, dan klub Angel City FC dari NWSL merespons dengan kaos bertuliskan “Immigrant City Football Club”.
Presiden FIFA, Gianni Infantino, menyatakan pihaknya tidak punya kekhawatiran soal keamanan, dan menegaskan bahwa keselamatan penonton tetap jadi prioritas FIFA.
“Kami bekerja erat dengan otoritas lokal dan federal,” ucapnya diplomatis.
Baca Juga: Formula E Jakarta 2025 Pecah! Tiket Ludes, Dewa 19 Tampil, Sirkuit Ancol Full Siap
Meski begitu, media asing menyebut atmosfer Piala Dunia Antarklub 2025 sebagai “dress rehearsal yang menegangkan” jelang Piala Dunia FIFA 2026.
Pasalnya, Executive Order 14159 dan Proklamasi 10949 dari Trump dinilai membatasi masuknya warga dari 12 negara, termasuk sejumlah fan dari Timur Tengah dan Afrika.
Wali Kota Miami-Dade, Daniella Levine Cava, berupaya menenangkan publik. Menurutnya, kehadiran aparat federal hanya bagian dari sistem keamanan, bukan untuk melakukan penggerebekan atau deportasi massal.
Baca Juga: Pecco Dibikin Drop! Marc Marquez Diduga Main Kotor, Dani Pedrosa: Keluar Saja Sebelum Jadi Korban
Sementara itu, Lionel Messi menjadi sorotan saat memperkuat Inter Miami di laga pembuka.
Tapi bahkan pesona sang mega bintang tak mampu meredam kecemasan publik soal kebijakan imigrasi Trump yang menyelimuti gelaran olahraga global ini.
Final turnamen akan digelar di MetLife Stadium, New Jersey, pada 13 Juli. Gubernur negara bagian itu bahkan sudah mengundang Presiden Trump untuk hadir langsung. Namun hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari Gedung Putih.
Piala Dunia Antarklub 2025, yang sejatinya ingin menyatukan dunia lewat sepak bola, justru menunjukkan bagaimana kebijakan politik dalam negeri AS bisa menciptakan perpecahan bahkan sebelum peluit ditiup. (***)
Editor : Alfian Yusni